Kabinet Natsir Mendapat Mosi Tidak Percaya Karena Kasus APRA dan PRRI

administrator

Kabinet Natsir Mendapat Mosi Tidak Percaya Karena

Kabinet Natsir Mendapat Mosi Tidak Percaya Karena

Kabinet Natsir Mendapat Mosi Tidak Percaya Karena Kasus APRA dan PRRI

Kabinet Natsir adalah kabinet pertama di Indonesia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Natsir. Kabinet ini dibentuk pada tanggal 6 September 1950 dan berakhir pada tanggal 21 Maret 1951. Selama masa pemerintahannya, Kabinet Natsir menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) dan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

Pada bulan Januari 1950, APRA melancarkan pemberontakan di Bandung. Pemberontakan ini dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling, seorang perwira KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) yang pernah bertugas di Indonesia. Westerling dan pasukannya berhasil menguasai Bandung selama beberapa hari, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Setelah pemberontakan APRA, pada bulan Februari 1951, PRRI melancarkan pemberontakan di Sumatera Barat. Pemberontakan ini dipimpin oleh Letkol Ahmad Hussein, seorang mantan perwira TNI yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah pusat. Hussein dan pasukannya berhasil menguasai Sumatera Barat selama beberapa bulan, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh TNI.

Pemberontakan APRA dan PRRI menyebabkan situasi keamanan di Indonesia menjadi tidak stabil. Hal ini membuat Kabinet Natsir mendapat kritik dari berbagai pihak. Pada tanggal 21 Maret 1951, Kabinet Natsir akhirnya menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno.

Selain kasus APRA dan PRRI, Kabinet Natsir juga menghadapi berbagai masalah lainnya, seperti masalah ekonomi dan politik. Masalah ekonomi yang dihadapi Kabinet Natsir antara lain adalah inflasi yang tinggi dan defisit anggaran negara. Sementara itu, masalah politik yang dihadapi Kabinet Natsir antara lain adalah perpecahan di dalam tubuh koalisi partai pendukung pemerintah.

Perpecahan di dalam tubuh koalisi partai pendukung pemerintah menyebabkan Kabinet Natsir kehilangan dukungan politik. Hal ini membuat Kabinet Natsir tidak dapat menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Pada akhirnya, Kabinet Natsir menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno.

BACA JUGA  Mp4 To Gif Converter

Artikel Terbaru

Leave a Comment