Corak Kehidupan Sosial Ekonomi

admin 2

0 Comment

Link

Corak Kehidupan Sosial Ekonomi – Kata-kata yang Anda cari ada di buku ini. Untuk konten yang lebih bertarget, lakukan pencarian teks lengkap dengan mengklik di sini.

Ciri-ciri kehidupan masyarakat pada masa Preakrasa a.Model hunian orang-orang tua. Tempat tinggal masyarakat zaman dahulu memiliki dua ciri: dekat dengan sumber air dan kehidupan di luar ruangan. Sifat pemukiman masyarakat purba dapat dilihat dari letak geografis wilayah dan kondisi ekologisnya. Situs-situs purbakala di sepanjang Bengawan Solo (Sangiran, Sambungmakan, Tnil, Ngavi dan Ngandong) menunjukkan kecenderungan masyarakat zaman dahulu mendiami lingkungan sungai. Tumbuhan dan hewan membutuhkan air. Keadaan air di lingkungan mendorong keberadaan hewan disekitarnya. Keberadaan air dimanfaatkan manusia sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup. Masyarakat dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain melalui sungai. Petunjuk yang dapat memberikan gambaran tentang kehidupan manusia purba adalah sebaran sisa-sisa peralatan yang digunakan oleh manusia purba, yang banyak ditemukan di dalam atau sekitar dasar sungai. Kehidupan di sekitar sungai mencerminkan gaya hidup luar ruangan masyarakat zaman dahulu. Manusia purba cenderung menghuni lingkungan terbuka di sekitar sungai. Masyarakat zaman dahulu juga memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan, salah satunya adalah tinggal di gua.Lamanya masyarakat zaman dahulu hidup dalam kondisi eksploitatif bergantung pada ketersediaan pangan. Ketika tidak ada makanan di lingkungan tersebut, masyarakat berpindah ke lingkungan baru di sepanjang sungai untuk singgah baru. Pola perumahan mulai berkembang di akomodasi sementara ini. b. Dari berburu, meramu, hingga bertani Berdasarkan hasil penelitian berupa fosil dan artefak, diyakini bahwa masyarakat pramelek huruf mula-mula hidup dengan berburu dan meramu, kemudian bertani. Kehidupan mereka bergantung pada alam. Untuk menyelamatkan nyawa

Corak Kehidupan Sosial Ekonomi

Mereka menjalani gaya hidup nomaden atau berpindah berdasarkan makanan yang tersedia. 1. Kehidupan Sosial Berburu dan Mengumpulkan Makanan (gathering) Dalam kehidupan sosial, berburu dan meramu makanan (gathering) dibedakan menjadi: a) Masyarakat pemburu-pengumpul primitif Pada zaman pemburu-pengumpul, habitat manusia masih liar dan daratan. tidak stabil. Saat itu banyak terjadi letusan gunung berapi dan daratannya ditutupi hutan lebat dan berbagai hewan purba masih hidup di sana. Saat itu, manusia didukung oleh Pithecanthropus erectus dan Homo vajakensis. Berburu dan mengumpulkan makanan (gathering) sudah ada sejak manusia pertama kali muncul di bumi, begitu pula masyarakat Indonesia. Kegiatan berburu dan meramu ini merupakan kegiatan paling sederhana yang dapat dilakukan manusia karena manusia dapat memperoleh makanan langsung dari alam dengan cara mencari makan. Gaya hidup masyarakat berburu dan nomaden memiliki ciri-ciri sebagai berikut. – Tidak akrab dengan pertanian. – Kebutuhan nutrisinya bergantung pada alam, sehingga cara mereka mencari nutrisi disebut mencari makan dan berburu. – Peralatan yang dibutuhkan terbuat dari batu yang belum dipoles (masih sangat kasar) – Masyarakat hidup berkelompok dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain (migrasi) untuk memenuhi kebutuhan kelangsungan hidupnya. Ada dua hal yang menyebabkan pemburu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, yaitu pertama, hewan buruan dan umbi-umbian.

BACA JUGA  Pengetahuan Umum Dan Jawabannya

Mengenal Corak Kehidupan Masyarakat Praaksara Di Nusantara

Umbi-umbian rontok di habitatnya, dan kedua, musim kemarau memaksa hewan pemburu berpindah mencari sumber air yang lebih baik. b) Masyarakat berburu-meramu yang maju Masa berburu dan meramu yang maju jatuh pada periode setelah Pleistosen. Gaya hidup masyarakat pemburu-pengumpul yang maju masih dipengaruhi oleh zaman-zaman sebelumnya. Kehidupan mereka masih bergantung pada alam. Mereka bertahan hidup di hutan dengan berburu, memancing, dan mengumpulkan nutrisi seperti umbi-umbian, buah-buahan, biji-bijian, dan dedaunan. Peralatan hidup yang digunakan untuk berburu dan meramu tingkat lanjut, seperti kapak tangan, timbangan, dan peralatan tulang. Pada masa itu, gerabah juga diketahui berfungsi sebagai peralatan makan. Rencana pemukiman mereka mulai berubah dari nomaden menjadi semi menetap. Ketika masyarakat pemburu-pengumpul yang sudah maju mampu mengumpulkan cukup makanan, mereka mulai menetap di satu tempat untuk jangka waktu yang lebih lama. Kemudian pengetahuan mereka tentang penyimpanan dan pengawetan makanan berkembang. Permainan diawetkan dengan cara dikeringkan setelah perlakuan awal dengan rebusan. Mereka tinggal di gua (abris Sous roche). Untuk melindungi diri dari iklim dan binatang liar, mereka memilih gua yang terletak lebih tinggi di lereng bukit. Masyarakat pemburu-pengumpul yang maju juga mengakui pembagian kerja. Perburuan sebagian besar dilakukan oleh laki-laki. Perempuan tidak banyak berburu, kebanyakan di dekat gua tempat mereka tinggal. Karena perhatian seorang wanita terfokus pada lingkungan yang terbatas, ia dapat memperluas pengetahuannya tentang seluk-beluk tanaman yang bisa dibudidayakan. Masyarakat pemburu-pengumpul yang sudah maju sudah akrab dengan pertanian, meskipun pada tingkat yang sangat sederhana.

Dan dilakukan dalam keadaan bergerak. Mereka membuka lahan dengan menebang, membakar, menebang hutan. Ketika sudah tandus, mereka meninggalkan lahan tersebut untuk mencari lahan baru. Di masyarakat tempat perburuan dan pengumpulan makanan diyakini berasal. Buktinya adalah ditemukannya kuburan di Gua Lava, Sampung, Ponorogo, Jawa Timur, Gua Sodong, Besuki, Jawa Timur dan Bukit Kerang, Aceh Tamiang, Nangro Aceh Darussalam. Beberapa jenazah yang terkubur disiram cat merah. Warna merah diyakini dikaitkan dengan upacara pemakaman untuk menegaskan kehidupan baru di akhirat. Gambar cetakan tangan dengan latar belakang cat merah ditemukan di dinding Gua Liang Pattai di Sulawesi Selatan. Menurut para ahli, mungkin mengandung makna kekuatan atau simbol kekuatan pelindung untuk mengusir roh jahat. Ada beberapa sidik jari yang tidak lengkap. Video tersebut dianggap sebagai tanda duka tradisional. Gambar gua juga ditemukan di pulau Seram dan Papua. Gambar kadal ditemukan di dua lokasi tersebut. Lukisan ini diyakini mengandung simbol kekuatan magis, yaitu gambaran roh leluhur atau pemimpin suku yang sangat dihormati. 2. Pertanian dan kehidupan penduduknya a.Kehidupan sosial ekonomi Masa pertanian merupakan masa yang penting dalam perkembangan masyarakat dan peradaban. Penemuan-penemuan baru terkait pengelolaan sumber daya alam berkembang pesat. Penjinakan dan domestikasi berbagai macam tumbuhan dan hewan dimulai. Untuk menciptakan lahan pertanian sederhana, metode bercocok tanam dengan humus mulai dikembangkan. Peternakan huma dilakukan secara bergilir dengan cara menebang, membakar, dan membersihkan lahan

BACA JUGA  Kerajinan Dari Bulu Domba

Hutan, kemudian ditanami dan ditinggalkan setelah tanahnya tandus. Di bawah pertanian, kondisi kehidupan masyarakat meningkat pesat. Itu adalah tempat tinggal permanen masyarakat pra-melek huruf pada saat itu. Mereka memilih tempat tinggal. Hal ini dirancang untuk memperkuat hubungan antara orang-orang dalam kelompok sosial. Kedekatan hubungan antar masyarakat dalam kelompok sosialnya menunjukkan bahwa masyarakat tidak dapat hidup sendiri tanpa anggota masyarakat lainnya. Kehidupan sosial masyarakat petani terlihat dari cara mereka bekerja sama. Segala pekerjaan yang dilakukan oleh perkumpulan, baik pertanian, kehutanan, perburuan, pembangunan rumah, selalu dilakukan dengan usaha bersama. Ciri masyarakat agraris adalah gaya hidup kooperatif. Aktivitas gotong royong masih tetap terjaga hingga saat ini, khususnya di pedesaan. Peranan pemimpin (primus inter pares) sangat nyata dalam kehidupan masyarakat pertanian. Geras primus inter pares dalam bahasa Indonesia adalah ratu atau datu (k) yang artinya adalah orang yang dihormati dan dikenal karena kepemimpinannya, keterampilannya, pembelajarannya, pengalamannya, dan lain-lain. Berikut ciri-ciri kehidupan sosial pada masa pertanian dan pemukiman. – Dia tahu perekonomian dengan baik. – Dapat mengolah pangan sesuai kebutuhannya (menghasilkan pangan). Selain berburu dan memancing, mereka juga memelihara hewan peliharaan seperti kerbau. Selain untuk dikonsumsi, hewan ini juga bisa dijadikan kurban.

Sudah mempunyai tempat tinggal tetap. – Perkakas batu seperti kapak, tombak dan anak panah berbentuk tipis dan bervariasi. Selain perangkat keras, mereka juga membuat perhiasan seperti gelang dan kalung batu. – Peradaban mereka berkembang, peralatan rumah tangga meningkat, mereka memahami seni. b. Kehidupan budaya Kebudayaan manusia pra melek huruf berkembang pada masa pertanian dengan berbagai macam hasil budaya (ada yang terbuat dari batu dan tulang tanah liat). Artefak budaya masa pertanian, seperti kapak persegi, kapak lonjong, mata panah, gerabah, dan perhiasan. i.Sistem Kepercayaan Tahukah anda bagaimana kepercayaan nenek moyang kita? Bagaimana mereka menyatakan atau mengamalkan iman mereka? Nenek moyang kita percaya bahwa ada kekuatan yang maha kuasa di luar Tuhan. Mereka mengetahui keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian. Implementasi kepercayaan nenek moyang tercermin dalam berbagai bentuk, misalnya dalam karya seni. Salah satunya berfungsi sebagai makanan berat bagi orang mati. Sejak makam ini ada, orang dahulu tahu cara menguburkan orang mati. Pada titik inilah mereka mengenali suatu sistem kepercayaan. Sebelum kematian, orang mempersiapkan jenazahnya dengan menjahit berbagai pakaian pemakaman dan membuat tempat pemakaman yang menciptakan karya seni yang indah. Masyarakat pramelek huruf (khususnya pada zaman Neolitikum) mengetahui adanya sistem kepercayaan. Mereka memahami/mengetahui bahwa ada kehidupan setelah kematian. Mereka percaya bahwa jiwa orang yang sudah meninggal hidup di dunia lain. Oleh karena itu, mereka percaya bahwa itu adalah roh orang tersebut

BACA JUGA  Motif Flora Fauna

Tafsir Ahkam: Respons Qur’an Atas Isu Isu Hukum Dalam Masyarakat

Orang mati akan selalu dihormati oleh kerabatnya. Dalam hal ini, upacara ritual yang paling menonjol adalah upacara pemakaman. Dalam tradisi pemakaman, jenazah orang yang meninggal dilengkapi dengan berbagai benda

Corak kehidupan masyarakat prasejarah, kehidupan sosial ekonomi kerajaan majapahit, corak kehidupan manusia, kehidupan sosial, corak kehidupan zaman paleolitikum, corak kehidupan, kehidupan sosial ekonomi, kehidupan ekonomi, corak kehidupan manusia purba, corak kehidupan masyarakat praaksara, kehidupan sosial ekonomi kerajaan kutai, kehidupan sosial ekonomi kerajaan sriwijaya

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment