Sikap Menghargai Adat Istiadat Kampung Naga Tasikmalaya

admin 2

0 Comment

Link

Sikap Menghargai Adat Istiadat Kampung Naga Tasikmalaya – Pendidikan adalah segala usaha, pengaruh, perlindungan dan dukungan yang diberikan kepada peserta didik dengan tujuan pendewasaan anak (Langeveld, Bacher dan Abley, 2007: 21). Berdasarkan pemahaman tersebut, UNESCO merekomendasikan pilar pendidikan, yaitu pilar atau dukungan terhadap kegiatan kewirausahaan, serta pengaruh, perlindungan dan dukungan yang diberikan kepada siswa yang bertujuan untuk menjadi dewasa (UNESCO: 2015).

Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang diikuti oleh warga negara Indonesia yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 47, Pasal 1 angka 1). Pada pasal berikut, wajib belajar mempunyai misi memperluas dan menyamakan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh warga negara Indonesia dan bertujuan untuk memberikan tingkat pendidikan minimal bagi warga negara Indonesia. Sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuannya sedemikian rupa sehingga mampu hidup mandiri di masyarakat. Atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tingkat tertinggi (Peraturan Pemerintah RI No. 47 Pasal 2 poin 1 dan 2).

Sikap Menghargai Adat Istiadat Kampung Naga Tasikmalaya

Wajib belajar berlangsung pada pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan nonformal (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 47, Pasal 3). Wajib belajar formal diselenggarakan sekurang-kurangnya pada jenjang pendidikan dasar yang meliputi sekolah dasar, MI, SMP, MT dan bentuk lain yang sejenis. Wajib belajar dilaksanakan melalui pendidikan nonformal melalui pendidikan keluarga dan/atau sekolah

Cerita Dari Negeri Inklusi By Kabar Inklusi Program Peduli

Dalam dokumen berjudul “Pendekatan Kesetaraan dalam Kebijakan Pembelajaran Seumur Hidup” dijelaskan bahwa pendidikan diberikan secara setara (Archer, 2008: 107). Tidak membedakan jenis kelamin, status perkawinan, ras, agama, dan lain-lain. Laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, komunitas mayoritas, komunitas minoritas, dan komunitas budaya berhak atas pendidikan yang berkualitas. Seperti diketahui, Indonesia mempunyai beberapa bentuk komunitas budaya yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Salah satu komunitas budaya tersebut adalah komunitas kampung Naga di Tasikmalaya. Saat ini penduduk desa Naga dapat hidup di bawah pengaruh modernisasi.

Kampung Naga merupakan wilayah yang termasuk dalam Desa Niglasari, Kecamatan Salauo, Kabupaten Tasikmaya. Keistimewaan wilayah ini adalah letaknya yang tidak jauh dari kehidupan modern, namun tetap menjaga dan menjaga adat istiadat dan budaya nenek moyangnya. Secara umum, tingkat pendidikan masyarakat Naga masih rendah, namun sebagian kecil dari mereka tamat SMP dan SMA, bahkan ada yang memperoleh gelar sarjana. Dia tidak tinggal di Naga lagi (azizmiftahurrizky.blogspot.com/…/pendidikan-kampung-naga.html).

Secara umum, perkembangan pendidikan masyarakat Kampung Naga tidak mengalami kemajuan dari waktu ke waktu, dan rata-rata tingkat pendidikan penduduknya dari dulu hingga sekarang sebagian besar adalah lulusan sekolah dasar. Hal ini disebabkan oleh kendala budaya dan pendekatan pemerintah daerah dalam melaksanakan wajib belajar masyarakat.

BACA JUGA  Jika Jumlah Barisan Dalam Formasi Tersebut Ada 12 Tentukan

Masyarakat Kampung Naga sangat patuh terhadap pemerintah, terlihat dari filosofi mereka yang menarik yaitu “panyar zaryar timunan, panada zaryar lakunan, zaryar zaryar chosan, pamarintah musuh lain selain kaulaanion, pamarinta sanis tempat mint tapi tempat pamarinta komaula Maksudnya kurang lebih begini: Kalau dipanggil segera lakukan, kalau diperintahkan cepat dilaksanakan, kalau ada keinginan cepat dilaksanakan, dan pemerintah hanya bisa menentang untuk melindungi. Atas dasar itulah, kemampuan pemerintah provinsi dalam menyukseskan pelaksanaan wajib belajar bagi masyarakat Kampung Naga Sangat mungkin terjadi jika pendekatan yang digunakan tepat. Kerja sama antar pimpinan daerah, tata kelola pemerintahan yang baik dan kebijakan yang tepat akan berdampak positif terhadap pembangunan. upaya pemerintah untuk mengurangi garis kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan.

Kampung Naga: Kesederhanaan Di Tengah Modernisasi

Proyek ini merupakan penelitian etnografi. Peneliti menggunakan kajian budaya untuk memahami praktik subjek penelitian. Sebagai landasan pengembangan kebijakan, pandangan yang luas dan mendalam terhadap fakta di lapangan dan permasalahan yang dihadapi akan mempengaruhi kualitas alternatif atau solusi yang diusulkan.

Di Indonesia terdapat banyak sekali jenis masyarakat yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya dan di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat dan Banten terdapat berbagai jenis masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat dan budayanya, salah satunya adalah masyarakat Badui di Banten, masyarakat desa Dokuh di Garut dan masyarakat desa Naga di Tasikmalaya (Rangbar, 2006: 40). Masyarakat Kampung Naga dapat hidup di bawah pengaruh modernisasi saat ini. Apa yang dilakukan masyarakat Kampung Naga patut kita apresiasi, karena jelas hal itu tidak mudah. Namun meskipun mereka menaati adat dan tradisinya, terbukti bahwa mereka tidak terisolasi dari dunia luar, meskipun mereka berbeda dari masyarakat lain.

Melihat fenomena seperti ini tentunya wajar jika ada keinginan untuk mengenal masyarakat Kampung Naga lebih dalam, apalagi dalam bidang pendidikan yang saat ini seolah menjadi tanggung jawab masyarakat masa kini selain dari segi makan. Dan minum. Hal ini dikarenakan pendidikan mempunyai banyak dampak terhadap kehidupan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan darinya, baik itu dalam memperluas pengetahuan diri, stratifikasi dalam masyarakat, pencarian kerja, bahkan mendorong negara dan negara untuk bangkit dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat (UNESCO ). , 2011:7).

Tujuan dari proyek ini adalah untuk mengungkap: Apa yang sebenarnya terjadi dan ada pada masyarakat Kampung Naga yang masih memegang teguh adat istiadatnya? Apakah mereka diam saja mengenai isu penting ini? Jika ya, apa alasannya? Bagaimana pendidikan yang dilakukan di Kampung Naga?

BACA JUGA  Akar Pangkat Dari 3375

Desa Neglasari Kecamatan Salawu Tasikmalaya: Mei 2015

Kampung Naga merupakan wilayah yang termasuk dalam Desa Niglasari, Kecamatan Salauo, Kabupaten Tasikmaya. Kawasan ini memiliki keunikan karena tidak jauh dari kehidupan modern namun tetap menjaga dan melestarikan adat istiadat dan budaya nenek moyangnya serta terletak di jalan daerah Garut-Tasikmalaya 33 km sebelah barat Tasikmalaya dengan kawasan kampung pemukiman Naga yang berada. Luasnya mencapai 1,5 hektar. Batas wilayah kampung Naga terletak di sebelah utara dan timur melintasi Sungai Siewulan dan di sebelah barat dan selatan melalui pegunungan. Untuk menuju Kota Naga, Anda harus berjalan melalui jalan kecil menuruni tangga sebanyak 344 anak tangga, setelah itu Anda akan melintasi sawah bertingkat di tepi Sungai Siyulan. Lokasi desa ini sangat bersih dan terawat. Secara global, komunitas Kampung Naga terbagi menjadi dua kelompok, yaitu: 1) kelompok komunitas Kampung Naga yang berada di pemukiman Kampung Naga itu sendiri; dan 2) kelompok masyarakat Kampung Naga di luar pemukiman disebut juga Sanaga.

Kampung Naga berpenduduk 325 jiwa, terdiri dari 106 kepala keluarga, 117 bangunan yang terdiri dari 108 rumah, satu Balai Patimon, satu masjid dan satu bomi agung (gudang penyimpanan hasil panen). Latar belakang masyarakat Kampung Naga tidak dapat dijelaskan dengan jelas dari mana asalnya, karena sumber dan literatur seperti buku cerita Kampung Naga yang ditulis dalam bahasa Sansekerta pada tahun 1956 dibakar saat terjadi penyerangan oleh aparat yang diawasi DI/TII. kelompok. . Oleh Karta dan Suiryu. Namun menurut masyarakat Kampung Naga, Karuhon atau nenek moyangnya disebut “Sembah Dalem Singaparna” dan merupakan teladan dari keseluruhan sistem kehidupan adat dan hukum adat. Untuk menghormatinya, ia dimakamkan di sebelah barat Kampung Naga.

Dalam setiap masyarakat tentunya terdapat aspek-aspek yang menjadi bagian dari suatu keseluruhan universal yang biasa disebut dengan unsur budaya atau Cultural Whole (Cohen, 1992: 315). Dalam bukunya yang ke 7 (Tujuh) Abdullah menyebutkan unsur-unsur kebudayaan dalam kehidupan masyarakat manusia dan masyarakat Kampung Naga antara lain sebagai berikut:

Masyarakat Kampung Naga berjumlah 325 jiwa yang terdiri dari 106 kepala keluarga dan kawasan pemukiman Kampung Naga tidak akan diperluas apalagi ditambah dengan jumlah bangunan baru. Hal ini bukan hal yang tabu namun hanya karena keterbatasan medan yang membuat hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Jika salah satu pihak terpaksa melakukan hal tersebut, mereka akan merampas lahan pribadi atau sawah yang sangat sempit. Jadi, jika masyarakat Kampung Naga yang sedang membangun rumah, hendaknya mereka sadar dengan sukarela dan ikhlas mencari tempat di luar Kampung Naga, sehingga tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa jumlah bangunan di Kampung Naga harus banyak. jadilah orang Badui. Yang disebut Naga (bukan Naga) adalah mereka yang tinggal di kampung Naga, maupun mereka yang tinggal di desa-desa sekitarnya.

BACA JUGA  Drama Pergaulan Bebas

Pdf) Ruang Adat Di Kampung Dukuh Dalam Sebagai Bentuk Kehidupan Spiritual

Mata pencaharian masyarakat Naga sebagian besar adalah pertanian, namun dalam perkembangan sekarang banyak perbaikan dan perubahan yang dilakukan sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman, antara lain menjadi petani dan tambahan yang menggarap sawah, pedagang kecil, dan lain-lain yang menjual hasil pertanian. . barang-barang dan kerajinan tangan, sebagai pekerja kota dan ada pula yang menjadi pegawai pemerintah, POLRI, TNI, dll.

Secara umum, tingkat pendidikan masyarakat Naga masih rendah, namun sebagian kecil dari mereka tamat SMP dan SMA, bahkan ada yang memperoleh gelar sarjana. Dia tidak tinggal di Naga lagi. Namun, mereka sewaktu-waktu kembali ke rumah masing-masing, terutama saat Idul Fitri dan saat perayaan adat.

Orang Naga, termasuk suku Sioux Butonia, di mana pun mereka berada, adalah penganut Islam. Oleh karena itu, tidak tepat apakah mereka yang dianggap mirip dengan suku Badui menganut agama Witan Sudan atau menganggap Naga menganut agama Hindu-Buddha. Hal ini juga tidak benar karena mereka menerima Islam sebelum datang ke Naga. Kita harus menambahkan bahwa ada persepsi di kalangan orang luar bahwa suku Naga tidak dipandang sebagai agama Islam murni. Sebab kata dia, dalam banyak hal terkait pelaksanaan upacara adat, terlihat adanya sinkronisasi antara agama Islam dengan sisa-sisa agama lain yang pernah dianut oleh para leluhur. Namun pada akhirnya kita harus melihat dengan jelas terlebih dahulu apakah yang dilakukan Naga saat itu adalah menjalankan ibadah atau merayakan ritual adat, sehingga kita juga bisa membedakan antara ibadah keagamaan dan perayaan adat.

A. Bersikap damai dan jauhi perdebatan. Sekalipun dihina, jangan berdebat. Usahakan untuk menghindarinya dengan kesadaran. Namun jika Anda sudah menginjak-injak kebiasaan, Anda tidak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi.

Xii Sosiologi Kd 3.4 Final

Sedangkan upacara adat yang sering dilakukan warga Kampung Naga antara lain upacara adat sebanyak enam kali dalam setahun, yaitu:

Dari segi bahasa, masyarakat Kampung Naga cenderung menggunakan bahasa lisan sebagai bahasa sehari-harinya.

Rumah adat kampung naga, kampung naga di tasikmalaya, kampung adat naga, kampung adat sunda kampung naga, kampung naga tasikmalaya kegiatan adat istiadat, adat istiadat kampung naga, alamat kampung naga tasikmalaya, sejarah kampung naga tasikmalaya, wisata kampung naga tasikmalaya, menginap di kampung naga tasikmalaya, kampung adat naga tasikmalaya, kampung naga tasikmalaya

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment