Keunikan Vihara Padumuttara

admin 2

Keunikan Vihara Padumuttara – , Jakarta adalah sebuah kuil Budha yang terletak di Vihara Avalokitesvara, Jalan Tubagus Raya Banten atau Banten Lama di Kota Serang. Ia menjadi saksi bisu berbagai perubahan sejarah dan perjalanan spiritual selama berabad-abad. Candi ini merupakan salah satu candi tertua di Banten, yang kaya akan sejarah dan sejarah yang luar biasa.

Vihara Avalokitesvara, juga dikenal sebagai Vihara Boen Tek Bio, memiliki akar yang kuat dalam sejarah Budha di Banten. Biara ini didirikan pada abad ke-5. Pada masa Dinasti Tarumanegara, sebuah dinasti Hindu-Buddha, wilayah ini merupakan pusat kegiatan keagamaan Buddha. Awalnya vihara ini merupakan bangunan kecil dengan struktur sederhana.

Keunikan Vihara Padumuttara

Selama berabad-abad, Kuil Avalokitesvara sangat dipengaruhi oleh budaya Tiongkok. Hal ini terutama terlihat dalam pembangunan dan dekorasi biara. Bangunan pagoda lima lantai yang mengesankan adalah salah satu contoh terbaik perpaduan Tiongkok-Indonesia. Langit-langit berkubah dan ukiran kayu yang rumit merupakan ciri khas biara ini.

Warta Dhamma: Tidak Ada Rūpa, Vedanā, Saññā, Sarkhārā

Menurut informasi yang dihimpun, Vihara Avalokiteshvara didirikan oleh ratu Tiongkok Ong Tien Nio dan beberapa pengikutnya pada tahun 1652 di desa Dermayon.

Kisah putri Tiongkok Ong Tien Nio adalah salah satu legenda paling terkenal yang terkait dengan Kuil Avalokitesvara. Menurut legenda tersebut, Ong Tien Nio adalah seorang putri Tionghoa yang berkunjung ke Banten pada zaman dahulu. Dia adalah pengikut setia agama Buddha, mengabdi pada pemujaan dan pelayanan Buddha Avalokitesvara.

Putri Ong Tien Nio adalah seorang pengusaha. Ia konon memberikan kontribusi besar dalam pembangunan dan pemeliharaan Biara Avalokitesvara. Ia terlibat dalam desain dan pembangunan beberapa bagian penting gereja ini, termasuk patung Avalokitesvara yang menjadi tempat ibadah utama di gereja tersebut. Masa tinggalnya di biara merupakan inspirasi bagi banyak umat Buddha dan merupakan bagian penting dari sejarah biara.

Legenda mengatakan bahwa Putri Ong Tien Nio adalah seorang saudagar yang sering menjelajahi perairan antar pulau untuk berdagang. Awalnya dia berencana pergi ke Surabaya. Namun sesampainya di wilayah Banten dan melihat cahaya berdiri di Kali Kemir, ia memutuskan untuk pulang. Dia mengharapkan yang lebih baik dari angin barat daya.

BACA JUGA  Diketahui Sebuah Balok

Bangunan Tua Di Tangerang Yang Bersejarah Dan Keunikannya

Ketika Putri Ong Tien tiba di Provinsi Banten yang saat itu diperintah oleh Sultan Sarif Hidayatullah, takdir membawa peristiwa yang mengubah jalannya. Putri ini menikahkan Ong Tien dengan Sultan Sarif Hidayatullah. Setelah menikah, Putri Ong Tien pindah ke Kirebon, di mana ia bergabung dengan Walisongo, Sultan Sarif Hidayatullah, yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Selain itu, di bawah kepemimpinan Putri Ong Tien, sekitar 3.500 orang mendirikan komunitas Tionghoa di dekat Karangantu yang disebut Kampung Baru. Setelah berkemah, mereka terpecah menjadi dua agama, Islam dan Budha, yang dibuktikan dengan dibangunnya Vihara di dekat Masjid Pakina Tinggi.

Keunikan Vihara Avalokitesvara Banten tidak hanya terletak pada keindahan bangunan dan keragaman agama, namun juga kisah magis yang melingkupinya.

Salah satu kisah yang menggambarkan kehebatan gereja ini adalah tsunami tahun 1883. Gelombang tsunami yang menghancurkan banyak tempat saat itu tidak sampai ke gereja, malah menjadikannya tempat perlindungan bagi mereka yang mencari pertolongan.

Vihara Dharma Dwiepa

Tingginya tsunami setinggi pohon kelapa di luar gereja, namun yang di dalam tetap selamat. Peristiwa ini dianggap sebagai keajaiban dan menunjukkan kedalaman makna dan ketakutan yang terkait dengan biara.

Selain itu, ada versi lain tentang berdirinya Vihara Avalokitesvara di Banten yang kaya akan sejarah. Menurut sumber, vihara ini dibangun pada masa keemasan Kerajaan Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirthayasa. Kehadiran gereja kerajaan ini mencerminkan pengaruh agama Buddha terhadap budaya dan kehidupan masyarakat Banten saat itu.

Tak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Buddha, di vihara ini juga terdapat gerbang Kuil Tri Dharma yang indah melambangkan keberagaman agama. Atap gapura ini dihiasi dua buah naga yang melambangkan tiga agama Kog Hu Ku, Taoisme, dan Budha yang mengabdi pada vihara.

Vihara Avalokitesvara terbuka untuk umum, sehingga siapa pun dapat datang dan merasakan spiritualitas batin, menciptakan cerita dan pengalaman spiritual mereka sendiri.

Vihara Patung Seribu Di Tanjungpinang

* Benar atau salah? Untuk mengecek keakuratan informasi yang dibagikan, hubungi WhatsApp Fact Check di 0811 9787 670 dengan memasukkan kata kunci yang diperlukan. Kami akan mempersiapkan Waisak besok.

BACA JUGA  Perbandingan Genotipe

“Untuk persiapan esok hari yang terpenting adalah mendekorasi altar, menyiapkan sayur mayur, bunga, hingga membersihkan tempat ibadah,” kata Anjua, pegawai Vihara Padumuttara, pada Selasa (25 Mei 2021). .

Masih pada masa bencana, Vihara Padumuttara membatasi akses jamaah dan mewajibkan umat Buddha beribadah dengan menggunakan masker dan mengikuti pedoman kesehatan.

“Beberapa menit 18:13 WIB.” Pada peresmian kami akan menyambut seluruh ketua Boyen Teck Bio, Direktur Vihara dan Bhikhu Sang,” tutupnya. (Dita)

Band Sienna Dari Vihara Padumuttara Juarai Buddhist Band Festival 2012

Tangerang, – Universitas Raharjah (UR) Tangerang merencanakan penelitian akademis untuk meningkatkan pendidikan sumber daya manusia. “Saat ini persaingan sangat ketat sehingga pengembangan personel kami semakin meningkat dari segi kualifikasi akademik. Kami selalu bekerja dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan sesuai visi dan misi […]

Tangerang, – Kejuaraan Bola Voli Nasional (Kejurnas) yang diselenggarakan oleh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVI) dan Mantan Pemain Bola Voli Indonesia (MAVI) digelar di Gondrong pada Minggu (19/11/2023) hingga Minggu (26/11/2023). . GORE, Sipondo, Kota Tangerang. Anggota MAVI Banten Bambang Siswantoro 70 […]

TANGERANG, – Balai Media Center (BMC) Tangerang Raya menggelar diskusi peningkatan kesadaran politik tahun 2024 di TangCity Mall pada Jumat (17/11/2023). Direktur Utama Hendrik Simorangkir mengatakan pembahasan tersebut terkait dengan program pers. Untuk meningkatkan kesadaran akan sejarah panjang dan tradisi universitas, yang sangat mempengaruhi arsitektur Indonesia. Misalnya saja beberapa bangunan tua di Tangerang yang menjadi saksi bisu kebudayaan Indonesia dari masa penjajahan hingga masa pasca kemerdekaan RI.

Perpaduan budaya dari berbagai daerah membuat kita bisa melihat bangunan khas dari berbagai daerah dan negara di Indonesia.

Berdoa Dan Berwisata Di Vihara Boen San Bio

Misalnya saja di Tangerang, kita bisa melihat beberapa bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan peradaban dan arsitektur Indonesia.

Kelenteng Boen Tek Bio merupakan sebuah bangunan tua di Tangerang yang menjadi bukti sejarah pemukiman etnis Tionghoa Benteng di Tangerang.

Masjid Kali Pasir Jami juga merupakan bangunan tua di Tangerang peninggalan Dinasti Pajajaran yang memiliki sejarah panjang.

Seperti halnya Kelenteng Boen Tek Bio, bangunan tua di Tangerang ini juga menjadi saksi berkembangnya peradaban masyarakat etnis Tionghoa di Tangerang.

Pdf) Komunikasi Transendental Sembahyang Buddha Mahayana (studi Semiotika Sembahyang Di Vihara Padumuttara Tangerang)

Pengerjaan bendungan ini sangat penting karena mampu mengairi 400 ribu hektare sawah di Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, dan Jakarta.

Tangerang sering disebut sebagai kota benteng karena VOC pernah membangun benteng untuk melindungi Kesultanan Banten di sepanjang Sungai Sisadan.

BACA JUGA  Dinasti Idrisiyah Didirikan Pada Masa Khalifah

Bangunan pasar yang terletak di dekat Sungai Isadan ini juga disebut-sebut sebagai pasar tertua dan terdepan di Tangerang.

Saat itu, Mayor Daan Mogot memimpin puluhan pelajar Akademi Militer Tangerang dan melucuti senjata tentara Jepang di Desa Lengkong.

Ratusan Pengunjung Berlibur Di Patung Seribu

Tangerang: KPR resmi, beli rumah di serpong, hiburan, tangerang, hunian, tangerang, ide rumah di serpong, ide jalan-jalan di tangerang, beli rumah, beli rumah, beli rumah, beli rumah di serpong, beli dan jual rumah Jual Rumah di Tangerang Serpong, Ajukan Pinjaman Resmi, Kuliah di Serpong, Tips Jual Rumah di Tangerang, Tips Top, Tips Berwisata di Tangerang Tour Doga dan Vihara Boen San Bio – Pemimpin Ibadah memulai ibadah di ruang Dammasala, Boen Vihara San Bio. Mereka meletakkan tangan mereka di dahi dan kemudian di dada sambil berdoa satu per satu. Mereka juga melakukan namaskara (menyilangkan kaki) setelah pemimpin kebaktian.

Arahang sammâ Sambuddho Bhagavâ. Imehi sakkarehi Tang Bhagavantang abhipujayama. Svâkhâto Bhagavatâ Dhamma. Imehi sakkarehi Tang Dhammang abhipujâyama. Supatpanno Bhagavato sâvâakâ sangho. Imehi sakkarehi Tang Sanghang abhipujâyama.

Ibadah keagamaan yang diselenggarakan oleh Departemen Kerohanian diadakan rutin setiap minggunya. Sebelum memasuki aula Dhammasala, Anda akan disambut oleh patung Devi Kwan Im Pau Sati setinggi tiga meter. Saya memasuki ruang pelayanan dan di depan altar ada patung Buddha dengan ketinggian yang sama. Pengikut ajaran Theravada melafalkan Parita Suci ketika mereka berdoa lagi.

Aku bisa mencium bau pasir di hidungku. Mataku sakit karena asap. Suasana meriah menyatukan semua orang saat doa dipanjatkan.

Waisak Di Vihara Padumuttara, Batasi Jamaah Hingga 15 Persen

“Selama kebaktian, kami biasanya membaca Parita, mendengarkan dhama (khotbah) dan melakukan dharmagita,” kata Albert, petugas administrasi yang mengawasi operasional vihara sehari-hari.

Lalu aku melihat sekeliling. Tempat ini sungguh istimewa. Di atap bangunan induk terlihat seekor burung fenghuang dengan mutiara di tengahnya.

Saat memasuki vihara yang dibangun oleh Lim Tau Ken pada tahun 1689 ini, ratusan lampion berwarna merah tergantung rapi di langit-langit. Nama masing-masing senter ada di bawah. Ini mewakili perwujudan doa orang, sehingga Buddha menjawab doa mereka.

Halaman pertama memuat Tian Sin terbesar di Indonesia. Dengan berat 4.888 kg, panjang 120 cm, dan diameter 150 cm, pedupaan atau tempat dupa ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Tian sin merupakan jenis marmer langka yang berasal dari Onyx, Poso, Sulawesi.

Kelenteng Boen San Bio, Kemegahan Yang Tak Pernah Pudar

Kuil ini tidak hanya terbuat dari batu onyx, tetapi juga dari seluruh gambar Vihara Boen San Bio. Dan monumen-monumen tersebut hendaknya dipajang dengan megah dan tidak dihancurkan oleh api.

Boen San Bio sebagian besar berwarna merah, kuning dan biru

Vihara bodhigiri, vihara dharmasagara, vihara lembang, vihara padumuttara tangerang, vihara mahavira, vihara, vihara padumuttara, vihara borobudur, vihara kenjeran, vihara vipassana, padumuttara, keunikan

Artikel Terbaru

Leave a Comment