Keunikan Tari Gending Sriwijaya

administrator

0 Comment

Link

Keunikan Tari Gending Sriwijaya – Tari Gending Sriwijaya merupakan tarian tradisional yang populer di Indonesia pada umumnya dan provinsi Sumatera Selatan pada khususnya. Ini adalah bentuk tarian yang dinamis dan hidup dengan sejarah dan makna yang kaya.

Genting Sriwijaya yang secara harafiah berarti “irama kerajaan Sriwijaya” merupakan tanaman asli Sumatera Selatan, Indonesia. Tarian ini merupakan bagian penting dari kebudayaan dan masih dipentaskan hingga saat ini di beberapa acara di Sumatera Selatan.

Keunikan Tari Gending Sriwijaya

Ini adalah tarian yang indah secara visual dengan makna yang dalam dan mendalam. Tarian ini menggambarkan keceriaan perempuan palembang saat menerima tamu terhormat di wilayahnya. Untuk memahami makna Gending Sriwijaya, penting untuk mengkaji sejarahnya, jumlah penari yang dibutuhkan, dan maknanya. Pada artikel kali ini kita akan mempelajari asal usul dan makna budaya tari tradisional ini.

Tari Melinting Lampung: Sejarah, Properti, & Ragam Geraknya

Sejarah Tari Gending Sriwijaya dimulai pada masa pendudukan Jepang di Indonesia pada awal hingga pertengahan tahun 1940-an. Penguasa Jepang pada masa itu menginginkan suatu jenis tarian yang dibawakan oleh penduduk Palembang untuk menyambut kedatangan tamu-tamu penting di wilayahnya.

Saat itu, pemerintah Jepang di Palembang meminta Hodohan (Badan Penerangan Jepang) pemerintah Jepang untuk membuat lagu dan tarian untuk menyambut tamu yang berkunjung ke Sumsel untuk acara resmi. Tidak diketahui secara pasti pada bulan atau tahun berapa permohonan tersebut diajukan, namun diperkirakan permohonan tersebut muncul antara akhir tahun 1942 dan 1943. Namun, permohonan tersebut terlambat dikabulkan karena masalah politik di dalam dan di dalam negara Jepang. Itu.

Pada bulan Oktober 1943, upaya pencarian lagu tersebut dimulai kembali. Seorang perwira militer Jepang, Letnan. Kolonel O.M. Wakil Kepala Shah Hodohan Nunjik AR. Achmad Dahlan Mahibat, seorang pemain biola berbakat, diundang oleh Bangsawan Bintang Berlian (Tonal), rombongan seni yang dipimpin oleh suami istri Haji Gang dan Miss Tina, untuk berkolaborasi dalam lagu tersebut. Saat itu Nandjik AR sendiri terkenal sebagai penulis dan jurnalis.

Lagu sudah selesai dan liriknya ditulis. Gending Sriwijaya A. Ditulis oleh Dahlan Mahibat dan kemudian diperkaya dengan sentuhan nundgic.

Indonesiana Vol. 11 Kilau Budaya Indonesia By Indonesiana Majalah

Selesai lagu dan puisi, tinggal menari memikirkan mengarang. Proses penciptaan gerak tari berasal dari berbagai bahan tari tradisional palembang yang ada.

Nona Tina Haji, penari profesional yang dianggap ahli tradisi budaya Palembang, menyerahkan kostum tari tersebut kepada Gang. Ia mengelola bahan dan kostum yang digunakan dalam pertunjukan tari Gending Sriwijaya. Dalam prosesnya, Ibu Tina direkrut oleh seorang ahli tari, Sukena A. Rozak bertugas sebagai model, dibantu oleh R. M. Akib dan R Husin Natodoradjo sebagai pengarah gerak.

BACA JUGA  Ide Utama Yang Dibahas Dalam Suatu Bacaan Disebut

Latihan berlangsung di Gedung Bioskop Saga. Kemudian pada bulan Mei 1945, tarian tersebut dibawakan sebagai ujian di hadapan Kolonel Matsubara, kepala Pemerintahan Umum Jepang. Para penari latihan ini adalah perwira gila yang dibantu oleh anggota kelompok Bangsawan Bintang Berlin.

Kamis tanggal 2 Agustus 1945, untuk menyambut perwira Jepang dari Bukit Tinggi, Moh. Syafei dan Djamaludin Adi Negoro resmi menampilkan Tari Gending Sriwijaya. Baru kali ini Sriwijaya menampilkan tari jending.

Menyibak Makna Dibalik Keindahan Tari Pagar Pengantin Dalam Pernikahan Adat Palembang

Pementasan digelar di halaman Masjid Raya Palembang. Tepak yang terbuat dari jeruk nipis, sirih, kenari, dan bahan lainnya diberikan sebagai ungkapan kebahagiaan.

Saat itu tarian yang dipimpin oleh Sukaina A. Rozak adalah Tepak Sirih, Gustina A. Rachman dan Siti Noorani Azari diperkenalkan sebagai pembawa bunga (pengganti kata ganti) dan penari lainnya adalah Delima A. Mereka adalah Rozak, Tuhfa dan Busro. Yaqib, RA Tuti Sahara Akib dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pada masa kemerdekaan Indonesia, Gending Sriwijaya digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu resmi pemerintah yang berkunjung ke Sumatera Selatan.

Sembilan orang perempuan menampilkan tari Gending Sriwijaya. Para penarinya mengenakan kostum adat lengkap dengan berbagai aksesoris seperti selendang doot, forsingkong, thangai dan mantri.

Tarian Tradisional Dari Tiap Provinsi Di Indonesia

Di barisan depan, penari biasanya membawa sebuah kotak yang disebut tepak. Gerakan mereka yang lincah diiringi suara melodi.

Secara keseluruhan Tari Gending Sriwijaya merupakan simbol kesopanan, kepedulian, kerjasama, kemandirian dan kesetiaan yang terdapat pada masyarakat palembang.

Makna tari Gending Sriwijaya terkandung dalam setiap gerak penarinya. Berikut ini adalah gerak-gerak dan maknanya dalam tari Gending Sriwijaya.

Tarian ini bercirikan ibu jari dan jari tengah penari diayunkan mengikuti irama. Kemudian mereka akan menghapus snap tersebut.

Jenis Gerak Tari: Pengertian, Unsur, Jenis, Dan Macamnya

Kerendahan hati disampaikan melalui kehadiran daun sirih yang dibawa para penari. Sebab daun sirih diartikan sebagai tanaman yang tumbuh dari dalam tanah dan menyebar ke lahan sekitarnya. Daun sirih yang bentuknya lurus juga mempunyai makna karakter dan kesetiaan tersendiri.

Apakah mengasuh anak membuat Anda pusing? Ayo bertanya langsung dan dapatkan jawaban dari para orang tua dan pakar lainnya di aplikasi Asianparent! Tersedia di iOS dan Android Tari Gending Sriwijaya merupakan ikon budaya yang berasal dari kota palembang di provinsi sumatera selatan. Selain tarian umum lainnya, tarian Tangai.

Dari sinopsis gerakannya, tari Gending Sriwijaya mempunyai sejarah dan makna yang mendalam tentang kebesaran Kerajaan Sriwijaya serta besarnya pengaruh ajaran Buddha pada masa itu.

BACA JUGA  Runtuhnya Dinasti Ayyubiyah Ditandai Dengan

Salah satu ciri yang mencolok dari tari Lingga Sriwijaya adalah kemegahan kostumnya dengan dominan warna merah dan hiasan emas.

Masih Lestari Hingga Kini, 10 Tarian Tradisional Sumatera Selatan Ini Elok Dan Penuh Makna

Asal usul tari Gending Sriwijaya dimulai pada tahun 1942 atas permintaan pemerintah Jepang untuk menciptakan sebuah lagu dan tarian untuk menyambut tamu-tamu umum di Sumatera Selatan.

Penciptaannya dimulai pada bulan Oktober 1943 oleh jurnalis dan penulis Nuntjik A.R. Letnan Kolonel O.M. Shida

Gerakan tari Gending Sriwijaya yang berbeda-beda merupakan inti dari unsur adat Batanghari Sembilan yang merujuk pada asal usul tarian Palembang dan Sumatera Selatan, yang kemudian dipadukan dengan gerakan Budha.

Tarian Gending Sriwijaya pertama kali dipentaskan pada tanggal 2 Agustus 1945 di istana Majid Agung Palembang untuk menyambut kedatangan Moh. Syafeh dan Jamaluddin Adi Negoro dari Bukit Tinggi.

Gending Sriwijaya, Tari Kolosal Penyambut Tamu Raja

Oleh karena itu, tari Gending Sriwijaya disambut pada acara-acara penting dan banyak acara adat seperti pernikahan dan sebagai wahana tarik wisata.

Yang paling unik dari gerakan tari Gending Sriwijaya adalah ketika ibu jari dan jari tengah ditekan, maka terjadi gerakan timbal balik mengikuti irama.

Termasuk filosofi bahwa masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan pada umumnya disiplin, pekerja keras, dan kuat.

Tarian ini menunjukkan ketaatan kepada Tuhan, hormat dan toleransi terhadap sesama melalui gerakan shalat yang diwujudkan dalam gerakan shalat berdiri.

Jenis Jenis Tari Berdasarkan Bentuk Penyajiannya? Berikan Masing Masing 3 Contoh

Komponen gambir harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu sebelum akhirnya digunakan untuk wadah sirih pinang yang melambangkan kesabaran dan pantang menyerah dalam proses mencapai kesuksesan.

Oleh karena itu, jika dirangkum nilai-nilai moral dan budaya tari Gending Sriwijaya meliputi nilai-nilai kepercayaan, kepedulian, kerendahan hati, kerjasama, persatuan, kesabaran, kesetiaan, kemandirian dan kekuatan.

Tarian ini ditarikan oleh 9 orang penari perempuan, 3 orang penari laki-laki dan seorang pembawa lagu Gending Svijia.

Kesembilan penari tersebut merupakan penari utama yang melambangkan Batanghari Sembilan atau sembilan sungai wilayah Sumatera Selatan.

Tari Cenderawasih, Romansa Perpaduan Kasih Di Taman Surgawi

Selanjutnya angka ganjil ini merupakan lambang persatuan dengan seorang pemimpin, representasi sikap batin manusia dalam dunia yang diatur oleh kekuasaan tunggal Tuhan Yang Maha Esa.

Formasinya terbagi menjadi seorang penari utama membawa senjata di depan, dua orang penari berkostum membawa peridon, dan enam orang penari pengiring di sisi kanan dan kiri.

Kemudian opsional penari pria berpayung, dua orang membawa tombak dan satu lagi menyanyikan lagu Gending Sriwijaya.

Posisi berdiri dicapai dengan tangan terlipat, kedua kaki berjinjit, posisi tubuh bagian bawah dan dagu sedikit diturunkan.

BACA JUGA  Sebutkan Bentuk-bentuk Budaya Yang Biasa Terdapat Di Tiap Suku Bangsa

Doc) Sejarah Tari Melayu

Saat berjalan di atas keset, kaki kanan digerakkan atau diletak ke depan, agak miring ke kanan.

Gerakan Kecubung di awal tarian terdiri dari Kecubung di kanan dan kiri bawah serta Kecubung di kiri dan kanan atas.

Gerakan elang terbang diawali dengan kedua tangan dalam posisi menhang, kemudian diayunkan ke atas dan ke bawah sebanyak dua kali.

Gerakan elang terbang juga digunakan pada gerakan tari utama, ditambah dengan gerakan elang duduk yang tidak terdapat pada gerakan tari pembuka.

Tata Busana Tari Kecak, Properti, Beserta Makna Filosofisnya

Gerakan elang dalam terbang melambangkan sikap yang kuat dan konstan dalam melakukan segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari.

Gerakan nyanyian dalam tari Gending Sriwijaya melambangkan ajakan kepada penontonnya untuk menjunjung kebenaran dan terus berbuat kebaikan.

Pada gerakan menanam bunga ini awalnya tangan dalam posisi menyilang, kemudian gerakan tangan kanan seperti menanam bunga, dan tangan kiri berdiri di depan dada.

Saat menarikan gerakan ini, tubuh penari menghadap ke depan, agak ke belakang, kanan tengah dan berlutut di belakang pohon.

Sejarah Tari Pagar Pengantin Khas Palembang

Kembali ke kanan, dilanjutkan dengan gerakan ukulele ke depan, membawa tangan ke posisi tumpang tindih, memberi ketukan dan mengembalikan tangan ke tengah.

Letakkan lengan kanan di atas kepala dan lengan kiri di depan dada, lalu jentikkan jari saat berganti posisi dan menghadap ke arah sebaliknya.

Pada gerakan mendengarkan, kedua tangan yang mula-mula bersilang dibawa ke posisi tangan kanan dan tangan kiri diletakkan di depan dada di atas telinga kanan.

Gerakannya dimulai dengan menyilangkan tangan, dilanjutkan dengan gerakan merenggangkan benang duduk, dilanjutkan dengan gerakan memijat tangan kanan, ukel dan diakhiri dengan doa.

Tari Daerah Di Indonesia Dan Asalnya, Siswa Perlu Tahu

Pakaiannya berbahan beludru yang ditaburi payet berbentuk baju baju undakan sebagai bagian dari budaya Melayu, sehingga tidak memakai patt kemban.

Ketapel terbuat dari bahan kain beludru berukuran 15 x 150 cm dengan hiasan hiasan berupa pelat emas yang diukir indah.

Warnanya emas dan setiap bagiannya melambangkan tingkatan sosial kerajaan, dimulai dari raja paling atas.

Nama-nama gelang tersebut adalah gelang gepeng (bentuk pipih), gelang sempuru (bentuk duri kulit durian), dan gelang thoni (bulat).

Tari Gending Sriwijaya, Simbol Batanghari Sembilan

Tari gending sriwijaya, makna tari gending sriwijaya, kostum tari gending sriwijaya, fungsi tari gending sriwijaya, pencipta tari gending sriwijaya, sejarah tari gending sriwijaya, makalah tari gending sriwijaya, gambar tari gending sriwijaya, penjelasan tari gending sriwijaya, sinopsis tari gending sriwijaya, pengertian tari gending sriwijaya, musik tari gending sriwijaya

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment