Bahasa Krama Nganti

administrator

0 Comment

Link

Bahasa Krama Nganti – Pulau Jawa terdiri dari 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Terdapat 29 kabupaten dan 6 kota di Jawa Tengah. Daerah dan kota yang berbeda mempunyai ciri khas tuturannya masing-masing, dan bahkan dalam satu wilayah/kota yang sama mungkin terdapat perbedaan bahasa/dialek. Kita juga bisa mengetahuinya sebagai aksen. Menurut KBBI, kata mengacu pada cara pengucapan kata (aksen) atau ciri khas suatu bahasa. Keberagaman yang dapat menjadi identitas suatu daerah melalui dialek atau logatnya perlu kita jaga dan lestarikan.

Dalam perkembangan ekonomi saat ini, ketika kaum muda pindah ke kota untuk bekerja di luar negeri, aksen kampungan di daerah mereka semakin tertinggal. Dia lebih suka menggunakan bahasa itu, bahasa Indonesia, dan bangga akan hal itu, namun sudah diubah. Ia tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, ia menggunakan bahasa Indonesia yang dianggapnya bahasa gaul. Jika Anda menggunakan bahasa gaul saat berbicara, aksen daerahnya hilang. Ia tidak akan familiar dengan aksen daerah yang sudah ia dengar sejak lahir. Selain itu, berubah atau hilangnya bahasa ibu ini juga tak lepas dari pengaruh ibu-ibu muda yang kini banyak mendidik anaknya di Indonesia.

Bahasa Krama Nganti

Kebudayaan sendiri merupakan seperangkat aturan atau norma yang dianut bersama oleh anggota suatu masyarakat, dan bila dilaksanakan akan menimbulkan perilaku yang dianggap dapat diterima dan diterima oleh seluruh anggota masyarakat (Haviland, 1999: 333). (1993:22-23) mengkaji Kridalakasana, yang sering disebut sebagai konsep bahasa ibu (bahasa asli atau bahasa ibu), yang diperoleh seseorang sejak dini melalui interaksi dengan anggota komunitas linguistiknya. , diperoleh secara intuitif. Oleh karena itu, dengan seorang anak yang menjadi anggota komunitas lokal, perolehan budaya lokal juga bersifat intuitif dan bersamaan dengan pembelajaran bahasa ibu.

BACA JUGA  Ranking 1 Paralel

Basa Krama Gunung

Kebudayaan Jawa meliputi tradisi, seni, pakaian, habitat, bahasa, dan lain-lain yang harus dilestarikan. Salah satu budaya Jawa yang wajib dilestarikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah bahasa ibu. Bahasa asli ini, atau bisa disebut krama jawa, sesuai dengan unduhan – Ugguh. Banyak anak saat ini tidak mengetahui perilaku Java berdasarkan unduhan atau tingkat bahasa.

Memuat bahasa atau tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa, yaitu bahasa Jawa ngoko (rendah) yang diucapkan kepada teman seumuran atau lebih muda, bahasa Jawa krama madiya berbicara kepada orang yang seumuran atau sederajat, dan bahasa Jawa krama inglis berbicara kepada orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. . Baik orang Jawa di pedesaan maupun perkotaan jarang melihat bahasa ini saat ini, karena mereka lebih suka menggunakan bahasa Indonesia. Padahal, menggunakan bahasa Jawa merupakan bagian dari budaya Jawa, atau lebih tepat atau sopan dan hormat menggunakannya, tergantung pangkat atau dengan siapa kita berbicara. Masyarakat perkotaan lebih suka menggunakan bahasa Jawa, mungkin karena sebagian dari mereka berasal dari luar Jawa, tapi mengapa masyarakat pedesaan tidak mau menggunakan bahasa Jawa? Misalnya kita sering melihat seorang ibu muda di desa menggendong anaknya dan memberinya makan, dia berkata “kakak, ayo makan yang banyak”, kita memperhatikan kata makan, jika ada ayam yang lewat, “kakak, ayamnya ada” makan semut.”, kucing lain berkata, “Kak, kucingnya juga.” makan “tua, kakek”, misalnya, “Adik, kakek makan jagung rebus”. Jika kita menggunakan Indonesia sebagai contoh, mereka akan mengatakan bahwa semua orang makan, entah itu anak-anak, kakek, ayam, atau kucing, semuanya sama. Tapi kalau kita pakai bahasa jawa beda, kalau kakek maksudnya kita lebih terhormat, kita pakai kata Dhahar, kalau adik-adiknya boleh, kalau ayam dan kucing bisa pakai margan. Oleh karena itu, kami mendukung penuh slogan “Bukan Jawa Saja, Bukan Jawa Telanjang” dan mengijinkan Java digunakan sebagai Java yang baik dan benar dalam situasi dimana sebagian besar masyarakatnya adalah orang Jawa atau di lembaga-lembaga informal, karena Java terbukti lebih dari itu. sopan dan hormat. Dalam bahasa Jawa kita juga membedakan dengan siapa kita berbicara agar mereka tidak bingung.

BACA JUGA  100 Gram Sama Dengan Berapa Kilo

Haviland, William A. 1999. Antropologi. Edisi Keempat, Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga. Kridalaksana, Harimurthy. 1999. Kamus Bahasa. Jakarta: PT Gramedia

Bahasa krama, google translate bahasa krama, bahasa jawa krama alus, bahasa krama alus, bahasa jawa krama, kamus bahasa krama lengkap, kamus bahasa krama, kamus bahasa krama inggil, belajar bahasa jawa krama, translate bahasa krama, bahasa krama inggil, kamus bahasa krama indramayu

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment