Kostum Tari Mappadendang

administrator

0 Comment

Link

Kostum Tari Mappadendang – Memang kehadiran Mappadendang Ugi di Bakukiki (Parepare) sebagai tradisi budaya masyarakat Bugis sudah ada sejak berdirinya Kerajaan Bakukiki pada abad ke-14. Tradisi ini juga ada ketika para pelaut Eropa berkunjung pada abad ke-15 (Pelras: Orang Bugis, 26-27). Sampai pada masa penyebaran Islam di Kerajaan Wajo pada tahun 1610 (Palippoi: 41-43).

Kerajaan Bakukiki merupakan salah satu kerajaan yang menjadi sasaran migrasi penganut aliran “Attoriolong” yang meninggalkan Kerajaan Wajo. Penganut Attoriolong masih melestarikan kepercayaannya secara turun temurun, termasuk berbagai tradisi, salah satunya Mappadendang Ugi.

Kostum Tari Mappadendang

Kesenian rakyat merupakan warisan seni budaya masyarakat Baku yang mengandung unsur kebudayaan, musik, puisi, lagu, tari, dan sering dipadukan dengan seni pencak silat. Seni budaya yang dinamis ini disebut Ritual karena lahir dari agama Attoriolong (agama/kepercayaan masyarakat zaman dahulu) yang muncul pada I la Galligo, berabad-abad sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Irama Angklung Di Acara Ri Sing 50 Design Bazaar

Sebagai sebuah kesenian tradisional, masyarakat Bugis yang sebagian besar beragama Islam, khususnya masyarakat Bakukiki, masih mempertahankan Mappadendang Ugi, meski bukan sesuatu yang lebih dari sekedar tradisi. Namun masyarakat Bakukiki yang masih memegang teguh kepercayaan Attoriolong yang dikenal dengan sebutan Tolotang selalu menyelenggarakan Mappadendang Ugi dari waktu ke waktu yang di dalamnya seluruh masyarakat Bakukiki yang beragama Islam ikut terlibat, meskipun keikutsertaan tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan mereka. kegiatan seni dan sosial. .

Mapedendang Ogi dianggap sebagai cara mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang terjadi pada saat-saat tertentu, misalnya: panen raya, mengikrarkan nazar setelah sembuh dari suatu penyakit, atau saat air surut setelah beberapa hari terendam banjir. Selain itu, praktik seni ini dianggap sebagai tanda penguatan, yang terjadi, misalnya dengan tanda-tanda alam; Gerhana bulan, gerhana matahari dll dengan harapan agar masyarakat didaerah tersebut terhindar dari wabah penyakit atau bencana alam.

Karya tradisional sebuah festival musik tradisional memerlukan kondisi khusus sesuai dengan kepentingan acara yang ingin diselenggarakan oleh pihak penyelenggara. Pemilihan lokasi diubah sesuai dengan tujuannya. Biasanya diadakan di tempat terbuka yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang merupakan pohon keramat bagi masyarakat. Biasanya dilakukan oleh orang yang mempunyai sumpah (janji) yang diadakan di dalam atau di dekat pekarangan tempat tinggalnya. Biasanya waktu/hari yang dipilih adalah hari Kamis atau Kamis malam terakhir pada bulan tersebut menurut penanggalan lunar Arab, demikian disebut: coppo’ kamisi’.

Jika terjadi saat gerhana bulan, maka tidak selalu terjadi pada Kamis sore, melainkan pada malam terjadinya gerhana bulan. Kali ini peserta Mappadendang Ugi menyanyikan lagu atau meneriakkan kata-kata keyakinan: “luani anringmu naga, aja’ nakame’ linoe” (Hancurkan adikmu, hai naga, jangan sampai dunia kiamat). Dulu, masyarakat Bugi percaya bahwa gerhana bulan terjadi karena naga langit sedang bermain-main dengan adiknya, bulan. Naga itu sering marah pada adiknya, jadi dia memasukkannya ke dalam mulutnya.

BACA JUGA  Raden Bintang Soedibjo

Festival Fundariser 2023

Pemimpin tradisi Mappadendang Ugi biasanya adalah Bissu (pendeta spiritual Bugis), Puang Matoa atau Sanro Wanua (dukun desa). Pesertanya adalah laki-laki dan perempuan yang bersih. Alat yang digunakan adalah lesung dan alu. Mereka bersatu secara serempak (harmoni), sehingga terciptalah irama yang indah. Mereka mengetuk potnya dengan keras dan mengundang penonton untuk bergabung. Permainan berlangsung di tengah kericuhan, diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan penonton bagi peserta laki-laki agresif yang dipanggil “Ambo’na” (ayah) atau peserta perempuan terkemuka yang dipanggil “Indo’na” (ibu). Seiring dengan dukungan penonton, para peserta semakin agresif dalam mendukung selebrasinya di atas lumpur dan menciptakan ritme yang berirama, diiringi dengan tarian atau gerakan pencak silat yang berpasangan, dengan tangan kosong, atau bersama rombongan. Peserta perempuan memukul palu dengan tetap menjaga ritme dasar, peserta laki-laki memperkuatnya dengan gesekan yang menimbulkan variasi ritme namun tetap menjaga harmoni. Terkadang penonton juga menari mengelilingi lumpur yang dikelilingi peserta sehingga menciptakan persahabatan antar warga desa.

Semakin malam, inisiasi Mappadendang Ugi semakin riuh. Terkadang hal magis terjadi ketika salah satu peserta atau penonton dirasuki makhluk gaib. Pembawa Acara dengan cepat mengejanya kembali. Puncak acara adalah ketika tokoh masyarakat yang duduk di kursi khusus menuju tengah stadion untuk “jama” (mengawal) pemain kesayangannya dengan amplop berisi uang. Dia menaruh amplop itu di saku bajunya atau di tengah kepalanya. Setelah itu disusul oleh penonton lainnya, sehingga setiap peserta Mapandang Ugi diberikan amplop sebagai makanan malam itu. Beberapa orang lainnya ikut menari dan diakhiri dengan penilaian tulus terhadap para peserta.

Kesenian tradisional Mappadendang Ugi ini sebenarnya mempunyai fungsi sosial. Interaksi sosial antar masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat berkaitan dengan karya seni. Selain itu, pameran ini juga bisa digelar sebagai wadah untuk menjodohkan generasi muda. Fungsi lainnya sebagai hiburan tidak sama dengan musik dangdut masa kini yang terdengar menggairahkan dengan tarian sederhana. Kesenian rakyat yang menakjubkan ini diciptakan dengan formula suara, namun dengan peralatan sederhana dan tanpa panggung teater. diselenggarakan di ruang terbuka sebagai interaksi yang tinggi antara alam dan manusia yang hidup di dalamnya. Artikel ini membahas tentang tari Padupa sebagai salah satu kesenian daerah Bugis-Makassar yang sering dipentaskan untuk menyambut pengunjung. Pembahasan terfokus pada sejarah tari Padup, hakikatnya, makna hidup serta nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal tari Padup. Konon dahulu tarian ini dibawakan untuk raja-raja pada pesta-pesta dan pernikahan. Namun seiring perkembangan zaman, tari Paduppa dapat dipentaskan pada setiap kesempatan dan dapat ditarikan secara bebas oleh siapa saja (perempuan). Tarian Padup diiringi musik tradisional yang dibawakan oleh wanita berpakaian Bodo, dan gerakan menabur padi sebagai tanda penghormatan kepada pengunjung.

BACA JUGA  Tts Tentang Globalisasi

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan, khususnya penelitian yang didasarkan pada penelitian kepustakaan, mengkaji buku-buku dan karya ilmiah yang ada sebagai informasi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai masalah yang akan diteliti.

Lagu Daerah Sulawesi Selatan Yang Mengiringi Tari 4 Etnis

Beragamnya budaya dan tradisi Indonesia, keragaman dan keunikannya membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Berbagai kebudayaan bangsa, baik adat istiadat, nilai-nilai budaya maupun adat istiadat, mempunyai identitas dan keunikan tersendiri. Jelaslah bahwa kebudayaan erat kaitannya dengan masyarakat karena masyarakatlah yang menciptakan dan mewarisi kebudayaannya.

Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah timur Indonesia. Secara geografis berbatasan dengan Selat Makassar di barat, Laut Flores di selatan, Bain Buh di tenggara, dan Provinsi Sulawesi Tengah di utara. Topografi alam wilayah Sulawesi Selatan turut menyumbang keragaman budaya dan suku yang ada.

Sulawesi Selatan dengan budaya terkuatnya berasal dari empat suku asli yaitu Bugis, Makassar, Toraja dan Mamasa. Setiap suku bangsa yang tinggal di Sulawesi Selatan mempunyai perbedaan budayanya masing-masing. Suku Bugis bisa dikatakan merupakan kelompok terbesar di Sulawesi Selatan, bermukim di kabupaten Bin, Sopeng, Wajo, Sinjai, Sidenreng Rappang, Barru, Pinrang dan Pare-Pare. Saat ini Pulau Pangkajene dan Bulukumba merupakan pemukiman sementara yang juga dihuni oleh masyarakat Makassar. Sulit membedakan kedua kelompok tersebut sehingga sering disebut Bugis-Makassar.

Kebudayaan merupakan hasil ciptaan manusia. Kebudayaan lahir dan berkembang dalam komunitas yang mendukungnya. Seringkali budaya lahir dari kesenian lokal pada komunitas tertentu. Sulsel pun demikian, banyak sekali jenis kesenian daerah yang masih bisa disaksikan bahkan hingga saat ini, antara lain Mappadendang Ogi, Ma’badong, Tari Pagellu, Genrang Ogi, Gandrang Bulo, Upacara Mappande Banua, Seruling Bulatta, Upacara Adat Gaukang dan masih banyak lagi. yang lain. . Lebih seperti pesta, tarian, dan permainan. Dari seluruh kearifan lokal yang ada, kearifan lokal inilah yang memperkaya arsip budaya yang mengungkap nilai-nilai dan kepercayaan sosial yang menarik. Salah satu tradisi lokal yang sering terlihat di awal acara adalah tari Padupa. Tari Paduppa yang merupakan tarian tradisional suku Bugis-Makassar yang mirip dengan penyambutan tamu ini mempunyai sejarah, nilai kearifan lokal dan arti pentingnya dalam kehidupan yang akan dibahas pada artikel kali ini.

BACA JUGA  Tindakan Berikut Yang Dapat Dikategorikan Sebagai Proses Pengenalan Pola Adalah

Makan Malam Bersama Mahasiswa Universidad San Fransisco De Quito (usfq)

Tari merupakan bentuk gerak yang berbeda dengan senam, pencak silat, akrobatik, atau pantomim. Sebagai sebuah seni, tari mempunyai ciri khas yang berbeda dengan seni lainnya. Tarian seringkali mempunyai unsur gerak, irama, keindahan dan ekspresi. Selain itu, tari mempunyai aspek ruang, tenaga dan waktu. Ruang berkaitan dengan lokasi, kualitas, dan akses.[3] Posisi berhubungan dengan melihat arah dan arah gerak. Arah arah seperti melihat ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri, arah gerakan seperti ke depan, ke belakang, berbelok, atau zig-zag. Tinggi badan berhubungan dengan tinggi badan dan posisi duduk rendah, sedangkan tinggi badan berhubungan dengan berdiri berjinjit atau melompat-lompat. Jangkauan berkaitan dengan gerakan panjang atau pendek, gerakan besar atau kecil.[4] Tenaga sangat diperlukan dalam seni tari, karena dengan tenaga maka tari yang dibawakan menjadi lebih kreatif, diperlukan pula penghayatan dan pemaknaan.

Tarian merupakan salah satu bentuk pertunjukan yang sudah ada sejak lama atau sudah ada sejak zaman dahulu dan berkembang hingga saat ini. Dahulu, tari merupakan bagian yang sangat penting dalam praktik kehidupan bermasyarakat yang berkaitan dengan siklus hidup manusia sekaligus menjaga kelangsungan hidup manusia. Hubungan dengan alam khususnya individu, dan sebagai wujud rasa syukur, menolak ancaman bahaya supranatural, baik dari luar maupun lingkungan, serta menyadari bahwa seseorang misalnya telah menjadi warga baru di daerahnya. lingkungan sosial. , seperti tarian saat kelahiran, khitanan, ritual perkawinan dan kematian.[5] Penjelasan di atas sejalan dengan pendapat Soedarson yang menyatakan bahwa dalam masyarakat Indonesia yang nilai-nilai kehidupan pertaniannya masih sangat kental, banyak tarian yang mempunyai fungsi tradisional. Pekerjaan ritual tidak hanya berkaitan dengan peristiwa dan kehidupan yang dianggap penting, seperti kelahiran, tumbuh gigi, potong rambut pertama kali, keturunan, khitanan, perkawinan dan kematian, berbagai kegiatan penting juga memerlukan seni pertunjukan, seperti berburu;

Harga kostum tari merak, tari mappadendang, download video tari mappadendang, video tari mappadendang, lagu tari mappadendang, kostum tari, kostum tari gopala, kostum tari kucing, download tari mappadendang, jual kostum tari tradisional, sewa kostum tari, kostum tari cilinaya

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment