Buatlah Peta Jaringan Perdagangan Pada Masa Majapahit

admin 2

0 Comment

Link

Buatlah Peta Jaringan Perdagangan Pada Masa Majapahit – Perdagangan adalah interaksi antara dua pihak atau lebih untuk memperoleh barang dan jasa melalui pertukaran. Faktor perbedaan geografis, ketersediaan bahan baku, tingkat teknologi, dan gaya hidup menjadi pendorong dalam berbisnis. Perdagangan di Indonesia sudah dikenal sejak zaman prasejarah. Perdagangan dilakukan melalui barter, terutama pada masa pertanian. Namun tidak ada cara untuk melakukan perdagangan antar komunitas. sebaliknya, hal ini terjadi di antara komunitas-komunitas yang terpisah secara geografis (Mardiana 2000:49).

Setelah zaman prasejarah terdapat dua (dua) jalur perdagangan yaitu darat dan laut. Jalur darat atau Jalur Sutra terbentang dari Cina, Asia Tengah, Turkestan hingga Laut Mediterania. Sedangkan jalur laut dari Tiongkok dan india melewati Selat Malaka hingga India, Persia, Suriah, dan Laut Mediterania.

Buatlah Peta Jaringan Perdagangan Pada Masa Majapahit

Transportasi laut umum terjadi di Masehi. Sejak abad ke-1 yaitu sejak bangsa Arab berhasil memperluas wilayahnya melalui jalur darat. Akibatnya jalur laut Asia Selatan menjadi jalur perdagangan utama. Peristiwa tersebut menyebabkan kemacetan lalu lintas di Asia Tenggara. Dan Sriwijaya yang menjadi pusat perdagangan dunia mendapat keuntungan besar dari peristiwa ini. dalam perkembangannya banyak pedagang dari India dan China datang ke india karena banyaknya barang yang sangat berharga.

Jejak Perdagangan Jalur Rempah Di Kepulauan Maluku Dan Awal Kedatangan Bangsa Barat

Hubungan perdagangan dengan India semakin berkembang. Apalagi setelah mengambil jalan pintas. Pedagang dari pantai timur Sumatera melanjutkan perjalanan ke Selat Malaka. Perjalanan menyusuri pantai utara Jawa, Bali, pantai timur Kalimantan (Muara Kaman) dan sampai ke China. Rute ini dinilai lebih tenang dan aman dibandingkan melintasi Laut Cina Selatan. Selain itu, pulau-pulau yang melewatinya banyak menghasilkan barang-barang komersial seperti emas, perak, gading, beras, rempah-rempah dan kayu cendana (Atmosudirjo, 1984).

Salah satu kerajaan yang terlibat dalam perdagangan dunia adalah Kerajaan Sriwijaya. Nama Sriwijaya mulai dikenal sebagai nama kerajaan ketika G. Coedes menerbitkan risalahnya mengenai hal tersebut.

Vanua tercipta setelah melakukan perjalanan dari Minangka ke Mukkupang. Dia membawa pasukan yang terdiri dari 20.000 orang, 200 kotak perbekalan dan 1.312 prajurit. Pusat Kerajaan Sriwijaya dahulu adalah Minangan. Kemudian pada tanggal 16 Juni 682, Dapunta Hyang mendirikan ibu kota baru di Palembang sebagai Pusat Kerajaan Baru (Rangkuti, 1989)

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang berdiri pada abad ke 7-13. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan arkeologis dari abad tersebut. Kerajaan Sriwijaya terletak di tepian Sungai Musi dan pusatnya di kota Palembang. Palembang merupakan lokasi yang strategis pada jalur perdagangan. Para pedagang dari hilir Sungai Musi biasa melakukan perjalanan di Palembang sebelum melanjutkan ke daerah hulu

BACA JUGA  Suatu Analisis Untuk Menentukan Dan Mencari Jumlah Barang Atau Jasa

Agama Di Indonesia

Di Daerah Aliran Sungai Musi telah ditemukan tinggalan arkeologi seperti situs arkeologi yang tersebar berisi artefak kuno, ciri-ciri dan tumbuhan yang digunakan sebagai barang perdagangan pada masa Sriwijaya. Dari Peninggalan Arkeologi di Daerah Aliran Sungai Musi pun timbul isu mengenai jalur perdagangan yang ada dan barang dagangan masa Sriwijaya apa saja yang ditemukan di Daerah Aliran Sungai Musi.

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menelusuri jalur perdagangan dan perdagangan komoditas di daerah aliran sungai Musi pada masa Sriwijaya. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif, dengan penalaran deskriptif. Pada awalnya kita akan menganalisis data dari perpustakaan dan menjelaskan data tersebut dengan menggunakan penalaran deduktif-induktif. Mengutip referensi dalam analisis data untuk memperoleh hipotesis tentang jejak perdagangan masa Sriwijaya di daerah aliran sungai Musi.

Jalur perdagangan yang menggunakan air telah dikenal setelah zaman prasejarah, baik jalur luar maupun jalur dalam. Jalur luar adalah jalur antar samudera/lautan, antar benua. Perdagangan sudah ada sebelum terbentuknya Kerajaan Sriwijaya. (sebelum Sriwijaya) Sekitar abad ke-1 Masehi, Pulau Sumatera dilalui melalui jalur luar, termasuk jalur perdagangan internasional. Terutama kapal asing yang berlayar dari Asia Barat dan Asia Timur. Kapal ini berhenti di pelabuhan internasional Malaka dan berlayar di sepanjang pantai timur Sumatera dan Jawa (Wheatley, 2010).

Di situs Air Sugihan ditemukan tembikar dan manik-manik Arikamedu, selain manik-manik kaca dari Indo-Pasifik. manik-manik kaca emas dan juga cornelian manik-manik kaca ini berasal dari Mesir atau Asia Barat abad ke-4-11. berabad-abad dan merupakan barang impor. Selain itu juga ditemukan anting emas, cincin emas, dan liontin perunggu. Gelang kaca dan bahkan tembikar Tiongkok ditemukan di Air Sugihan, yang berasal dari Dinasti Sui ke-6. dari abad ke-7 abad (Budisantoso, 2005).

Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Jejak pemukiman juga ditemukan di pesisir timur Sumatera. di tempat bersarang di tepi sungai Lalan dan Sembilan terdapat tiang rumah kayu, kemudi perahu, bejana keramik, anjungan.

Batu Bata, Batu Pecah, Tulang, Gigi dan Tempurung Kelapa Analisis terhadap dua contoh tiang rumah kayu di kawasan Karang Agung Tengah ditemukan antara tahun 1624-1629 BP, sekitar tahun 373-376, atau masa pra-Sriwijaya. dari badan-badan tersebut diharapkan masyarakat Purba mempunyai hubungan dagang dengan saudagar-saudagar asing. Dan ada gambar rumah kayu yang dibangun di sepanjang sungai tua yang menghubungkan sungai Lalan dan Sembilan.

Pulau Bang Ka terhubung dengan jalur perdagangan luar karena terletak pada kawasan strategis yaitu jalur perdagangan internasional sehingga terbuka untuk hubungan dagang dengan luar negeri. Pengaruh Hindu VI. Diperkenalkan pada abad ke-16 di Kapur, dibuktikan dengan ditemukannya patung Wisnu bergaya seni pra-Angkor. Fondasi candi yang menjadi tempat peribadatan masyarakat Hindu Kapur juga telah ditemukan.

BACA JUGA  Lagu Yang Bertempo Lambat

Tanda-tanda perdagangan dapat ditemukan pada temuan tembikar Tiongkok dari Dinasti Song. (abad ke-10 M) dan pelabuhan kuno yang terletak di muara sungai Menduk. Di sebelah timur Selat Bang Ka, terdapat sisa-sisa kapal tua. Hubungan antara Pulau Bangka dan Sriwijaya dapat ditelusuri dari ditemukannya sebuah prasasti di Kapur yang berisi kutukan terhadap mereka yang memberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya. Oleh karena itu lokasi Kapur merupakan tempat yang penting karena pernah dihuni pada masa dan sebelum masa Sriwijaya. Menjadi pelabuhan pengangkutan kapal dari perairan Sungai Musi menuju Selat Bang Ka.

Tradisionalisme Islam Minangkabau

Perdagangan di Pulau Sumatera muncul karena perbedaan sumber daya lingkungan antara wilayah hilir dan hulu Sungai Musi (Kusumohartono, 1992). Palembang mengandalkan wilayah pedalaman sebagai daerah penyangga ibu kota Kerajaan Sriwijaya. Perdagangan dalam negeri mulai mengambil peran yang lebih besar pada masa Sriwijaya. Herman Kulk mengajukan model struktur kerajaan Sriwijaya pada tahun Masehi. VII. Berdasarkan analisa prasasti Telakabatu pada abad ke-19.

Pintu gerbang kapal dagang asing adalah Selat Bang Ka. yang berlayar menyusuri Sungai Upang. Kemudian menuju kota palembang untuk bongkar muat. Para pedagang beristirahat lalu melanjutkan perjalanan menyusuri daerah hulu Sungai Musi dan sebaliknya. Hasil hubungan dagang dengan masyarakat lokal di daerah aliran Sungai Musi. Komunitas tersebut kemudian menetap di tepian Sungai Musi dan menjadi pemukiman.

Sisa-sisa pemukiman lama masih dapat ditemukan. Di sepanjang Sungai Musi dan anak-anak sungainya, terdapat situs-situs kuno seperti Palembang, Bumeyu, Teluk, Gijing, Bingin, Jungut, Lesung, Batu, Tingip, Nikan dan Jepara yang dahulu mempunyai hubungan dagang dengan orang Tionghoa. Hal ini terlihat dari penemuannya. Tembikar Tiongkok Kuno di Daerah Aliran Sungai Musi. Orang Tionghoa India juga terlibat dalam perdagangan dan mempengaruhi kedatangan dan perkembangan agama Hindu-Budha di lembah Musi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya situs keagamaan Hindu-Buddha di cekungan Musi.

Situs arkeologi telah ditemukan di kota palembang. Pada tahun 1985, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional membagi kotamadya palembang menjadi 3 unit: palembang barat; Palembang Tengah dan Palembang Timur Ketiga wilayah ini dibatasi oleh sungai-sungai yang bermuara ke Sungai Musi. Antara palembang barat dan palembang tengah terdapat sungai sekanak, sedangkan antara palembang tengah dan palembang timur terdapat sungai bengguan.

Soal Ips Us

Palembang Barat memiliki 13 lokasi yang tersebar di perbukitan Siguntang, Talang Tuo, Kolam Pinisi, Kedukan Bukit, Lorong Jambu, Tanjung Rawa, Kambang Uglen, Kambang Purun, Karanganyar, Ladang Sirap, Keramat Pule dan Gandus di pusat kota palembang. Anda akan menemukan lokasi tersembunyi Pakaralam, Candi Angsoka, Candi Walang; Sedangkan di Palembang Timur terdapat lokasi Sarangwati, Air Bersih, Boom Baru, Geding Suro dan Telaga Batu (Purwanti dan Taim, 1995).

BACA JUGA  Beda Tenderloin Dan Sirloin

Palembang Barat diyakini sebagai ibu kota kerajaan Sriwijaya di tepian Sungai Musi. (Hilir Sungai Musi). Informasi tersebut ditentukan dari banyaknya peninggalan arkeologis yang ditemukan di kawasan tersebut dan adanya saluran air yang mengalir dari kawasan Karang Anyar hingga Sungai Musi. Situs Karang Anyar diidentifikasi sebagai Istana Sri. Wijaya Karena banyak ditemukan sisa-sisa masyarakat di kawasan ini. dan dikelilingi oleh kanal yang terhubung dengan sungai Musi.

Kanal ini digunakan untuk transportasi, irigasi dan pengendalian banjir. baik untuk kepentingan keraton maupun masyarakat berbagai temuan arkeologis yang ditemukan di situs palembang adalah arca hindu-budha, prasasti, keramik, keramik, manik-manik, struktur candi dari batu bata. Disebutkan VII. Sejak abad ke-19, Palembang mempunyai hubungan dagang dengan luar negeri, terutama dengan India, Tiongkok, bahkan Asia Timur.

Dilihat dari letak geografisnya, pola persebaran sungai-sungai di wilayah Sumatera Selatan relatif terbuka dan menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah sekitarnya. dilihat dari pola aliran sungai dan sejarah habitatnya, palembang merupakan tempat yang paling efisien dalam sistem transportasi dan komunikasi. (Kusumohartono, 1992)

Kunci Kesuksesan Mahasiswa Di Dunia Kampus

Prasasti Telakabatu menggambarkan struktur kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya disebut Kathua, dipimpin oleh seorang raja (Tapunta) yang memerintah daerah tersebut.

Sriwijaya terutama terlibat dalam kegiatan keagamaan (Rangkuti, 1989). Sriwijaya sebagai Kadatuan terletak di Palembang dan merupakan pusat komersial yang mengendalikan kegiatan komersial Vanua.

Mengubah hasil pertanian menjadi barang konsumsi untuk menunjang perekonomian Sriwijaya Tempat-tempat ini awalnya merupakan tempat persinggahan kapal dagang. yang kemudian menjadi tempat tinggal di tepi sungai

Kusti Anan mengatakan, ada tujuh tempat yang kerap dipilih sebagai hunian di dekat sungai. Tiga diantaranya adalah: 1) pertemuan anak-anak sungai dengan sungai induk, yang umumnya disebut “muara sungai”; 2) Daerah sungai yang airnya dalam dan tenang disebut “Lubuk”. 3) Daerah berikut. Sebuah kelokan sungai dan sering disebut teluk “lubuk” (Anan, 2016:16)

Kunci Jawaban Kelas 5 Sd Hal 143 156

Palembang terletak di tepian Sungai Musi yang merupakan anak sungai dari Sungai Musi.

Peta jaringan telkomsel, buatlah peta negara asean, peta majapahit berwarna, buatlah peta jaringan perdagangan pada masa sriwijaya dan majapahit, masa majapahit, jaringan perdagangan, peta kekuasaan majapahit, jalur perdagangan majapahit, peta jaringan perdagangan pada masa sriwijaya dan masa majapahit, peta nusantara majapahit, peta majapahit, peta dunia masa depan

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment