Babad Cijulang

admin 2

0 Comment

Link

Babad Cijulang – ,- Naskah kuno Babad Cijulang menceritakan tentang awal mula penyebaran agama Islam di wilayah Pangandaran. Dalam babad ini kita bisa melihat secara detail awal mula peradaban Islam di pesisir selatan Pulau Jawa.

Menurut penelitian luar negeri yang dilakukan para budayawan Indonesia, naskah kuno ini konon berusia lebih dari 100 tahun. Faktanya, kertas tersebut sudah sangat tua dan kuno sehingga kualitas kertas dan lemnya menurun.

Babad Cijulang

Meskipun kualitas naskah mulai menurun, namun secara umum kondisi terbaca masih baik. Oleh karena itu, banyak peneliti naskah kuno yang memodifikasi teks dan menafsirkan kisah Jijulang. Prof salah satu penulis ahli yang melakukan hal ini. Eka adalah Djati.

Naskah Kuno Yang Ada Di Pangandaran

Selain pemandangannya yang indah, sejarah Jijulang juga dilestarikan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah membaca ulang setiap tahun.

Hingga kini, masyarakat Pangandaran masih jarang mengetahui keberadaan sejarah Jijulang. Padahal isi cerita dalam naskah kuno sebagian besar menunjuk pada awal mula peradaban manusia di Pangandaran.

Babad Jijulang bercerita tentang penyebaran Islam di Pangandaran. Naskah kuno ini menceritakan tentang orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Pangandaran bernama Aki Ged dan Nini Ged.

Mereka adalah laki-laki dan perempuan yang berjuang melawan kegelapan di Pangandaran. Ada yang menganggap Aki Gede dan Nini Gede adalah orang sakti.

Cijulang Ngadeg Ku Anjeun

Mereka bertarung dengan mitra dan aliansi yang menggelapkan keimanan masyarakat Pangandaran. Keduanya rutin datang untuk belajar Islam.

Jika dicermati, cerita dalam babad Jijulang mempunyai tingkat objektivitas yang baik. Pasalnya bagi masyarakat Pangandaran, sebagian besar ulama terkenal di Pangandaran berasal dari daerah Tonggoh (Sijulang dan sekitarnya).

Jika dibandingkan dengan saat ini, berapa banyak tokoh Islam yang berasal dari sana? Hampir seluruh peminat Pangandaran berasal dari dan sekitar wilayah Jijulang.

Menurut Eric K. Yudhan, Presiden Lembaga Adat Pangandaran, naskah kuno Sejarah Jijulang menggambarkan perkembangan peradaban manusia dan Islam di Pangandaran, serta kisah para nabi.

BACA JUGA  Contoh Gambar Iklan Pemberitahuan

Sepotong Cerita Satwa Badak Dari Jawa.

Kisahnya dimulai dari Nabi Adam dan rasulnya, hingga muncul beberapa tokoh Islam penting di nusantara, salah satunya di Jijulang, provinsi Pangandaran.

Namun berkat kesabaran dan waktu serta rahmat Tuhan Yang Maha Esa, semua perjuangan dapat berhasil.

Dalam sejarah Jijulang, Kerajaan Islam Galuh merupakan bagian dari perkembangan Islam yang semakin hari semakin maju di Jawa Barat.

Meski begitu, menurut Eric K. Yudha, naskah kuno Sijulang dibaca ulang setiap tahunnya untuk melestarikan warisan budaya berharga nenek moyang Pangandaran.

Contoh Carita Babad Sunda Yang Singkat Dan Menarik

Biasanya tradisi pembacaan cerita Ciculang ini berlangsung setiap bulan Muharram. Tujuannya untuk memudahkan umat Islam mengingat datangnya bulan Muharram.

Nyanyian tersebut dilantunkan dengan suara yang mirip dengan vavakan Sunda. Tradisi menyanyikan Babad Jijulang akan terus berlanjut selamanya.

Hal ini agar generasi muda dapat mempelajari dan melestarikan peninggalan nenek moyang masyarakat Pangandaran yang telah berkembang sejak zaman dahulu.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya, Eric K. Yudha kerap mengajak generasi muda untuk mempelajari sejarah Jijulang dengan baik.

Eyang Jagasatru Cijulang, Orang Sakti Penjaga Pantai Batukaras

Hal ini dilakukan agar naskah kuno sejarah Jijulang tidak hilang dan dilupakan oleh generasi penerus bangsa. (Erik/R3/HR-Online/redaksi: Eva) CIJULANG – “Cijulang Ngadeg Ku Apao” adalah ungkapan orang tua tua yang kenyataan kini mulai seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Kisah nenek moyang orang Sijulang berasal dari daerah Kedungrandu wilayah Banyumas Jawa Tengah bernama Nini Gede Aki Gede bersama keempat saudaranya. Pertama, Sembah Jangpati (Aturan Siamis), Sembah Jangraga (Aturan Garang Simpang), Sembah Jangsinga (Aturan Panjalu) dan keempat Sembah Janglangas (Aturan Sijulang), semuanya putra Sunan Raja Mandala,

Menurut tokoh budayawan Cijukang Tatang, Nini Gede Aki Gede, ia mempunyai seorang putri cantik jelita yang menjadi buah hati penguasa (raja) Banyumas Kanjeng Sinuhu. Namun saat itu Nini Gede Aki Gede menolak disodorkan oleh anaknya Kanjeng Sinuhun, sehingga Nini Gede Aki Gede dan keluarganya diusir dari tanah Banyumas.

BACA JUGA  Tabel 2.3 Peraturan Dalam Berbagai Kehidupan

Belakangan, keluarga Nini Gede Aki Gede pindah ke Rojava bersama keluarga dan kerabatnya. Kemudian mereka menyeberangi sungai (sekarang disebut Hanjatan Cimanganti) dan tinggal di suatu daerah yang dibangun rumah, jaminan dan surah/masjid (disebut Padepokan Karasanbaya).

E Book Basa Sunda Smp Kelas 7

Seiring berjalannya waktu, Nini Gede Aki Gede berpikir bahwa dia takut Kangjin Sinu akan mengetahui ketidakmurniannya. Maka ia memerintahkan anak pertamanya, Prabu Lawangjagang, untuk tinggal di sebuah padepokan yang bernama Kawasan. Sementara itu, dia dan anggota keluarganya yang lain melanjutkan perjalanan ke barat lalu ke selatan. Di suatu tempat ia mempunyai waktu untuk beristirahat dan sekarang tempat peristirahatan itu disebut Sikaso. Dia membangun sebuah rumah di sana (disebut Sukalemba). Seorang anak bernama Mangun Naha Mana Manggala ditelantarkan di Sukalemba. Kemudian Nini Gede Aki Gede melanjutkan perjalanannya.

Di Bojonglekor, ia mengangkat seorang anak laki-laki bernama Sang Prabu Mangun Sikar dan menjadikannya berumah tangga. Kemudian Bubulak Karangsimpang dengan rumah dan hipotek. Kemudian ia pergi lagi hingga ia membangun sebuah rumah, mangkok, dan sumur di tempat baru bernama daerah Binangun.

Nini Gede Aki Gede melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Binangun untuk mencari tanah baru sebagai tempat di Nagaravati, ia memutuskan untuk kembali ke Binangun karena tidak ada tanah kosong.

Dalam perjalanannya, Nini Gede dan Aki Gede kemudian melanjutkan perjalanannya ke Bojongmalang, Sarakan, Cikadu, Cikawao, Cikagenah, Cipatahunan dan Gurago. Di Gurago, Nini Gede mengangkat Aki Gede sebagai pemimpin, khalifah, dan emirnya. Setelah itu dia berangkat ke Sigugur.

Objek Cagar Budaya Di Pangandaran Belum Terdaftar

Dikisahkan juga bahwa beberapa tahun kemudian, Nini Gede Aki Gede dipanggil oleh Raja Sukapura Dolam Tamala untuk menuntut anaknya dinikahkan, tuntutan yang datang sebanyak tujuh kali. Pada akhirnya permintaan tersebut dikabulkan dengan memberikan tanah bernama Samba Ragasang kepada mantan mertuanya, dan ia diperbolehkan membawa sembilan orang Putra ke dalam keluarga tersebut.

BACA JUGA  Kunci Jawaban Prakarya Kelas 9 Halaman 12

Sembah Ragasang sekeluarga mengikuti jejak aliran air ke arah barat hingga mencapai Panjalu dan berangkat ke Ciamis menemui Jang Pati, kakak ibunya, lalu ke barat menuju hutan. Pemujaan Ragadimulya diadakan di sana. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke selatan menuju Mandala, Karangnini dan Jawawa.

Jadi (Kukkrukan strain sasakala) disebut Jijulang, kalau ditemukan, karena Nini Gede Aki Gede bolak-balik seperti air yang berputar-putar di muara sungai. (Ciri) tandanya sekarang Kai Mulang (di Jijulang). ditangkap oleh air laut di sekitar Sungai Haurseah di selatan ” Abah Kundil adalah keluarga Tatang.

Nantinya, sungai ini akan menjadi tumpuan dan sumber kehidupan masyarakat lokal seperti peradaban Sungai Nil, Tigris, dan Efrat di Timur Tengah. Sungai Cijulang melindungi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pertanian, hortikultura, perikanan, transportasi, peternakan dan tentunya pariwisata.

Bahan Ajar Kelas 7 Semester Genap Smp 5 (1)_compressed (1)

Segala arah mengarah ke pusat pendukung yaitu Sungai Cijulang yang kini terkenal dengan wisata Cukang Taneuh (Sumber Air Hijau). Lalu lintas udara di Nusawiru mulai ditata untuk pengembangan bandara internasional kedepannya terbukti dengan mulai dibangunnya pembangunan di Cijulang.

“Dengan demikian, jelas apa yang diutarakan orang tua tadi mulai terwujud melalui Uga dalam cerita Babad Jijulang,” kata Tatang. (Calbon).

Berita banjar berita budaya berita parlemen jendela berita desa olah raga pendidikan pilihan jalan XIX Siyar Berita Tasik Berita Tasiknews wisata kuliner

Hotel di cijulang, babad, babad sumenep, curug cijulang, sancang cijulang, wingko babad, cijulang ciamis, pesantren kalangsari cijulang, wisata cijulang, cijulang, cijulang bogor, hotel di batu karas cijulang

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment