Nama Hari Raya Keagamaan Umat Yang Merayakan Tujuan Perayaan

Nama Hari Raya Keagamaan Umat Yang Merayakan Tujuan Perayaan – – Hari raya agama Hindu adalah hari suci dimana umat Hindu melakukan upacara suci untuk memuja Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, atas segala nikmat-Nya bagi umat manusia. Pelaksanaan upacara sakral dilakukan sesuai dengan hari raya agama Hindu, ada yang berdasarkan sasih, pawukon atau wuku sebagai pengumuman. Jenis-jenis hari raya agama Hindu adalah sebagai berikut:

Hari besar keagamaan Hindu diadakan setahun sekali, ada dua yang populer di Indonesia yaitu Festival Nyepi dan Festival Siwa Latri

Nama Hari Raya Keagamaan Umat Yang Merayakan Tujuan Perayaan

Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari ini jatuh menurut catatan Tillem Kesanga (IX), yang diyakini sebagai hari penyucian para dewa yang berada di tengah lautan yang merupakan inti dari air kehidupan abadi yang dibawanya. Untuk alasan ini, umat Hindu memujanya.

Peringatan Isra Miraj Di Smkn 12 Malang

Sivaratri adalah festival dan perayaan Hindu yang diadakan setiap tahun untuk merayakan turunnya Dewa / Siwa. Festival ini juga dikenal sebagai padmarajaratri. Nama atau pengucapan alternatif adalah Maha Siwaratri. Sivaratri secara harfiah berarti malam besar turunnya Siwa.

Hari Raya umat Hindu yang dilaksanakan atas dasar Wuku atau Pawukon dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain Hari Raya Galungan, Hari Raya Kuningan, Hari Raya Saraswati dan Hari Raya Pagerwesi. Adapun Hari Raya, dapat dijelaskan seperti ini:

Hari Raya Galungan diperingati umat Hindu setiap 210 hari sekali dengan penanggalan Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma.

Festival Kuningan adalah festival yang dirayakan oleh umat Hindu Dharma di Bali. Festival ini jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, wuku Kuningan. Liburan ini diadakan setiap 210 hari dengan kalender Bali. Sepuluh hari setelah hari raya Galungan.

Sejarah Hari Raya Galungan Dan Maknanya Bagi Umat Hindu & Bali

Hari Raya Saraswati adalah hari turunnya Ilmu. Umat ​​Hindu Dharma di Bali merayakannya setiap 210 hari dengan kalender Bali pada hari Sabtu, Umanis, Watugunung. Pada hari Saraswati, Dewi Saraswati dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan dan seni.

Hari Raya Pagerwesi jatuh setiap hari Rabu Kliwon wuku Sinta. Hari ini diperingati untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru.

Buda Kliwon adalah festival untuk memuja dewa Sanghyang Shiva Mahadewa sebagai dewa dari segala dewa. Pada hari ini dalam penanggalan Bali, sangat baik melakukan bhakti kepada para dewa. Pada festival ini, umat memohon berkah keselamatan dan memohon pencairan mala/kotoran yang ada di Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

BACA JUGA  Cara Eceng Gondok Melindungi Diri

Tumpek adalah festival upacara umat Hindu yang dirayakan setiap hari Sabtu atau saniskara dengan kliwon (“panca wara”; rumus menghitung wariga dan kecantikan sesepuh dalam kalender Bali), sebagaimana disebutkan dalam kutipan artikel Parisada Hindu Dharma, Tumpek Landep dan signifikansinya.

Surat Edaran Menteri Agama Nomor Se 19 Tahun 2021

Disebutkan ada beberapa tumpek di antaranya, yaitu Tumpek Landep, pada masa itu masyarakat memuja Hyang Pasupati atas ciptaannya, sehingga bila ditelaah oleh masyarakat dengan bantuan ketajaman gnananya. Kemudian Tumpek Ubuh atau Tumpek Wariga pada saat ini orang memohon perlindungan tumbuhan, pada Tumpek Kuningan orang meminta kepada Dewa dan Pitara-Pitara dunia untuk memberikan anugerah-Nya berupa sembako, pada Tumpek Klurut orang meminta ciptaan-Nya suara suci / tabuh dalam keindahan dan seni, pada Tumpek Uye (Tumpek kandang) orang berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan pencipta dan pemelihara hewan dan pada Tumpek Wayang orang berterima kasih kepada Hyang Iswara atas ciptaannya.

Hari ini disebut dengan pentahbisan Sang Hyang Manik Galih yang telah membawa Sang Hyang Ongkara Mreta ke bumi. Ibadah dilakukan di atas takhta dan di atas tempat tidur. Upacara : pembersihan canang, canang yasa, asap dupa dan wewangian. Itu dipersembahkan di hadapan Kemulan, pemujaan dewi Sang Hyang Çri Nini, untuk terciptanya kemakmuran dunia dan untuk kehidupan dan kehidupan untuk menemukan keselamatan. Pada malam hari dilakukan Dhyana dan Yoga semadhi, membuat buddhi suksma, melepaskan atau memadamkan indera, membuat tujuan suksma suci.

Hari ini disebut penyucian (penyucian) Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati. Ibadah dilakukan di atas takhta dan di atas tempat tidur. Widhi widananya: canang resik, canang yasa, kernbang pepayasan, puspa harum dan asap dupa astanggi. Dengan hening seluruh jiwa, saya berdoa untuk keselamatan dunia dengan segala isinya dan keselamatan rumah tangga untuk menerima berkah hari tua. Setelah melakukan upacara sembahyang, kemudian dilakukan metirtha gocara.

Buda Wage Klawu atau Buda Cemeng adalah hari untuk memuja Bhatara Rambut Sedana atau dikenal juga dengan Dewi Laksmi yang memberikan kemakmuran dan kesejahteraan. Upacara Buddha Cemeng ini jatuh pada hari Rabu Wage Wuku Klawu yang diperingati setiap 210 hari sekali atau 6 bulan sekali.

Tidak Hanya Sekedar Nyepi, Tapi Juga Instrospeksi Diri

Pada hari ini, yoga Ida Sang Hyang Ludra, untuk membasmi semua kotoran (leteh-letuh) di bumi, termasuk kotoran tubuh, fisik dan internal. Widhi-widhana berupa dupa penyuci, dupa puspa harum, dupa astanggi dan asap harum dipersembahkan kepada Dewa Sang Hyang Ludra untuk memohon rahmatnya agar melebur dan menyucikan segala kotoran dan kekotoran. Setelah shalat, metirtha gocara dilakukan.

BACA JUGA  Dari Mana Informasi Dapat Diperoleh

Hari ini disebut tumpek, keturunan Sang Hyang Widhi Wiçesa. Pada hari ini kita harus selalu mengingat Sang Hyang Widhi Wiçesa (Sang Hyang Widhi Tunggal) yang memberikan Sanghyang Dharma dan tatwa-tatwa/pengetahuan. Pada hari tumpek ini diadakan upacara di sanggah / pemerajan, di pura, kahyangan dan parhyangan dengan upakara: canang burat wangi, canang yasa, canang resik, puspa serba harum dan asap dupa astanggi.

Festival ini diadakan saat bulan purnama. Purnama adalah hari suci yang datang sebulan sekali untuk berdoa untuk kejernihan pikiran dan menghormati Sang Hyang Ratih.

Tillem dilakukan saat bulan mati. Tillem adalah hari suci yang datang sebulan sekali untuk mendoakan keselamatan dan penghormatan Sang Hyang Surya yang melakukan yoga.

Hari Besar Agama Kristen, Dari Natal Hingga Pentakosta

Itu dianggap sebagai bulan yang diberkati yang ditandai dengan hujan. pada hari suci untuk upacara Yadnya atau pertunjukan Puniya. Pada saat ini dilakukan Sang Hyang Parameswara atau Sang Hyang Purusangkara yoga.

Shiva Ratri berasal dari kata Shiva dan Ratri. Siwa adalah Dewa Siwa sedangkan Ratri berarti malam. Jadi Shiva Ratri adalah malam Shiva karena pada saat itu Dewa Shiva melakukan yoga. Siwa ratri dilakukan setiap Purwaning Tilem Sasih Kapitu (satu hari sebelum tilem Sasih Kapitu/Palguna). Dikatakan bahwa di sebuah desa terpencil tinggal seorang pemburu bernama Lyubdaka. setiap hari tugasnya adalah berburu binatang. Setiap hari dia melakukan Himsa Karma (Mencukur dan membunuh binatang). Suatu hari ia berburu di tengah hutan, tetapi tidak menemukan binatang apapun. Lyubdaka tidak menyerah dan terus berjalan di tengah hutan hingga malam hari. Saat hari mulai gelap, dia memutuskan untuk bermalam di hutan. Agar tidak dimakan atau diganggu binatang buas, ia memanjat pohon BILLA yang kebetulan tumbuh di pinggir kolam, dengan dahan-dahannya menjulur di atas kolam. Untuk menghilangkan rasa kantuknya, ia memetik daun dari pohon satu per satu dan menjatuhkannya ke dalam kolam (108 daun). Tanpa disadari, sebuah lingga muncul di tengah kolam sebagai tempat peristirahatan Dewa Siwa untuk melakukan tapa, brata, yoga, semedhi.

Perbuatan Lubdaka diketahui oleh Dewa Siwa. Karena dia mengikuti tapa, yoga, sebagai samadhi Dewa Siwa, Dewa Siwa memberinya pengampunan dosa, nanti ketika dia meninggal, rohnya akan dimasukkan ke alam Siwa (Siva Loka).

Keesokan harinya dia kembali ke rumah tanpa membawa satu pun hewan liar dan apa yang dia alami di hutan, dia ceritakan kepada istri dan kerabatnya. Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun, dan akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal. Arwah Lubdaka kemudian ditemui oleh Chikra Bala Deva Yamadipati untuk disiksa di neraka sesuai dengan perbuatannya yang setiap hari membunuh binatang dan penuh dosa.

BACA JUGA  The Writer's Purpose In Writing The Text Is

Informasi Penting Yang Harus Diketahui Saat Hari Raya Nyepi

Tidak lama kemudian, prajurit Dewa Siwa datang untuk mengundang arwah Lubdaka untuk dibawa menemui Dewa Siwa di Siva Loka. Maka terjadilah perdebatan antara Cakra Bala Deva Yamadipati dengan prajurit Dewa Siwa. Akhirnya setelah Dewa Siwa menjelaskan karma baik Lubdaka pada masa Siwa Ratri, melakukan tapa, brata, yoga, samadhi, Dewa Chikra Bala Yamadipati mengakuinya, setelah itu arwahnya pergi ke Siwa Loka (surga) dibawa oleh Dewa Siwa. tentara. Begitulah kisah Lubdaka, meskipun sering melakukan dosa, tetapi jika rajin melakukan tapa, yoga, brata dan samadhi, terutama pada masa Siwa Ratri, maka dosa-dosanya dapat dihapuskan oleh Dewa Siwa.

Festival Nyepi adalah festival umat Hindu yang diadakan untuk merayakan Tahun Baru Saka. Adapun rangkaian upacara Hari Raya Nyepi adalah sebagai berikut.

Umat ​​Hindu melakukan ritual Melasti/Mekiis di sumber air (laut) yang bertujuan untuk ‘ngayudang malaning gumi, angamet tirtha amertha’. Artinya membasuh semua kotoran Buana Agung dan Buana Alit kemudian meminta tirtha amerta (tirtha kehidupan).

Terapkan Yadna Buddhis dari tingkat keluarga hingga tingkat provinsi. Usai melakukan upacara sore (sandhikala), diadakan upacara biskuit dan pawai ogoh-ogoh sebagai simbiosis Bhuta Yadnya. Tujuan pawai adalah agar Bhuta Kala mengubah sifat-sifat negatifnya menjadi dewa untuk menyelamatkan umat manusia.

Keseruan Akhir Pekan Bersama Keluarga

Setelah seharian menembakkan api. Mengenai penerapan Dharma Santi, hal ini disesuaikan dengan kemampuan dan negara, waktu, patra (tempat, waktu dan situasi)

Pagerwesi adalah festival untuk menghormati Sang Hyang Widhi dengan Prabhawa-nya sebagai Guru Sang Hyang Pramesti yang melakukan yoga didampingi para dewa dan pitara untuk kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan untuk kebahagiaan hidup semua makhluk. Mengenai pelaksanaan Pagerwesi Hari Raya:

Hari Sang Hyang Sri Amrtha beribadah di pura padi dan tempat penyimpanan beras. Dilakukan pada Soma Pon Wuku Sinta. Pada saat ini juga menghormati Sang Hyang Tri Pramana (tiga unsur yang memberi kekuatan), yaitu: Dewi Sri, Dewa Sedana dan Dewi Saraswat. Abang hari ini ga bisa jual beras, ga bisa menumbuk beras.

Itu diterapkan di setiap perkiraan gaji

Kapan Hari Raya Imlek Dijadikan Libur Nasional Di Indonesia?

Umat yang merayakan hari raya imlek, natal adalah hari raya umat, perayaan hari raya idul fitri, tujuan hari raya nyepi, hari raya umat katolik, gambar perayaan hari raya idul fitri, perayaan hari raya waisak, imlek hari raya umat, hari raya umat beragama, hari raya umat buddha, hari raya keagamaan, tunjangan hari raya keagamaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *