crossorigin="anonymous"> Bagaimana Kondisi Kebudayaan Penduduk Nusantara Sebelum Kebudayaan India Datang - Edukasinewss.com

Bagaimana Kondisi Kebudayaan Penduduk Nusantara Sebelum Kebudayaan India Datang

Bagaimana Kondisi Kebudayaan Penduduk Nusantara Sebelum Kebudayaan India Datang – Teori Keindonesiaan – Penyebaran budaya India di Indonesia diperkirakan pada masa awal Masehi ketika perdagangan antara India dan Nusantara semakin intensif. Tindakan Indianisasi sendiri masih menimbulkan berbagai kontroversi. Hal ini menimbulkan perdebatan tentang kelompok-kelompok di Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya India. Di bawah ini akan dijelaskan teori masuk dan berkembangnya kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.

Dinamakan teori kolonisasi karena teori ini mencoba menjelaskan proses masuk dan berkembangnya agama dan budaya India (Hindu-Buddha) di Indonesia oleh bangsa India dalam penyebaran pengaruh budayanya di Indonesia dengan menekankan peran aktif mereka. Berdasarkan teori kolonial ini, diasumsikan bahwa perilaku bangsa Indonesia sendiri sangat pasif. Artinya mereka (orang Indonesia) dipengaruhi oleh budaya India tanpa sedikit pun budaya.

Bagaimana Kondisi Kebudayaan Penduduk Nusantara Sebelum Kebudayaan India Datang

Jadi teori kolonial ini menunjukkan bahwa orang di Indonesia adalah orang yang masih “telanjang”, belum berbudaya. Oleh karena itu, dengan datangnya orang-orang dari India, masyarakat Indonesia mulai mengadopsi budayanya sendiri. Budaya yang tercipta adalah budaya yang langsung diambil alih dari India, tanpa ada budaya dan keharmonisan. Teori kolonial ini berpendapat bahwa budaya masyarakat Indonesia adalah budaya yang sama dengan budaya India. Teori kolonial dibagi menjadi beberapa hipotesis yaitu;

Sejarah Nusantara Pada Era Kerajaan Hindu Buddha

Hipotesis Weiss dikemukakan oleh Nicholas Johannes Cromm. NJ Krom mengacu pada kelompok sosial masyarakat Hindu di India, yaitu para Vaisya (pedagang). Menurut NG Croom, proses hubungan antara India dan Indonesia menjadi alasan adanya hubungan dagang antara kedua wilayah tersebut. Karena alasan bisnis, inilah alasan mengapa orang India datang ke Indonesia dan kebanyakan adalah pedagang (wasya).

Perdagangan antara India dan Indonesia pada waktu itu melalui jalur laut dengan teknologi bahari masih bergantung pada kondisi alam terutama adanya angin musim. Karena ketergantungan musim, pengiriman dari India ke Indonesia dan sebaliknya tidak dapat dilakukan kapan saja. Waspadai lalu lintas monsun selama perjalanan Anda. Oleh karena itu, para pedagang India yang datang ke Indonesia harus tinggal di sana selama beberapa waktu hingga musim hujan tiba, yang memungkinkan mereka untuk kembali ke India, proses yang seringkali memakan waktu berbulan-bulan.

Selama mereka (pedagang) tinggal di Indonesia dan menunggu musim hujan membawa mereka kembali ke India, maka kemungkinan perkawinan antara pedagang India dan perempuan setempat akan terjadi. Akibat perkawinan ini, pengaruh budaya India mulai menyebar dan meresap ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pendapat NJ Krom ini didasarkan pada hasil penelitiannya tentang proses Islamisasi di Indonesia. Dimana krom diamati oleh para pedagang dari Gujarat (India) dalam proses islamisasi.

Bisa jadi budaya India (Hindu Budha) masuk ke Indonesia pada awal era Kristen sama seperti ajaran Islam masuk ke Indonesia oleh para pedagang. Namun teori ini memiliki beberapa kelemahan yang perlu ditekankan, yaitu para pedagang yang tergolong dalam kasta Waisya tidak memiliki kemampuan untuk menguasai aksara Sanskerta dan Pallawa yang hanya dimiliki oleh kasta Brahmana.

Proses Akulturasi Kebudayaan Nusantara Dan Hindu Buddha

Jejak warisan budaya India dapat ditemukan pada prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Hindu-Buddha di Indonesia yang banyak di antaranya menggunakan aksara Sanskerta dan Pallawa. Pertanyaan yang kemudian muncul: mungkinkah para saudagar India (vasya) bisa membawa pengaruh budaya yang besar ke Indonesia, sedangkan di India (Hindu) budayanya sangat istimewa, hanya milik Brahmana?

Selain itu, terdapat kelemahan lain dari hipotesa ini, yaitu jika melihat peta persebaran kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia yang sebagian besar terletak di pedalaman. Maka timbul pertanyaan: jika pengaruh India (Hindu-Buddha) diberikan oleh para pedagang, mengapa kerajaan-kerajaan yang muncul di kepulauan Indonesia sebagian besar berada di pedalaman? Apakah tidak ada kegiatan antar pulau di wilayah pesisir? Sehingga tentunya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha akan lebih terkonsentrasi di wilayah pesisir.

Konsep ksatria menekankan peran raja dan prajurit yang menyebarkan budaya India (Hindu-Buddha) di Indonesia. Ada tiga pendapat mengenai proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu oleh golongan militan, yaitu:

C. C. Berg berpendapat bahwa kelompok yang turut menyebarkan budaya India (Hindu-Buddha) di Indonesia adalah para turis yang banyak di antaranya berasal dari golongan ksatria. Para pemberontak yang berasal dari India terlibat dalam konflik perebutan kekuasaan antar kelompok di Indonesia. Karena Indonesia dan India memiliki hubungan sebelum awal abad ke-1 Masehi, terutama dalam konteks perdagangan, kemungkinan kedua belah pihak juga terkait dalam urusan militer.

Kehidupan Masyarakat Indonesia Sebelum Dan Sesudah Masuk Kebudayaan Hindu

Diasumsikan bahwa Pemberontakan India memberikan bantuan militer (baik dalam bentuk tentara maupun senjata) untuk membantu salah satu faksi atau suku yang bertikai meraih kemenangan. Sebagai hadiah atas kemenangannya, dia menikahi putri seorang kepala suku Indian yang dia bantu. Hasil pernikahan ini memudahkan para martir ini menyebarkan budaya India (Hindu Budha) di keluarga yang mereka nikahi. Dengan demikian, agama Hindu Budha mulai masuk dan berkembang di masyarakat Indonesia.

Mukherjee mengatakan bahwa kelas prajurit (sapahis) dari India yang membawa pengaruh budaya India (Hindu-Buddha) ke pulau Indonesia. Prajurit ini datang dari India untuk mendirikan koloni baru di kepulauan Indonesia, dimana koloni ini kemudian menjadi kerajaan. Koloni yang dibangun menjadi kerajaan kemudian menjalin hubungan dagang dengan raja-raja India dan mendatangkan pengrajin dari India untuk membangun candi di kepulauan Indonesia.

Moines mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di kepulauan Indonesia pada awal abad ke-5 dengan keadaan yang terjadi di India pada abad yang sama. Ingatlah bahwa banyak kerajaan dihancurkan di India Selatan sekitar abad ke-5 Masehi. Akibat hancurnya kerajaan-kerajaan di India, beberapa keluarga kerajaan yang jelas-jelas berasal dari golongan ksatria berhasil melarikan diri ke pulau Indonesia. Mereka (para ksatria) kemudian menciptakan kerajaan-kerajaan baru di Nusantara.

Keuntungan dari hipotesis ksatria adalah bahwa semangat petualangan (penjelajahan, penjelajahan wilayah baru) umumnya merupakan milik ksatria (kerajaan) pada saat itu. Sementara itu, Berg, Moines dan Mukherjee menekankan peran pemberontak India dalam proses penetrasi budaya India ke Indonesia, dan kelemahan hipotesis Knight terletak pada poin-poin berikut:

Pdf) Serpihan Teori Arsitektur India Purba

1) Kaum Syuran tidak menguasai aksara Sansekerta dan Pallav karena aksara Sansekerta dan Pallav hanya dapat dipahami oleh para Brahmana.

2) Hipotesis ini mengarah pada kolonialisme India terhadap Indonesia. Oleh karena itu, orang India menyerbu dan menaklukkan wilayah kepulauan Indonesia. Jika benar wilayah Indonesia pernah menjadi wilayah taklukan raja-raja India, maka tentunya harus ada bukti tertulis yang dapat membuktikan keberadaan penaklukan tersebut.

Namun pencarian sumber berupa prasasti, baik di India maupun Indonesia, belum menemukan prasasti semacam itu. Meskipun terdapat prasasti Tanjore yang menyebutkan penaklukan kerajaan Sarwijaya oleh kerajaan Cola di India, namun sumber tersebut tidak dapat dijadikan bukti untuk mendukung hipotesis Knight. Ini karena penaklukan terjadi pada abad ke-11 M, sedangkan bukti yang diperlukan untuk mendukung hipotesis ksatria pasti ada pada tanggal yang lebih awal.

Budaya India (Hindu Budha) yang menyebar ke pulau-pulau di Indonesia dibawa oleh para Brahmana adalah suara hipotesis ini. Itu pendapat. C. J. C. Van Lever (J. C. Van Lever) mengemukakan dari pengamatannya terhadap berbagai peninggalan raja-raja India (Hindu-Buddha) di Nusantara, khususnya berupa prasasti yang menggunakan aksara Sanskerta dan Pallawa, cukup jelas bahwa itu adalah pengaruh para Brahmana… karena para Brahmana telah menguasai abjad Sanskerta dan Pallava sedangkan kelompok lain (Shura, Vais, Sudra) belum.

Teori Masuknya Islam Ke Indonesia: Sejarah Dan Penjelasannya

Karena hanya kaum Brahmana yang menguasai bahasa dan huruf, Van Lever menilai pasti bahwa mereka (Brahmana) berperan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Kepulauan. Namun, masalah yang muncul dari hipotesis ini adalah pertanyaan tentang bagaimana para Brahmana dapat mencapai pulau-pulau di Indonesia, yang dipisahkan oleh laut dari India. Ingatlah bahwa dalam tradisi kuno agama Hindu, ada larangan menyeberangi laut bagi para Brahmana, karena menyeberangi laut dapat menimbulkan noda dan kotoran, sehingga para Brahmana kehilangan kesuciannya sebagai kasta tertinggi agama Hindu. Masalah ini adalah kelemahan dari hipotesis Brahman ini.

Asumsi yang muncul sebelumnya (Visa, Ksatria dan Brahmana) atau teori kolonial di atas dikritik oleh FDK Bosch. Kritik Bosch adalah sebagai berikut:

Berdasarkan bukti-bukti silih bergantinya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di kepulauan Indonesia, tampaknya tidak ada bukti kuat adanya kolonialisme. Misalnya, tidak cukup bukti untuk hipotesis Wiese bahwa kerajaan Hindu-Buddha paling awal di Indonesia berada di daerah pesisir yang menjadi pusat kegiatan perdagangan, bukan kerajaan yang muncul di pedalaman.

Mengenai hipotesa Kesatria, prasasti-prasasti yang tertinggal di kepulauan Indonesia tampaknya tidak menunjukkan bahwa wilayah-wilayah atau kerajaan-kerajaan di kepulauan Indonesia pernah ditaklukkan atau dikuasai oleh ksatria-ksatria dari India.

Mengenal Teori Arus Balik, Sejarah, Dan Tokoh Pencetusnya

B.Pernyataan tentang adanya perkawinan keturunan India dengan pangeran pribumi Indonesia dan perkawinan golongan Visaya, harus dicari keturunannya di pulau-pulau Indonesia. Faktanya, tidak ada hal seperti itu.

C. Jika Anda melihat karya seni, Anda akan melihat perbedaan antara kuil yang dibangun dan kuil yang dibangun di India.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *