Kelurahan Dibentuk Di Wilayah Suatu Kecamatan Dengan Didasarkan Pada:

admin 2

0 Comment

Link

Kelurahan Dibentuk Di Wilayah Suatu Kecamatan Dengan Didasarkan Pada: – Kecamatan Semarang Selatan merupakan salah satu dari 16 kecamatan di Kota Semarang yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2004 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan Kota Semarang.

Kabupaten Semarang Selatan dibentuk berdasarkan Keputusan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1992 Tentang Pembentukan Kecamatan di Kabupaten Purbalingga, Selakap, Wonogiri, Jepara dan Kundal serta Penataan Kecamatan di Kota Semarang Propinsi Jawa Tengah.

Kelurahan Dibentuk Di Wilayah Suatu Kecamatan Dengan Didasarkan Pada:

Menurut Rencana Daerah dan Wilayah (RTRW), kawasan Semarang Selatan merupakan kawasan bisnis, pemukiman dan pendidikan.

Keragaman Nama Wilayah Administrasi Setingkat Desa

Ya terdiri dari 10 kecamatan yaitu kecamatan Bolstal, kecamatan Randosari, kecamatan Barosari, kecamatan Mogsari, kecamatan Plaiboran, kecamatan Vinodari, kecamatan Petrungan, kecamatan Lampar Lor . Kecamatan, Kecamatan Lampar Kadol, Kecamatan Lampar Tangah

Setiap desa memiliki persamaan dan perbedaan karakteristik masalah dan peluang. Masalah yang umum terjadi antara lain masalah timbulan sampah, masalah sanitasi lingkungan, masalah kesehatan masyarakat, dan masalah kemiskinan.

Kemiripan yang mungkin muncul antara lain dari aspek penguatan kelembagaan masyarakat RT, RW, LPMK, PKK, Karang Tarona, daya tampung pemanfaatan sampah.

Perbedaan sifat permasalahan disebabkan topografi yang berbeda, ada daerah berbukit seperti Kiloran: Randosari, Mogsari, Pleboran dan Winodari yang bermasalah karena distribusi air bersih, pengangkutan sampah tentu sama. .tidak masalah di daerah yang relatif datar seperti: Kilorahan Blustalan, Barosari, Patrongan, Lamper Lore, Lamper Selatan dan Lamper Tengah.

Pendaftaran Panitia Pengawas Kecamatan (panwascam) Kota Cimahi Untuk Pemilu Serentak Tahun 2024

Sementara itu, peluang yang berbeda dapat dilihat pada ekonomi lokal, seperti B. keberadaan pasar bulu di kecamatan Barosari dan Bilastlan, pasar Randosari di kecamatan Randosari, Pasar.

Di desa Winodari, pasar Petroungan di desa Petroungan, pasar Maikan di desa Lamper Kidul. Pasar modern seperti ADA Supermarket di Balstalan, Java Supermall di Desa Lampir Kadol.

Berbagai pilihan wisata antara lain wisata oleh-oleh khas Semarang di desa Pandanran, Randosari dan Mogsari. Potensi wisata religi seperti Khol Kai Sule Darat di Komplek TPU Desa Bargotta, Desa Randosari, Masjid Pandaran di Desa Mogsari, Khol

Habib Hasan bin Toha bin Muhammad bin Toha bin Yahya, dikenal sebagai Mubah Karamat Jati di Kompleks Masjid Al Hudiya, Desa Lampar Kadol, Bentimorang (ejaan Wan Ofugeeson: Bantimorang; Lontara Bugis: ᨅᨛᨈᑘᑨ Lontara Bugis: ᨅᨛᨈᑨasmum) Arm. ᨅᨈᨗᨆ, transliterasi: Bantimarung) adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kecamatan ini berada di Pakalu, 7 km dari kota Toricail, ibu kota dan pusat pemerintahan Kabupaten Maros. Kawasan ini terkenal dengan keindahan alamnya, yang menjadikannya tujuan wisata yang populer. Tempat wisata di kecamatan ini antara lain Taman Nasional Buntimorang Bilosaraung, Taman Purbakala Liang-Liang, Puncak Baro Baro, Wisata Wai Merangang Thomoblang, Wisata Blosipong, dll.

BACA JUGA  Dua Benua Yang Mengapit Indonesia Adalah

Pembagian Wilayah Administrasi Kota Semarang

Kabupaten Bintimorang dulunya merupakan wilayah yang sangat luas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kamba dan Kabupaten Maros Baru. Secara historis wilayah Kabupaten Marus mengalami pemekaran daerah, termasuk wilayah Bantimorang. Pada tanggal 4 Juli 1959, daerah Maros resmi ditetapkan sebagai daerah otonom kelas dua dengan ibu kota Maros dan kuota jumlah majelis rakyat setempat yang ditetapkan undang-undang berdasarkan undang-undang adalah 15 orang anggota. Pasal 1, 2 dan 3 Bab 29 Republik Indonesia Tahun 1959. Saat itu Kabupaten Marus memiliki yurisdiksi atas beberapa kecamatan gamenshop tradisional, yaitu: Kecamatan Sembang, Kecamatan Buntua, Kecamatan Tanreli, Kecamatan Raya (Lao), Torikail Distrik, Distrik Marsu, Distrik Federasi Gelarang Apaka dan Distrik Federasi Labotinga.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia terjadi perubahan struktur pemerintahan yang ada. Sejak 19 Desember 1961, distrik tradisional Gemeenschap, yang sebelumnya dibentuk menjadi distrik, juga akan diorganisir. Kabupaten Marus tidak lagi memiliki kecamatan tetapi dimekarkan menjadi 4 (empat) kecamatan. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 mulai berlaku pada tanggal 1 Juni 1963. Kabupaten/daerah adat/kerajaan setempat kemudian hilang dari permukaan sejarah seiring dengan terbentuknya kecamatan-kecamatan. Empat (empat) kecamatan yang kemudian dibentuk adalah sebagai berikut:

Pada hari Kamis tanggal 22 Agustus 1996, DPD II KNPI Kabupaten Maros mengadakan Seminar Pembangunan Kabupaten dan Perubahan Nama berdasarkan latar belakang sejarah dan penguatan Identitas Maros melalui kajian sejarah. Saat itu, upaya DPD II untuk KNPI Maros dipuji dan diacungi jempol oleh para budayawan dan pemerhati sejarah. Sebuah nama yang sarat muatan sejarah memiliki arti tersendiri, terutama bagi orang-orang yang menghargai identitasnya.

Berdasarkan hasil seminar, Bupati KDH Tingkat II Maros, Nasrun Amrullah (cucu H. Andi Page Mananderi Petta Ranreng, Petta Imam Turikale III) melalui surat Bupati KDH Tingkat II Maros, No. 146.1/276/Pem . Pada tanggal 19 September 1996, DPRD Maros tingkat II mengajukan permohonan izin pemekaran kabupaten. DPRD Tingkat II Maros kemudian membentuk pansus yang kemudian membahas dan menetapkan pembentukan/pembangunan kecamatan yang ada dan diberi nama kecamatan sebelumnya.

BACA JUGA  Harapan Untuk Sekolah Kedepannya

Perumahan Ciptakarya Opd Compress_20220409_092725_5903.jpg

Pada tanggal 30 Desember 2000, Kabupaten Bintimurang secara resmi memulai pembangunan daerah dengan dibentuknya Kabupaten Sambang. Kecamatan Sambang meliputi 6 (enam) desa di Kecamatan Buntimorang yaitu Desa Bunto Talasa, Desa Jintaisa, Desa Samangki, Desa Sambuija, Desa Sambang dan Desa Thanet dengan pusat pemerintahan di Desa Jinitasa. Dasar hukum pemekaran wilayah Kabupaten Buntimorang berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maros No. 30 Tahun 2000 yang merinci Bab II Pasal 4 ayat 1, 2 dan 3 dan Bab III Pasal 7 ayat 3.

Bantiorang berasal dari kata bahasa Bugis banti artinya “tetesan (air)” dan mering artinya “suara tangisan”. Bantimooring berarti menuangkan air. Nama itu diusulkan oleh Karaeng Sembang, Patahudin Daeng Parumpa. Sambang adalah salah satu kerajaan di Kecamatan Gemenschopp Adat dan terletak di wilayah Kerajaan Maruso. Berawal dari kata benti merrung yang kemudian berubah bunyi menjadi bentimurung seperti sekarang. Sejarah dan asal kata “Bantimorang” dimulai pada Perjanjian Bongia I dan II (1667-1669) ketika Maros ditetapkan sebagai wilayah yang dikuasai langsung oleh Hindia Belanda. Saat itu wilayah kekuasaan kerajaan Maruso ditata dalam bentuk toko bupati yang dipimpin oleh seorang penguasa bangsawan setempat bergelar bupati (setingkat bupati). Setelah itu, Maros diubah menjadi kabupaten pribumi Jemschap, dipimpin oleh seorang bupati yang ditunjuk oleh elit lokal dengan gelar Karing, Arang, atau Galarang. Kerajaan Sambang adalah salah satu distrik jimenshop tradisional di wilayah Kerajaan Maruso. Di kepala distrik adalah walikota dengan gelar “karing”. Sekitar tahun 1923 Patahudin Daeng Parumpa diangkat menjadi Karing Sambang. Ia mulai mengukuhkan keberadaan Kerajaan Sumbang dengan membuat bekal dan melakukan pemajuan wilayahnya. Salah satu program yang dijalankannya adalah membangun jalan raya di seluruh wilayah Kerajaan Sumbang untuk memudahkan perjalanan ke daerah sekitarnya. Dengan dibangunnya jalan ini, daerah gurun akan terbagi. Sayangnya, pekerjaan itu terganggu oleh suara kereta api di hutan tempat jalannya berada. Saat itu para pekerja tidak berani melanjutkan pembangunan jalan tersebut karena kebisingannya sangat tinggi. Karing Sambang yang memimpin langsung proyek tersebut kemudian memerintahkan seorang pejabat kerajaan untuk pergi ke padang pasir dan mencari tahu dari mana asal suara gemerincing itu. Setelah melakukan perjalanan singkat ke dalam kawasan hutan untuk mencari tahu dari mana asal Sungai Gangga, para petinggi kerajaan segera kembali melapor ke Karing Sambang. Namun sebelum menjawab, Caring Sembang bertanya terlebih dahulu. “Aga ro meringue?” Dia bertanya. (Bahasa Bugis; artinya: “Apa itu yang berdengung?”). Pegawai kerajaan menjawab, “Benti, pwang (air, tuan)” (Benti adalah bahasa Bugis untuk air). Bunyi kareng sambang langsung membuat saya kaget dan takjub melihat aliran air yang begitu deras keluar dari gunung. Tempat ini disebut air), kata Karaeng Sambang Patahudin Dayeng Parumpa. Berawal dari kata bentimorung, kemudian bertransisi menjadi bunyi bentimorung. Rencana pembangunan Waterfall Discovery Road belum berjalan. Bahkan, kawasan di sekitar air terjun itu dijadikan bangunan baru di Kerajaan Sambang. Kepala desa adalah kepala desa dengan gelar “Penati Bintimurang”.

BACA JUGA  Arti Kata وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ Adalah

Mayoritas penduduk Kecamatan Buntimorang adalah Makassaresi dan Bagis. Bagian utara dan timur Buntimorang sebagian besar dihuni oleh orang Makassar (To Mangkasara), yang berbahasa Makassar (Mangkasara), sedangkan bagian barat dan selatan Buntimorang sebagian besar dihuni oleh Bagis (Tao Ogi), dengan siapa Bugis (Bagis) diucapkan Ugi).

Kecamatan Buntimorang memiliki luas wilayah 173,70 km² dan jumlah penduduk dukun bayi tahun 2021 sebesar orang dukun/km². Sex ratio penduduk Kecamatan Bantimorang tahun ini adalah TBA. Artinya, untuk setiap 100 penduduk perempuan, jumlah TBA sebanyak penduduk laki-laki. Berikut adalah data jumlah penduduk setiap tahunnya di Kecamatan Buntimorang:

Republika 20 April 2022

Kabupaten Bantimorang memiliki 8 (delapan) wilayah administrasi dengan 2 (dua) status kecamatan dan 6 (enam) status desa sebagai berikut:

Kecamatan Bintimurang memiliki 37 (tiga puluh) wilayah Kalurahan/Desa, dimana 4 (empat) diantaranya berstatus RT dan 33 (tiga puluh tiga) berstatus Desa, sebagai berikut:

Kecamatan Bintimorang merupakan salah satu dari empat bekas kecamatan di Kabupaten Maros yang berdiri pada tanggal 1 Juni 1963 sebagai hasil pelaksanaan resmi UURI No. 29 Tahun 1959. Sebelum berganti nama menjadi Kamat pada tahun 2000-an, Pemerintah Kabupaten Bantimurang menjadi kepala daerah yang ditunjuk. Berikut adalah daftar Bupati/Walikota Bintimorang dari masa ke masa:

Indeks Pembangunan Perdesaan (M) merupakan indeks gabungan yang didasarkan pada tiga indikator, yaitu Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) dan Indeks Ketahanan Ekologi/Lingkungan (IKL). sampai

Penyesuaian Jam Layanan Selama Bulan Ramadan Tahun 2022

Letak suatu wilayah dapat ditentukan dengan, kode pos kelurahan cijantung kecamatan pasar rebo, contoh surat keterangan ahli waris dari kelurahan dan kecamatan, kode wilayah kecamatan, bagaimana menyikapi keragaman sosial di suatu wilayah, kelurahan dan kecamatan, kelurahan gandul kecamatan cinere, letak astronomis suatu wilayah ditentukan berdasarkan, cara melamar kerja di kelurahan atau kecamatan, kelurahan kecamatan, kelurahan dan kecamatan di surabaya, rt rw kelurahan kecamatan

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment