Bani Buwaihi Yang Berkuasa Di Masa Bani Abbasiyah Beraliran

admin 2

0 Comment

Link

Bani Buwaihi Yang Berkuasa Di Masa Bani Abbasiyah Beraliran – Kemasyhuran dan kemajuan Dinasti Abbasiyah tidak bertahan lama, karena disintegrasi politik terjadi pada masa lemahnya kekuasaan. Disintegrasi politik Dinasti Abbasiyah terlihat jelas ketika wilayah-wilayah yang dikuasai Dinasti Abbasiyah menjadi tidak stabil secara politik dan hubungan dengan wilayah Islam berangsur-angsur melemah. Di Andalusia, kebangkitan Dinasti Umayyah diawali dengan Abdurrahman Nasr sebagai khalifah. Di Afrika Utara, kebangkitan kelompok Syiah Ismaili dimulai dan berhasil membentuk Dinasti Fatimiyah. Sejak saat itu, integritas umat Islam mulai runtuh, kekuasaan khalifah menurun, dan Bagdad ditaklukkan oleh Hulagu Khan. Tak lama kemudian, para khalifah Dinasti Abbasiyah hanya menjadi boneka belaka. Para gubernur memisahkan diri dari pemerintah pusat, mendirikan dinasti-dinasti kecil dan mendeklarasikan diri mereka sebagai khalifah.

Penulisan artikel ini mengeksplorasi dan menjelaskan salah satu tema utama dalam ringkasan di atas. Permasalahannya adalah runtuhnya politik kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Disintegrasi diartikan pada Dinasti Abbasiyah sebagai keadaan perpecahan, keadaan perpecahan dan hilangnya keutuhan dan kesatuan, keadaan disintegrasi. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan runtuhnya politik Dinasti Abbasiyah.

Bani Buwaihi Yang Berkuasa Di Masa Bani Abbasiyah Beraliran

Badri Yatim menyatakan, berdirinya Dinasti Abbasiyah didukung oleh tiga kubu, yakni keturunan Ali (Alawiyin) yang dipimpin Abu Salamah, keturunan Abbas yang dipimpin Ibrahim (Abbasiyah), dan keturunan Persia yang dipimpin Abu. . Musa al-Khurasani. Pada masa berkembangnya Dinasti Abbasiyah, ketiga faksi tersebut saling bersaing dan juga saling mempengaruhi masyarakat satu sama lain. Hal ini akan menjadi benih perpecahan di kemudian hari.

Buku Bangkit Dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah

Selain itu, pembunuhan Abu Muslim al-Khurasani oleh khalifah Abu Ja’far al-Mansur menjadi titik tolak berkembangnya gerakan okultisme Persia. Gerakan ini mencari kekuasaan di pemerintahan dan menyebarkan ajaran Zoroastrianisme dan Mazdakisme, yang kemudian memunculkan gerakan Jindik. Gerakan ini menarik perhatian besar para khalifah pada periode awal. Namun pada periode selanjutnya para khalifah lemah dan gerakan ini menjadi tantangan sekaligus hambatan bagi pemerintah.

Sepeninggal Khalifah Harun al-Rasyid, terjadi perebutan kekuasaan antara kedua putranya al-Amin dan al-Ma’mun. Pertempuran ini dimenangkan oleh al-Ma’mun, yang kemudian menimbulkan kebencian para pengikut al-Amin, yang berusaha mencari cara untuk menghilangkan pengaruh Persia dalam pemerintahan. Dalam perebutan kekuasaan, dinasti tentu saja terjerumus ke dalam cengkeraman konflik internal. Perebutan kekuasaan ini berujung pada konflik eksternal di mana masing-masing pesaing mencari bantuan kekerasan untuk menundukkan saingannya. Kekuatan eksternal ini mendorong kekuasaan ke tangan pihak yang menang, yang secara tidak langsung menyebabkan hilangnya kekuasaan yang sebenarnya.

Terjadi pula perebutan kekuasaan karena kekuasaan Dinasti Abbasiyah didominasi oleh Bani Buwaihi. Kehadiran Bani Buwaihi bermula dari tiga bersaudara putra Abu Suyza, Ali, Ahmad dan Hasan yang masuk wajib militer. Mereka awalnya bergabung dengan Makan bin Ali, seorang pejuang dari wilayah Dailam. Ia kemudian bergabung kembali dengan Panglima Mardwij bin Zair al-Dalami. Karena prestasi ketiga bersaudara tersebut, Panglima Mardwij mengangkat Ali sebagai gubernur al-Karaj, dan dua saudaranya yang lain menjadi pejabat penting di daerah lain. Dari al-Karaj muncullah kekuasaan Bani Buwaihi. Ali mendapat legitimasi dari Khalifah al-Radi Billah dan mentransfer uang ke kas negara. Ia berhasil melakukan ekspansi ke Irak, Ahwaz dan Wasith. Dari sana, Bani Buwaihi secara bertahap berpindah ke Bagdad untuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan.

BACA JUGA  Pengertian Tanah Vulkanik

Pernah terjadi perebutan kekuasaan di dalam pemerintahan, yaitu perebutan posisi Amir al-Umara dan pemimpin militer. Para pemimpin militer meminta bantuan dari Ahmad bin Buwaihi di Ahvaz. Ahmad dan pasukannya tiba di Bagdad dan diterima oleh Khalifah. Atas jasanya tersebut, Ahmad diangkat menjadi Emir Al-Umara dengan gelar Mu’iz al-Dawla. Sedangkan Ali yang memerintah Shiraz diberi gelar Imam al-Daulah dan Hasan yang memerintah Ray diberi gelar Ruqa al-Daulah. Pada periode berikutnya, kekuasaan Bani Buwaihi mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan antara Mu’izz al-Daula dan putra Imam al-Daula yang bersaing memperebutkan posisi Amir al-Umara.

Humanisme Islam Menurut Jeol L. Kreamer Pada Masa Renaisans

Sementara itu, Bani Seljuk mulai bergabung dengan kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Masuknya Bani Seljuk bermula dari ajakan Khalifah al-Qaim kepada Tughrul Beg untuk meredam tindakan sewenang-wenang Arslan al-Basasiri. Keberhasilan Tughrul Beg mengakhiri upaya dominasi Bani Buwaihi dan memulai kekuasaan Bani Seljuk yang memerintah pada tahun 1055 hingga 1194 M. Pada tahun 1011 M terjadi Peristiwa Manzikart, sebuah gerakan ekspansionis yang dipimpin oleh Aleppo Arcelon. Kekuatan 15.000 tentara berhasil mengalahkan tentara tersebut. Roma memiliki 200.000. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi bibit kebangkitan Perang Salib.

Selain itu, kekuasaan adat Seljuk dalam ranah politik mulai menurun. Perebutan kekuasaan dimulai antar anggota rumah tangga. Beberapa provinsi mencoba memisahkan diri dari kekuasaan pusat. Pertengkaran dan peperangan antar anggota keluarga melemahkan mereka. Sementara itu, beberapa dinasti kecil seperti Khwarizm, Ghuz, dan Ghur mulai merdeka. Kekuasaan Bani Seljuk berakhir pada tahun 1119 M di tangan Khawarizm Syah.

Beberapa saat kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah, Bani Umayyah lebih menaruh perhatian terhadap bangsa Arab dibandingkan bangsa lain demi menaklukkan bangsa Arab, seperti terlihat dalam catatan sejarah. Pada akhir pemerintahan Dinasti Bani Umayyah, Bani Abbasiyah menggunakan kebijakan etnis tersebut untuk menyatukan semua faksi yang kecewa terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Konsolidasi ini disusul dengan jatuhnya Dinasti Bani Umayyah dan dimulainya Dinasti Abbasiyah.

BACA JUGA  Berbagai Tumbuhan Termasuk Sayuran Dibudidayakan Untuk Memperkaya

Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, para khalifah tidak menerima Arabisme. Ideologi ini dihapuskan oleh para khalifah agar masyarakat Arab dan non-Arab mempunyai hak yang sama. Oleh karena itu, banyak Mwali atau non-Arab yang ikut serta dalam pemerintahan. Sementara itu, bangsa Arab yang sebelumnya merupakan warga kelas satu di bawah kekuasaan dinasti Umayyah merasa tertindas dengan kepunahan tersebut. Dari kesadaran inilah muncul karakter Ashbiyyah atau fanatisme suku.

Bagaimana Peringatan Maulid Nabi Pada Masa Rasulullah Hingga Sekarang? Begini Penjelasannya

Pada masa awal Dinasti Abbasiyah, para khalifah menunjuk banyak orang Persia untuk ikut serta dalam struktur pemerintahan. Hal ini karena peradaban Persia pada dasarnya lebih maju dibandingkan budaya Arab sehingga merupakan aset potensial bagi pembentukan dan perkembangan Dinasti Abbasiyah. Pengaruh Persia pada perkembangan selanjutnya membentuk peradaban Islam dan mendominasi kehidupan intelektual, khususnya memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat dan sastra.

Menurut Strijewska yang dikutip Badri Yatim, ada dua aliansi yang dilakukan Dinasti Abbasiyah, yaitu: Pertama, masyarakat Arab sulit melupakan Dinasti Bani Umayyah. Saat itu mereka adalah warga negara kelas satu. Kedua, bangsa Arab sendiri terpecah belah dengan adanya suku Asbia. Oleh karena itu, kekhalifahan Dinasti Abbasiyah tidak didirikan di Asbia tradisional. Orang Persia juga tidak selalu senang. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan perwira Persia.

Sejak berdirinya Kekhalifahan Bani Abbas, kecenderungan dominasi kekuasaan sudah terasa di semua bangsa. Namun para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuasaan dan menjaga stabilitas politik. Setelah al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah naik takhta, tidak mampu menghentikan dominasi tentara Turki. Kekuasaan ada di tangan Turki. Posisi ini kemudian diduduki oleh Bani Buwaihi, bangsa Persia, yang beralih ke Bani Seljuk, sebagaimana dijelaskan di atas.

Jejak Peradaban merupakan media alternatif bagi sejarah dan peradaban manusia. Lucu dan menarik. Emailkan artikel anda ke redaksi@– Periode Ketiga Dinasti Abbasiyah (945-1055 M) Dinasti Abbasiyah diperintah oleh dinasti Khalifah Buwaihi. Sejarah berdirinya Dinasti ini diawali dengan kemunduran Dinasti Abbasiyah. Sejarah dinasti yang pemimpinnya adalah seorang Syiah ini dimulai dari ketiga putra Abu Suja Buwaih yang merupakan keturunan penguasa Sassanid suku Daylami. Ketiga putranya adalah Ali, Hassan dan Ahmad.

Pada Awal Terbentuknya Pemerintahan Bani Abbasiyah Banyak Dibantu Oleh Golongan

Awalnya ketiga keturunan Daylami ini bergabung dengan pasukan Makan bin Qali, seorang pejuang dinasti Abbasiyah Daylami. Setelah Makan bin Kali tidak berperan besar dalam pasukan Kekhalifahan Abbasiyah, mereka bergabung dengan Mardawiz bin Zair. Karena Ali mempunyai kemampuan yang hebat, ia akhirnya diangkat menjadi gubernur al-Qaraj, sebuah kota di Persia yang saat itu berada di bawah kekhalifahan Dinasti Abbasiyah.

BACA JUGA  Paragraf Berikut Yang Merupakan Teks Persuasif Adalah

Berawal dari pengangkatan Ali, keturunan Abu Suja Buwaih, akhirnya ia berkembang dan mulai mendirikan Dinasti Buwaihi, yang pada dasarnya adalah Dinasti Abbasiyah. Tipe Dinasti Abbasiyah dibawah kekuasaan Dinasti Buwaihi, kekuasaan Dinasti Abbasiyah ada pada namanya. Roda penyelenggaraan pemerintahan dikendalikan oleh Bani Buwaihi.

Dinasti Abbasiyah dikuasai oleh Dinasti Buwaihi pada tahun 945 M ketika Ahmad bin Abu Suja Buwaihi diangkat oleh Khalifah Abbasiyah sebagai penguasa politik tituler negara tersebut.

(Arab: Pilar Kerajaan), yang memerintah Shiraz dan Persia. Hasan kemudian memerintah di Isfahan dan Ray di Iran dijuluki Ruknu ad-Daula.

Daftar Kekuatan Besar Abad Pertengahan

Ketiga putra Abu Suja Buwaih yang menduduki jabatan di Iran berperan dalam membangun kekuasaan di kalangan Bani Buwaih. Mereka menetapkan Bagdad sebagai pusat kekuasaan pemerintahan, meskipun kendali politik sebenarnya lebih besar di Shiraz, Iran, tempat Ali bin Abu Suja Buwaih memerintah. Mereka menguasai wilayah yang awalnya merupakan wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Ketiga putra Abu Suja Buwaih juga menjadi penguasa Iran dan Irak. Ali memegang kekuasaan di wilayah selatan Iran, Hassan di wilayah utara dan Ahmad di wilayah Al-Ahwaz Iran, Wasit di Irak dan Bagdad.

Kepemimpinan yang dilakukan oleh para khalifah Abbasiyah hanya bersifat simbolis, sedangkan Bani Buwaihi memegang kendali. Dinasti yang berpegang teguh pada ideologi

(Dua Belas Imam Syiah), selain mendapat kesempatan untuk menyebarkan agama Syiah, mereka juga memperoleh legitimasi untuk melakukan kegiatan keagamaan, mendirikan pusat pendidikan di berbagai kota dan mendukung para penyair dan penulis di kalangan Syiah.

Meskipun politik mengalami kemunduran pada masa dinasti Abbasiyah, namun dinasti Buwaihi yang berkuasa saat itu memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dengan banyak melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskwaih dan lain-lain. Lainnya

Faktor Pendorong Kejayaan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah

Selama 110 tahun pemerintahannya, Bani Buwaihi banyak meninggalkan peninggalan sejarah yang bernilai seni. Seperti cangkir perak dengan motif Sasanian. Ada juga kain dengan motif gajah dan huruf Kufi. Keduanya adalah pekerjaan

Kemajuan pada masa bani abbasiyah, khalifah bani abbasiyah yang terkenal, perkembangan ilmu pengetahuan pada masa bani abbasiyah, keruntuhan bani abbasiyah, asal usul bani abbasiyah, sejarah singkat bani abbasiyah, masa bani abbasiyah, gambar bani abbasiyah, bani abbasiyah, masa kejayaan bani abbasiyah, tokoh tokoh bani abbasiyah, perkembangan ilmu pengetahuan masa bani abbasiyah

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment