Penyebab Runtuhnya Kerajaan Kediri

administrator

0 Comment

Link

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Kediri – Kerajaan Kediri diserang oleh tentara Mongol bersama beberapa kerajaan lain di Jawa Timur. Pasukan gabungan itu tidak terkecuali tentara Majapahit yang saat itu berada di bawah kendali Raden Wijaya.

Kombinasi dari para prajurit ini merupakan kekuatan yang besar. Plot ini diberitakan Prasetya Ramadhan dalam buku Sandyakala di Jawa Timur 1042 – 1527 sebagai bentuk kebencian terhadap Raja Jayakatwang yang telah membunuh Kertanegara dalam kudeta yang keji.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Kediri

Diberitakan pada bulan ketiga tahun 1293, seluruh prajurit di muara Kali Mas menyerang Kerajaan Kediri bentukan Jayakatwang setelah menghancurkan Kerajaan Singasari.

Makalah Kerajaan Kediri

Ribuan pasukan gabungan dari bangsa Mongol, Majapahit dan beberapa kerajaan kecil lainnya menyerbu Daha, ibu kota Kerajaan Kediri. Serangan dari Kali Mas ini membuat pasukan Kediri bisa dipukul mundur. Sementara itu, tak kurang dari 100 kapal berhiaskan kepala raksasa tak bisa direbut karena semua prajurit dan perwira yang menjaganya sudah kabur bergabung dengan pasukan induknya.

Perang besar lainnya terjadi pada tanggal 15 dan 20 Maret 1293 menurut berita Tiongkok. Terhitung sejak pasukan Mongol mendarat dan memperoleh kekuatan di muara Kali Mas, dimana gabungan pasukan tentara Mongol dan Majapahit mampu menekan dan mengalahkan pasukan Kediri yang menghadangnya.

Kekalahan ini menyebabkan sisa prajurit melarikan diri lagi untuk berkumpul di Daha. Prajurit Ike Mese, Kau Hsing dan Raden Wijaya menyusul dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian.

Pada hari ke-19 terjadi pertempuran yang sangat menentukan bagi kerajaan Kediri, dan total lebih dari 10.000 tentara diorganisir dari Kadiri dan kerajaan-kerajaan di bawahnya. Raja Jayakatwang berusaha memenangkan pertempuran dari pagi hingga siang hari. Dalam pertempuran ini bangsa Mongol menggunakan meriam yang masih tergolong langka di dunia saat itu.

Kota Tertua Indonesia, Ada Yang Sudah Berusia 1.340 Tahun

Tiga pertempuran besar antara dua kekuatan yang berlawanan di empat arah kota menyebabkan ibu kota Kediri hancur berkeping-keping. Kemenangan tersebut diraih oleh gabungan penyerang pasukan Mongol dan Majapahit.Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu yang terkenal di Nusantara dan merupakan salah satu yang paling tua diantara yang lainnya. Kerajaan ini juga dikenal dengan nama lain Kerajaan Panjalu. Pusat pemerintahan berada di Kota Daha (Dahanapura). Selama 177 tahun kerajaan ini berkuasa, Nusantara telah menerima banyak corak peradaban dari kerajaan ini.

Bahkan pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan kerajaan ini meluas hingga ke beberapa wilayah Nusantara, salah satunya Sumatera. Jika ingin mengetahui lebih jauh tentang Kerajaan Kediri, simak pembahasannya di bawah ini.

Terdapat berbagai macam peninggalan Kerajaan Kediri berupa prasasti dan buku atau karya sastra terkenal. Prasasti-prasasti yang banyak dari kerajaan ini adalah Prasasti Banjaran (1052 M), Prasasti Turun Hyang (1052 M), Prasasti Ngantang (1135 M), Prasasti Padlegan (1116 M), Prasasti Lawudan (1205 M) dan Prasasti ‘r Jaring (1181 M). .Kr.).

BACA JUGA  Palung Mindanao Merupakan Titik Terendah Negara

Pada zaman kerajaan Kediri, karya sastra berupa buku mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak karya sastra terkenal telah dihasilkan. Beberapa kitab terkenal tersebut adalah Smaradhahana (Mpu Dharmaja), Wertasancaya (Mpu Tan Akung), Kresnayana (Mpu Triguna), Lubdaka (Mpu Tan Akung), Baharatayuda (Mpu Panuluh dan Mpu Sedah), Samanasantaka (Mpu Monaguna) dan sebagai serta Gatotkacasraya dan Hariwangsa (Mpu Panuluh).

Kehancuran Kerajaan Kediri Akibat Serangan Gabungan Pasukan Mongol Majapahit

Buku-buku ini mengajarkan manusia dunia untuk selalu berbuat baik. Karena melalui perbuatan baik pasti dapat menciptakan kerukunan dan persatuan dalam masyarakat yang berujung pada persatuan bangsa. Bangsa yang sukses adalah bangsa yang dapat menghargai kerja keras rakyatnya.

Menurut sejarah Kerajaan Kediri, sebelum dipecah menjadi dua di bawah pimpinan sastrawan Kerajaan Kediri, kerajaan ini bernama Panjalu. Kemudian lahirlah kerajaan Janggala yang merupakan pecahan dari kerajaan Panjalu. Sedangkan Kahuripan adalah kota yang ditinggalkan Airlangga, yang kemudian menjadi ibu kota Kerajaan Jenggala.

Kerajaan Jenggala memiliki wilayah yang meliputi Malang, Pasuruan, Surabaya, serta wilayah Kali Brantas yang merupakan kota pelabuhan Rembang. Sedangkan Kerajaan Panjalu memiliki wilayah Madiun dan Kediri. Batas kedua kerajaan tersebut adalah Mynydd Kawi dan Sungai Brantas. Hal ini diriwayatkan dalam Prasasti Mahaksubya yang terdapat pada kitab Negarakertagama dan Calon Arang.

Kerajaan Kediri mengalami masa kehancuran pada masa pemerintahan Kertajaya. Ini karena Kertajaya memiliki sikap yang sangat bertentangan dengan para Brahmana. Saat itu Kertajaya memerintahkan para brahmana untuk memujanya sebagai pemujaan dewa. Perintah Kertajaya ditolak oleh para brahmana karena dianggap melanggar agama.

Kerajaan Medang: Sejarah Hingga Peninggalan Runtuhnya

Para brahmana kemudian meminta bantuan Ken Arok. Dia adalah pemimpin kadipaten. Para brahmana meminta bantuan Ken Arok untuk menyerang Kertajaya. Akhirnya dalam perang itu Ken Arok menang dan membawa Kerajaan Kediri di bawah kendali wilayah Tu. Kerajaan ini kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Singasari.

Letak Kerajaan Kediri atau disebut juga Kerajaan Kadiri/Panjalu ini terletak di Jawa Timur. Tepatnya, pusat pemerintahan kerajaan ini berada di Dahanapura. Saat ini, Daha merupakan bagian dari Kota Kediri.

Padahal, kota Daha sudah ada sebelum berdirinya kerajaan ini. Nama kota ini berarti “kota api”. Nama Dahanapura tertulis dalam prasasti terbitan Airlangga tahun 1042 M yang merupakan prasasti Pamwatan. Hal ini juga sejalan dengan pemberitaan yang dimuat di Fibr Calon Arang. Di sana tertulis bahwa pada akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan tidak lagi berada di Kahuripan. Pusat kerajaan ini akan pindah ke Daha.

BACA JUGA  Shifa Menyimpan Uang Di Bank Mandiri Sebesar Rp800.000

Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kediri atau Kadiri yang diambil dari bahasa Sansekerta. Arti nama kerajaan ini adalah mengkudu. Buah mengkudu dipercaya sebagai obat. Sedangkan kulit pohon mengkudu dapat mengeluarkan zat berwarna coklat keunguan yang biasa digunakan untuk membuat kain batik.

Kerajaan Singasari (sejarah, Peninggalan, Letak, Silsilah)

Masa kejayaan Kerajaan Kediri terjadi pada masa pemerintahan Raja Jayabaya. Saat itu, wilayah kekuasaan kerajaan semakin meluas hingga menguasai hampir seluruh Pulau Jawa. Selain itu kerajaan yang dipimpin oleh Raja Jayabaya memberikan pengaruh kepada kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatera.

Berdasarkan catatan Chu Fan Chi, Jawa dikatakan sebagai Maharaja yang memiliki beberapa koloni. Daerah jajahan tersebut adalah Pacitan, Medang, Tu, Dieng, Hujung Galuh, Jenggi, Sumba, Papua, Bali, Gurun, Tanjungpura, Timor, Banggai dan Maluku.

Karena luasnya wilayah kerajaan ini membuat Kediri menjadi kerajaan yang sangat disegani. Tak hanya terkenal dengan kekayaan dan kekuasaannya, kerajaan ini juga dikenal dengan karya seni sastra yang berkembang pesat.

Yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Kediri adalah konflik yang terjadi pada masa pemerintahan Kertajaya. Ini karena Raja Kertajaya meminta para brahmana untuk memujanya. Selain itu, kejatuhan juga muncul akibat provokasi yang dilakukan Ken Arok.

Peradaban Singasari Hingga Majapahit Pages 1 30

Saat itu masyarakat Kediri yang memeluk agama Hindu dilecehkan oleh antek-antek Ken Arok. Kemudian pada tahun 1254 terjadilah perang sebentar antara prajurit Raja Kertajaya melawan para Brahmana yang mendapat bantuan dari Ken Arok. Banyak brahmana meminta bantuan Tu karena Kertajaya telah mengurangi haknya.

Dalam Perang Ganter, Ken Arok dan para Brahmana berhasil mengalahkan Raja Kertajaya di daerah Ganter (Pujon, Malang). Dengan kekalahan Kertajaya, berakhirlah riwayat kerajaan yang dipimpinnya.

Sebelumnya, Ken Arok sangat ingin membebaskan Tu yang berada di bawah kekuasaan Kediri. Maka setelah kematian Kertajaya, keinginannya terkabul. Ken Arok kemudian bergabung dengan kedua wilayah tersebut dan menjadi raja kerajaan Singasari.

Kehidupan politik dan sosial Kerajaan Kediri dimulai dengan pemerintahan singkat Raja Mapanji Garasakan. Ia kemudian digantikan oleh Mapanji Alanjung dari tahun 1052 M hingga 1059 M. Setelah itu posisinya kembali digantikan oleh Sri Maharaja Amarotsaha.

Sejarah Kerajaan Ternate: Masa Kejayaan, Kerun

Pertarungan antara kerajaan Jenggala dan kerajaan Panjalu berlangsung selama 60 tahun. Tidak ada berita konkrit mengenai kedua kerajaan tersebut sebelum munculnya Raja Bameswara. Raja ini muncul pada tahun 1116 M sampai 1136 M dari Kediri.

Saat itu ibu kota kerajaan Panjalu dipindahkan dari Daha ke Kediri hingga lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri. Raja Bameswara mengenakan lambang berupa tengkorak bertaring di atas bulan sabit. Nama lambang tersebut adalah Candrakapala. Setelah Bameswara mengakhiri masa pemerintahannya, Jayabaya melanjutkan tahta dan berhasil mengalahkan kerajaan Jenggala.

BACA JUGA  Lagu Yang Bertangga Nada Minor Memiliki Sifat

Sedangkan dari segi kehidupan sosial, kerajaan ini dikenal sangat baik dan makmur. Rakyatnya hidup sejahtera dan damai. Hal ini terlihat dari rumah-rumah penduduk yang terlihat bagus, bersih dan rapi serta terdapat genteng berwarna kuning dan hijau. Orang memakai pakaian sampai di bawah lutut dan rambut mereka terurai. Pernikahan antara orang-orang di kerajaan keluarga mempelai wanita akan menerima mas kawin emas. Karena masyarakat hidup damai, seni sastra pada masa itu dapat berkembang. Buah dari karya seni sastra tersebut dapat dilihat hingga saat ini.

Beberapa karya sastra ini telah banyak diulas. Beberapa sastrawan sastra yang dikenal banyak orang adalah Mpu Triguna, Mpu Monaguna, Mpu Tan Akung dan beberapa sastrawan lainnya.

Ini Ternyata Faktor Faktor Runtuhnya Daulah Turki Utsmaniyah

Dalam buku Chou Ju Kua disebutkan bahwa penduduk kerajaan ini menganut dua agama, Hindu dan Budha. Orang-orang kerajaan ini dikenal berani dan emosional. Ketika mereka memiliki waktu istirahat, mereka biasanya menghabiskannya dengan melawan binatang. Masyarakat di daerah tersebut mengenal perak yang terbuat dari perak yang dicampur dengan tembaga.

Kitab Gatotkacasraya dan Kitab Hariwangsa. Kedua buku ini disunting oleh penulis buku terkenal, Empu Panuluh. Kitab Bharatayudha, kitab ini diadaptasi oleh Empu Panuluh bersama Empu Sedah. Kitab Samanasantaka ditulis oleh Mpu Monaguna. Artikel ini tentang Bidadari Harini yang terkenal dengan Begawan Trenawindu.

Ada pula Kresnayana buatan Empu Triguna. Buku itu berisi kisah Kresna sebagai anak nakal. Tapi semua orang mencintainya karena dia suka membantu dan kuat. Kitab Lubdaka karangan Mpu Tan Akung.

Dalam buku ini, Lubdaka diceritakan sebagai seorang pemburu yang harus masuk neraka. Tetapi karena pemujaan yang dia lakukan secara khusus, dia mendapat bantuan dari para dewa. Kemudian roh Lubdaka diangkat ke surga. Kitab Smaradhahana yang disusun oleh Empu Dharmaja memuat berbagai sanjungan kepada raja sebagai titisan dewa Kama.

Pada Pada Tahun 1222 M,kerajaan Kediri Mengalami Kehancuran.kehancuran Itu Mulai Tampak Pada

Dalam kitab Smaradhahana juga disebutkan bahwa Dahana adalah nama ibu kota kerajaan. Terakhir, ada buku Wertasancaya yang ditulis oleh Empu Tan Akung. Ini berisi petunjuk tentang cara membuat puisi yang indah.

Di samping itu

Penyebab runtuhnya kerajaan mughal, penyebab runtuhnya kerajaan aceh, penyebab runtuhnya kerajaan majapahit, runtuhnya kerajaan tarumanegara, sejarah runtuhnya kerajaan kediri, penyebab runtuhnya kerajaan cirebon, penyebab runtuhnya kerajaan sriwijaya, penyebab runtuhnya kerajaan kalingga, runtuhnya kerajaan majapahit, penyebab runtuhnya kerajaan bali, runtuhnya kerajaan kediri, sebab runtuhnya kerajaan kediri

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment