Nafidzatun

administrator

0 Comment

Link

Nafidzatun – Sore itu, dua santri dari SMP Pondok Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) di Mlagen, Rembang sedang asyik berlatih di atas perahu kayu di depan pondok pesantren. Mereka memproduksi konten untuk saluran YouTube Planet NUFO. “Anggap saja tidak ada kamera dan tidak ada yang memperhatikanmu,” kata Wildan, siswa kelas 9, yang menyemangati rekan presenternya, Lia. Agar terlihat lebih segar, Lia merobek daun jati yang tergantung di atas kepalanya dan menekannya. Lalu dia mengoleskannya tipis-tipis ke bibirnya. “Itu biasa Bu, tidak usah pakai lipstik,” kata Lia sambil tertawa lirih. Sebagai peserta Planet NUFO yang baru pertama kali, saya sangat terkejut melihat hasilnya.

Setelah mengulangi proses registrasi beberapa kali, Lia pun bisa memulai percakapan. “Assalamu’alaikum halo teman-teman, selamat datang di Planet NUFO. Saat ini Planet NUFO kedatangan pengunjung dan teman. Abah adalah teman Nasih dan mengenyam pendidikan di dua negara. Penasaran dengan perjuangannya belajar di luar negeri? Ayo tanya-tanya…” kurang lebih begitulah Lia mengawali bagian pembuka kontennya. Diminta menjadi bintang tamu oleh dua mahasiswa, aku langsung menjawab tiga pertanyaan utama Lia. Pertanyaan pertama adalah kenapa aku melakukan ini. . Dia lebih tertarik untuk belajar di luar negeri. Pertanyaan kedua lebih fokus pada persiapan apa saja yang diperlukan untuk belajar di luar negeri. Pertanyaan terakhir mencoba mendalami subjeknya.

Nafidzatun

(Aku rindu) keluargaku di rumah. “Planet NUFO… beda dan terbaik. Cerdas, kaya, berkuasa. Sampai ketemu lagi Assalamu’alaikum,” ucap Lia mengakhiri proses pendaftaran yang telah berlangsung sejak selesainya sholat ashar berjamaah dan berakhir sekitar pukul .

Lakukan Penyelamatan Heroik, Gelandang Liverpool Banjir Pujian

Saya senang melihat antusiasme kedua Sanja (siswa muda) ini dalam meningkatkan keterampilannya dalam memanfaatkan media sosial secara positif. Sore itu, setelah salat Dzuhur di Planet NUFO, mereka mendatangi saya dengan selamat. Mereka meminta saya untuk membagikan pengalaman saya belajar di luar negeri di saluran YouTube sekolah mereka. Karena hujan, kami sepakat perekaman dilakukan setelah shalat Ashar. Kami hanya ngobrol sambil menunggu hujan reda. Siti Nafidzatun Naylia (Lia), asal Pati, belajar di Planet NUFO selama 2,5 tahun. “

BACA JUGA  Cara Kita Menyusun Dan Mengatur Objek Gambar Model Merupakan

Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya pulang ke rumah. Saya anak terakhir, ibu saya tidak mengizinkan saya belajar jarak jauh. Kebetulan Paklik adalah teman Abah saya dan dia ditawari belajar di Planet Nufo. Saya menangis dan saya ingin datang ke sini. Akhirnya, ibu saya yakin akan kesucian saya. Situasinya berbeda sekarang, dulu tidak ada bangunan seperti itu. Dulunya hanya ada satu rumah bambu, satu perpustakaan, dan dua asrama. Ibuku terkejut, bagaimana keadaan tempat ini sejauh ini, apa yang akan terjadi selanjutnya? Saya akhirnya mencoba untuk tinggal satu hari tetapi merasa seperti di rumah sendiri.

Sedangkan M. Wildan Mahdian Sodiqi (Wildan) yang berasal dari Kendal baru belajar di Planet NUFO selama 1,5 tahun. Wildan pertama kali berkuda ke tempat lain ketika dia duduk di bangku kelas 7 SD. “Awalnya dia ditawari belajar di sini, tapi dia masih ragu. Nantinya, seluruh siswa dipulangkan selama pandemi. Motivasi saya untuk belajar menurun. Ibu saya adalah kakak kelas Abah ketika MA menyarankan saya untuk belajar di sini. Itu lebih dari yang saya harapkan setelah membaca di sini. “Saya senang,” kata Wildan.

Wildan dan Lia sangat terkesan dengan metode pembelajaran yang diterapkan di Planet NUFO. Pagi hari diawali dengan sholat tahajud, dilanjutkan dengan sholat subuh berjamaah dan belajar. Mahasiswa kemudian membaca dan menghafal Al-Quran, mengambil mata kuliah inti dan mata kuliah peminatan seperti Media dan Komunikasi, Videografi, Ilmu Perkembangan, Matematika Perkembangan, Menulis, Bahasa Asing (Inggris, Arab dan Mandarin), IPS, Tari. , Band musik). ) dan kaligrafi. Selain itu, mereka belajar mengambil tanggung jawab dengan menjaga kebersihan kandang dan merawat hewan dan tumbuhan pilihan. Wildan yang bercita-cita menjadi salah satu dari mereka mengatakan, “Rindu terhadap orang tua terkadang menghalangi perencanaan banyak kegiatan.”

BACA JUGA  Harga Air Mineral Gelas 1 Dus

Arabic Root System Overview

Namun, diakuinya terkadang sulit meluangkan waktu untuk kegiatan belajar dan mengingatnya. Lia juga merasakan hal yang sama. Lia yang bercita-cita menjadi seorang dokter dan fotografer penghafal Al-Quran ini mengatakan, “Di sini kalian bisa belajar dimana saja, tidak terbatas di ruang kelas. Kita juga bebas menentukan minat kita.”

Rasa persaudaraan antara guru dan siswa serta antar siswa yang tergabung dalam sistem pendidikan di Planet NUFO juga membuat kedua Sanja tersebut terasa berbeda dengan sistem pendidikan Indonesia pada umumnya. “Setiap semester saya pulang kampung, saya malah tidak betah. Sekarang bagaimana dengan NUFO, ya tuhan aku rindu belajar bersama teman-temanku. Aku tidak punya teman di rumah. “Saya tidak keberatan pulang setahun sekali,” kata Lia. Wildan juga sama; Baginya, kedekatan antara siswa dan guru adalah yang terpenting. Dulu ada hambatan, dimana saya bisa bercanda, berbagi, hingga saya menjadi seperti ayah saya sendiri. Teman itu seperti saudara, kata Wildan.

Saat ditanya siapa panutannya, kedua Sanja itu menjawab serentak: “Abah Nasih.” Lia punya alasan kuat. “Karena itu nyata,” kata Lia. Kata Lia, “Kami melihatnya berbeda. Di pesantren lain, kiainya lebih tinggi. Di sini kalau tamu pakai kamar Abah, Abah bisa tidur di mana saja. Bahkan di dalam mobil.” Pandangan Wildan juga sama. “Umumnya di sini ulama lebih disegani, tapi di pesantren lain ada doktrin bahwa adab lebih unggul dari ilmu. Ngomong-ngomong, Nasih sendiri yang diajarkan Abah di sini, ilmu itu dasarnya. itu.” bisa beradab. Bagi Lia dan Wildan, ada 10 hikmah dari Abah yang menjadi bekal hidup mereka. Bersama-sama mereka mengatakan: 1) jujur; 2) disiplin yang kejam; 3) baik hati; 4) kerja keras; 5) cinta kerja; 6) kepemimpinan; 7) kerjasama, sinergi dan persaingan; 8) hidup tertib; 9) pandai menjual ide; dan 10) pasangan hidup yang suportif.

BACA JUGA  Berikut Ini Yang Harus Dipersiapkan Dalam Memerankan Teks Fabel Kecuali

Ketika saya bertemu dengan dua Sanja ini, saya berpikir sedikit. Generasi milenial yang paling sering berinteraksi dengan saya mengutamakan kepentingan

Kata Benda Muannas , Bahasa Arabnya Dan Bahasa Latinya , Makasih​

Dibandingkan dengan kolektif. Ada hal yang tidak bisa dibagikan, seperti berbagi kamar dengan lebih dari satu orang, makan dari tempat yang sama, meraih kesuksesan bersama. Saya juga tumbuh di lingkungan yang tidak menyukai kolektivisme dalam beberapa masalah. Untuk saya

Sangat penting Namun kedua Sanja ini membuatku sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari diriku sendiri. Persaudaraan dalam Islamlah yang membuat kita lebih berempati, mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan orang lain di atas kepentingan kita sendiri. Nurul Furqon (NUFO) benar-benar memberikan cahaya berbeda bagi penghuni Planet NUFO. Lampu tersebut akan terus bersinar dan tidak akan pernah padam karena warga saling berbagi lampu. Abah akan selalu menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa. Terima kasih Abah karena telah memberiku ruang seluas-luasnya dan mengizinkanku “mengalami” dan merasakan kehidupan di Planet NUFO, meski hanya 24 jam.

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment