Proses Pencangkokan Gen Melalui Dna Plasmid

administrator

0 Comment

Link

Proses Pencangkokan Gen Melalui Dna Plasmid – Rekayasa genetika melibatkan identifikasi, isolasi, dan penyisipan DNA dari sel hidup atau mati ke sel hidup lainnya. Rekayasa genetika adalah metode memanipulasi gen untuk menciptakan organisme baru dengan karakteristik yang diinginkan. Rekayasa genetika disebut juga transplantasi gen atau rekombinasi DNA. Dalam rekayasa genetika, DNA digunakan untuk menggabungkan ciri-ciri makhluk hidup. Hal ini dikarenakan struktur DNA setiap organisme adalah sama sehingga dapat digabungkan kembali. Selain itu, DNA ini akan mengatur ciri-ciri makhluk hidup dari generasi ke generasi.

Rekayasa genetika menjadi kenyataan pada tahun 1973 ketika sebuah metode dikembangkan untuk mengisolasi dan menggabungkan berbagai bagian DNA untuk menghasilkan molekul DNA rekombinan yang fungsional. Molekul manipulasi ini dapat memasuki sel bakteri.

Proses Pencangkokan Gen Melalui Dna Plasmid

Rekayasa genetika mikroba bertujuan untuk meningkatkan kinerja organisme tersebut (misalnya bakteri untuk fermentasi, fiksasi nitrogen di atmosfer, meningkatkan kesuburan tanah, mempercepat proses pengomposan dan penyiapan pakan ternak, untuk makanan olahan), mikroba probiotik) dan produksi. bahan obat, tanaman transgenik yang tahan terhadap serangga dan hama, serta produksi insulin manusia dari bakteri (sel pankreas yang mampu memproduksi insulin dipotong dan fragmen DNA yang dimasukkan ke dalam plasmid bakteri dimasukkan ke dalamnya) yang dihasilkan oleh DNA rekombinan, DNA. Plasmid dimasukkan kembali ke dalam vektor, dan jika masih hidup, maka segera dibiakkan.

Kerangka Materi Biologi Sma Kelas 12 Bab 10 Bioteknologi

Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri Gram positif berbentuk batang, aerobik, dan membentuk spora. Banyak jenis bakteri ini menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Karena potensi protein kristalin/Cri Bt sebagai agen pengendalian serangga telah dieksplorasi, isolat Bt yang berbeda telah diidentifikasi yang mengandung berbagai jenis protein kristalin. Sampai saat ini telah diidentifikasi protein kristal yang bersifat racun bagi larva berbagai kelompok serangga hama tanaman pangan dan hortikultura. Protein kristal ini banyak yang ramah lingkungan karena mempunyai target tertentu, sehingga tidak membunuh serangga non-target, dan karena mudah terurai, tidak menumpuk dan mencemari lingkungan.

Kristal protein serangga ini sering disebut sebagai δ-endotoksin. Kristal ini sebenarnya adalah protoksin, yang bila dilarutkan dalam usus serangga, diubah menjadi polipeptida kecil (27.149 kd) dan memiliki sifat insektisida. Secara umum kristal Bt bersifat protoksin karena aktivitas proteolitik dalam sistem pencernaan serangga dapat mengubah protoksin Bt menjadi polipeptida kecil dan bersifat toksik. Racun yang aktif berinteraksi dengan sel epitel serangga. Terdapat bukti bahwa toksin Bt membuat lubang (lubang sangat kecil) pada membran sel pencernaan dan mengganggu keseimbangan osmotik sel tersebut. Ketika keseimbangan osmotik terganggu, sel-sel membengkak dan pecah, dan serangga mati. Seperti dalam Al-Qur’an, Allah telah mendefinisikan “Nahl” pada ayat ke-13 Surat.

BACA JUGA  Gantung Sepatu Artinya

Yaitu : Dan Dia menciptakan untuk kamu apa-apa yang berbeda-beda di muka bumi. Sesungguhnya di sini ada tanda (dengan kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang meminta nasihat.

Allah Ta’ala telah menciptakan berbagai makhluk di bumi, dari yang kasat mata hingga yang tak kasat mata. Itu adalah tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Misalnya bakteri Bacillus thuringiensis, makhluk mikroskopis yang diciptakan Tuhan, tidak hanya menimbulkan dampak negatif tetapi juga positif, artinya kita bisa mempelajarinya dalam rekayasa genetika.

Pdf) Peran Mikroorganisme Dalam Kehidupan Sehari Hari

Tanaman transgenik adalah tanaman yang mengandung gen asing atau gen yang diintroduksi dari jenis tanaman lain atau organisme dari organisme lain. Tujuan dari penggabungan gen asing adalah untuk memperoleh tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan, seperti: suhu tinggi, suhu rendah, kekeringan, tahan terhadap hama tanaman, serta menghasilkan tanaman dengan kuantitas dan kualitas yang lebih tinggi dibandingkan tanaman alami. Sebagian besar pengembangan atau modifikasi sifat tanaman dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia yang terus meningkat, dan penciptaan tanaman transgenik juga merupakan bagian dari produksi tanaman untuk mengatasi masalah nutrisi manusia.

Gen yang mengatur pertahanan dingin dimasukkan ke dalam tembakau dari Arabidopsis thaliana atau cyanobacteria (Anacyctis nidulans).

Untuk memblokir enzim poligalaktronase (enzim yang mempercepat pemecahan dinding sel tomat), tomat diberi gen khusus yang disebut antisenescence. Selain menggunakan gen dari bakteri E. coli, tomat transgenik juga dibuat dengan mengubah gen alami.

Mengandung asam oleat tingkat tinggi dan tahan terhadap herbisida glifosat. Jadi penyemprotan pestisida ini hanya akan mematikan tanaman di sekitar kedelai.

Rekayasa Genetika 9

Gen resistensi herbisida diperkenalkan dari strain herbisida Agrobacterium CP4 ke dalam kedelai dan teknologi molekuler juga digunakan untuk meningkatkan produksi asam oleat.

Gen bakteriofag T3 baru telah diperoleh untuk mengurangi produksi hormon etilen (hormon yang berperan dalam pematangan buah) pada melon.

Pengembangan tanaman transgenik yang tahan hama merupakan fokus penting dalam perbaikan tanaman. Saat membiakkan tanaman transgenik yang tahan terhadap pestisida, biasanya digunakan gen dari Bacillus thuringiensis (Bt).

Program rekayasa tanaman transgenik memerlukan kolaborasi antar peneliti dari berbagai bidang keilmuan, seperti ilmu serangga (entomologi), kultur jaringan, biologi molekuler, dan pemuliaan tanaman. Keterkaitan disiplin ilmu tersebut sangat erat dalam pengembangan tanaman transgenik yang tahan terhadap serangga. Peran masing-masing disiplin ilmu dalam pengembangan tanaman transgenik tahan hama diuraikan di bawah ini.

BACA JUGA  Alat Penyangga Bahu Patah

Apa Itu Kloning? Ini Pengertian, Macam Macam, Dan Contohnya

Sebelum mengumpulkan tanaman transgenik, penting untuk memprioritaskan spesies atau jenis hama yang akan digabungkan dengan tanaman transgenik untuk pengendalian. Untuk mencapai tujuan ini, kami terutama akan mencari serangga yang bukan merupakan sumber gen resistensi pada spesies inang, seperti kumbang padi, penggerek jagung, kepik, dan kumbang kacang. Kandidat gen resistensi kemudian digunakan, misalnya toksin Bt, proteinase inhibitor (PI) atau gen resistensi lainnya (Bahagiawati 2000). Jika pilihannya adalah toksin Bt, maka ditentukan apakah yang digunakan adalah gen Bt atau gen Cre. Saat ini, setidaknya ada enam kelompok gen menangis yang diketahui, dan setiap gen memiliki gen target tertentu. Anda harus menentukan kelas PI yang akan digunakan untuk PI. Ada tiga kelas PI yang digunakan untuk pengendalian hama, yaitu PI serin, PI sistein, dan PI sparyl. Toksin Bt dan PI dapat menghambat pertumbuhan serangga dengan mengganggu proses pencernaannya. Percobaan dapat dilakukan secara in vitro atau in vivo untuk mengetahui protein insektisida mana yang dapat menghambat pertumbuhan serangga sasaran. Sejumlah penelitian in vitro (dalam tabung reaksi) telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh produk gen resistensi enzim yang ada dalam sistem pencernaan spesies serangga tertentu. Penelitian dilakukan dengan mengekstraksi saluran pencernaan serangga untuk mengisolasi enzimnya. Dari penelitian ini dapat diketahui jenis enzim pencernaan apa yang dominan pada spesies serangga tersebut dan protein apa yang digunakan serangga tersebut untuk menghambat aktivitas pencernaannya. Kajian in vivo dapat dilakukan dengan menyiapkan pakan buatan atau menyemprot tanaman atau merawat bagian tanaman dengan gen (protein) yang dihasilkan dari kandidat gen, dilanjutkan dengan infeksi pada serangga sasaran dan pemantauan pertumbuhan serangga. Penelitian ini menunjukkan kemampuan insektisida protein dalam menghambat pertumbuhan serangga dan dosis yang diperlukan untuk mengendalikan serangga.

Setelah mengidentifikasi kandidat gen yang terlibat dalam proses transformasi, penelitian lebih lanjut dapat diarahkan ke bidang ilmiah lain seperti kultur jaringan dan biologi molekuler. Setelah tim transformasi menemukan tanaman yang dicurigai mengalami transformasi, peran ahli entomologi diperlukan kembali. Ahli entomologi perlu menentukan kemampuan gen yang diekspresikan pada tanaman transgenik untuk melawan perkembangan hama sasaran. Meskipun dalam beberapa kasus transgen (gen yang dimasukkan ke dalam tanaman) terdapat pada tingkat tinggi pada tanaman transgenik, keberadaannya tidak menghambat pertumbuhan hama target. Setelah uji laboratorium dan rumah kaca, studi lapangan dilanjutkan untuk mengetahui kinerja tanaman transgenik di lapangan (uji coba terbatas pada wilayah terpencil). Dampak tanaman transgenik terhadap hama target dan non target, khususnya musuh alami, harus diketahui sebelum pelepasan tanaman transgenik dan sebagai bagian dari perumusan paket pengendalian hama (PHT) tanaman transgenik. Itu telah diterbitkan.

BACA JUGA  Berikut Yang Bukan Termasuk Penyimpangan Masa Demokrasi Terpimpin Adalah

Peran ahli entomologi kemudian diperlukan untuk menentukan paket sistem pemuliaan tanaman transgenik yang tahan hama. Ahli entomologi diharapkan mampu memberikan informasi pengendalian hama yang dapat dilakukan petani. Pemantauan ini penting bagi petani untuk menentukan apakah mereka perlu menyemprot tanaman mereka dengan pestisida untuk mengendalikan hama. Penting juga untuk memantau musuh alami hama di ekosistem tempat tanaman transgenik ditanam. Misalnya, sistem paket pemuliaan kentang transgenik yang mengandung gen Cry 3A diusulkan oleh Feldman dan Stone (1997).

Budaya jaringan merupakan disiplin ilmu yang menentukan keberhasilan proses perubahan. Kultur jaringan adalah ilmu dan seni menumbuhkan sel, jaringan atau organ tanaman dari tanaman induk dalam media buatan. Kultur jaringan tanaman dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu kultur jaringan tidak terstruktur dan kultur jaringan terstruktur. Kultur jaringan acak terdiri dari beberapa sistem kultur seperti kultur kalus, kultur suspensi, kultur protoplas, dan kultur antera, sedangkan kultur jaringan terorganisir meliputi kultur meristem, kultur ujung pucuk, kultur bintil, kultur embrio, dan kultur akar. Dalam pembuatan tanaman transgenik, diperlukan ahli kultur jaringan untuk memastikan transformasi dan pemilihan sel atau jaringan target, sel atau jaringan transgenik, dan regenerasi.

Bisakah Dna Rekombinan Digunakan Untuk Memenuhi Kebutuhan Sesuai Keinginan Kita?

Setelah jenis tanaman yang akan ditransformasi teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi bagian tanaman yang akan digunakan sebagai eksplan dan media untuk menginduksi regenerasi kalus atau organogenesis. Jenis pembawa menentukan keberhasilan kultur jaringan dan transformasi. Media ini biasanya mengandung sumber energi berupa vitamin, hormon, asam amino, dan sukrosa, sedangkan media padat memerlukan agar atau bahan pembentuk gel lainnya. Media yang digunakan dalam pembentukan kalus atau jaringan yang tidak berdiferensiasi berbeda dengan yang digunakan dalam pembentukan organ. Hal ini disebabkan oleh kandungan hormon pertumbuhan auksin dan sitokinin. Tisu untuk tanaman padi

Proses dna, laporan praktikum isolasi dna plasmid, proses pencangkokan, gen dna dan kromosom, jurnal isolasi dna plasmid, hubungan gen dengan dna, tes dna melalui rambut, gen kromosom dna, dna plasmid, proses pencangkokan ginjal, dna gen, isolasi dna plasmid

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment