Suaka Margasatwa Gunung Gede Bogor Untuk Perlindungan Fauna

syarief

0 Comment

Link

Suaka Margasatwa Gunung Gede Bogor Untuk Perlindungan Fauna – Kera (Macaca Fascillaryis) memakan buah-buahan yang dibuang warga Suaka Margasatwa Muraanko di Pengalingan, Jakarta, Sabtu (29 Mei 2021). Meski dilarang, warga tetap memberi makan kucing. (/Helm Fetrianshya)

, Suaka Margasatwa Jakarta adalah istilah yang sering muncul di kelas biologi. Merupakan hutan dengan berbagai jenis satwa yang dilindungi. Oleh karena itu, cagar alam adalah suatu kawasan yang digunakan untuk melindungi satwa liar yang hidup di dalamnya.

Suaka Margasatwa Gunung Gede Bogor Untuk Perlindungan Fauna

Cagar alam adalah hutan yang berisi spesies hewan unik yang perlu dilindungi. Cagar alam ada untuk melindungi, melestarikan dan mengurangi laju kepunahan satwa.

Most Of The World’s Largest Flowers (genus Rafflesia) Are Now On The Brink Of Extinction

Surga bagi satwa liar ini seringkali dapat diwujudkan dengan sengaja atau secara alami. Keberadaan cagar alam merupakan sarana dan sarana pelestarian dan perlindungan satwa langka.

Istilah cagar alam berasal dari kata “sanctuary” yang berarti “tempat berlindung”, maga yang berarti “turunan” dan satwa liar yang berarti “hewan”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cagar alam adalah cagar alam yang dirancang khusus untuk melindungi satwa liar yang ada di dalamnya.

Cagar alam adalah cagar alam yang memiliki ciri keanekaragaman dan/atau jenis satwa unik yang memerlukan perlindungan/pengembangan demi kelangsungan habitatnya. Cagar alam sering disebut sebagai tempat hidup satwa liar, memiliki nilai ilmiah dan budaya yang unik, serta menjadi sumber kekayaan dan kebanggaan bangsa.

Konservasi di cagar alam dapat dilakukan secara sengaja maupun alami untuk menjaga kelangsungan hidup satwa tersebut. Keberadaan cagar alam merupakan sarana dan sarana untuk melestarikan dan melindungi fauna khas Indonesia. Kami berharap melalui upaya konservasi, keberadaan flora dan fauna tetap terjaga dan terlindungi dari kepunahan, sehingga menjaga keanekaragaman hayati flora dan fauna Indonesia di masa depan.

Modul Tema 7

Seekor gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) lahir alami di Barumeng, Sumatera Utara. Gajah berasal dari Vallmo betina dan Dwiky jantan. (/HO/Humas KLHK)

* Fakta atau tipuan? Untuk memverifikasi keaslian informasi yang beredar, silakan menghubungi nomor WhatsApp pemeriksa fakta 0811 9787 670, masukkan kata kunci yang diperlukan saja. Artikel ini memerlukan referensi tambahan untuk menjamin kualitasnya. Bantu kami menyempurnakan artikel ini dengan menambahkan kutipan ke sumber tepercaya. Daftar tanpa sumber dapat diserang dan dihapus. Temukan Sumber: “Taman Nasional Gunung Leuser” – Berita · Surat Kabar · Buku · Cendekiawan · JSTOR (Juni 2021)

3°46′21.6″LU 97°14′43.5″BT  /  3.772667°LU 97.245417°BT  / 3.772667; 97.245417 N 46′1 Koordinat: 3°1°4. ″B / 3,772667°LU 97,245417°BT  / 3,772667; 97.245417

BACA JUGA  Lagu Buton Lama

Taman Nasional Gunung Russell (sering disingkat TNGL) merupakan salah satu cagar alam Indonesia seluas 1.094.692 hektar dan secara administratif terletak di provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Provinsi Aceh yang ditetapkan oleh TNGL meliputi Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, Aceh Tamiang, sedangkan Provinsi Sumatera Utara yang ditetapkan oleh TNGL meliputi Kabupaten Dairi, Karo, dan Langkat. 1]

Sejarah Konservasi Di Indonesia, Metode Dan Contoh Kawasan Konservasi

Nama taman nasional ini diambil dari Gunung Leuser yang tingginya 3.404 meter di atas permukaan laut di Aceh. Taman nasional ini memiliki ekosistem asli mulai dari pantai hingga pegunungan, ditutupi hutan lebat khas hutan hujan tropis. Dikelola dengan sistem zona untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, promosi budaya, pariwisata dan rekreasi.

Pada tahun 2004, warisan hutan hujan Sumatera dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia, menjadikan Taman Nasional Gunung Russell sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, bersama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Penetapan 1.094.692 hektare oleh Kementerian Kehutanan di Kawasan Khusus Aceh dan Sumut dilepas sebagai dasar legalitas serangkaian prosedur pengukuhan kawasan hutan. Keputusan tersebut menyatakan bahwa Taman Nasional Gunung Leuser terdiri atas:

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: P.03/Menhut-II/2007, pengelolaan TNGL saat ini adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Kehutanan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA) Kementerian Kehutanan. khusus Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang dipimpin oleh kepala balai kota (tingkat dua).

Cagar Alam Adalah Kawasan Lindung Flora Dan Fauna, Pahami Syarat Dan Manfaatnya

Salah satu Objek Wisata Alam (ODTWA) yang terkenal di kawasan TNGL adalah Balai Pengamatan Orangutan Sumatera – Bukit Lawang di Kawasan Wisata Alam Bohorok, Bukit Lawang – Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. [2]

Di sisi lain, taman nasional juga mendapat perhatian karena semakin maraknya kasus penambangan liar yang melanggar perlindungan lingkungan di banyak tempat. [3] Sebagian besar wilayah di TNGL memiliki medan terjal dan tekstur serta struktur tanah rawan longsor. Hal itu terbukti saat banjir meluluhlantakkan Kawasan Wisata Alam Bukit Lawang beberapa tahun lalu. Untuk lebih melindungi TNGL dari kerusakan lebih lanjut, maka dibuatlah kawasan yang disebut Zona Ekosistem Leuser. Kawasan ini mencakup area seluas 2,6 juta hektar dan mencakup wilayah datar di sekitar TNGL serta berperan sebagai zona penyangga.

Sejarah terbentuknya TNGL dimulai pada tahun 1920-an atau pada masa pemerintahan kolonial Belanda melalui serangkaian proses penelitian dan eksplorasi yang dilakukan oleh ahli geologi Belanda F.C. Van Hearn berada di Aceh. [4] Diarsipkan 17 Juli 2022 di Mesin Wayback. Dalam perkembangannya, muncul inisiatif aktif dimana tokoh masyarakat mendesak pemerintah kolonial Belanda untuk memberikan status cagar alam (satwa liar) dan konservasi pada bagian selatan dari kawasan Singkil (di sumber Sungai Simpang Kiri) di sepanjang Bukit Barisan. , menuju utara menuju Lembah Tripa dan Rawa Pantai Meulaboh.

BACA JUGA  Sebutkan Tiga Julukan Terkenal Untuk Negara Thailand

Pada tanggal 6 Februari 1934 dilaksanakan Deklarasi Tapak Tuan, yaitu keputusan perwakilan masyarakat lokal di daerah Leuser untuk mengatur sanksi Pan sekaligus menjaga lingkungan. Deklarasi tersebut juga ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda. [5] Berdasarkan hal tersebut, maka Cagar Alam Gunung Leuser seluas 142.800 hektar ditetapkan pada tanggal 3 Juli 1934 berdasarkan Zelfbestuur Besluit (ZB) No.317/35. Pada tahun 1936, Suaka Margasatwa Krute seluas 20.000 hektar didirikan di provinsi Aceh. Pada tahun 1938, Suaka Margasatwa Langi seluas 51.000 hektar didirikan di provinsi Sumatera Utara. Pada tahun 1976, Provinsi Aceh mendirikan Suaka Margasatwa Kapi seluas 142.000 hektar.

Tumbuhan Endemik Asli Indonesia Lengkap (update 2022)

Pada tanggal 6 Maret 1980, Menteri Pertanian menetapkan keempat cagar alam tersebut dan beberapa hutan wisata di sekitarnya sebagai kawasan taman nasional. Pada tahun 1984, wilayah kerja TNGL ditetapkan meliputi 5 cagar alam dan 2 hutan wisata seluas 862.975 hektar. Pada tanggal 23 Mei 1997, Taman Nasional Gunung Leuser diresmikan dengan luas 1.094.692 hektar.

Secara yuridis formal, keberadaan Taman Nasional Gunung Leuser pertama kali tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian tanggal 6 Maret 1980 tentang Peresmian 5 (Lima) Taman Nasional di Indonesia (No. 811/Kpts/Um/II/1980) . , Yaitu; Taman Nasional Gunung Russell, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gede Panrango, Taman Nasional Barulan dan Taman Nasional Komodo. Sesuai pengumuman Menteri Pertanian, luas Taman Nasional Gunung Leuser ditetapkan seluas 792.675 hektar. Menindaklanjuti pengumuman Menteri Pertanian tersebut, Direktorat Jenderal Kehutanan mengirimkan surat tertanggal 7 Maret 1980 kepada KPA Cabang Gunung Leuser No. 719/Dj/VII/1/80. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa kewenangan pengelolaan Taman Nasional Gunung Lesel telah dilimpahkan kepada Sub. Balai KPA Gunung Leuser. [6] Diarsipkan 17 Juli 2022 di Mesin Wayback.

Taman Nasional Gunung Russel (TNGL) merupakan kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati di Pulau Sumatera. Tipe ekosistemnya beragam, mulai dari ekosistem pesisir hingga pegunungan subalpine, dengan puncak tertinggi berada di ketinggian 3.404 meter di atas permukaan laut. TNGL merupakan satu-satunya kawasan di dunia yang dihuni oleh 4 spesies inti. Spesies tersebut adalah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).

BACA JUGA  Sebuah Kolam Renang Berbentuk Persegi Panjang Dengan Ukuran 50m 30m

Terdapat 350 jenis burung yang hidup di kawasan TNGL. Hampir 65% atau 129 dari 205 spesies mamalia di Sumatera, baik besar maupun kecil, telah tercatat sebagai wilayah TNGL. Berdasarkan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan unik tersebut, kawasan TNGL ditetapkan sebagai Warisan Alam Dunia, Cagar Biosfer, dan Taman Warisan ASEAN.

Informasi Semuanya Ada: Jenis Fauna Yang Dilindungi Dan Upaya Pelestariannya

Taman Nasional Gunung Russell memiliki dua status di seluruh dunia, yaitu terdaftar sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1981 dan Situs Warisan Dunia pada tahun 2004. Kedua status tersebut ditetapkan oleh UNESCO dan Komite Warisan Dunia (WHC) atas saran pemerintah Indonesia. Setelah serangkaian proses peninjauan yang ketat. Selain itu, TNGL mempunyai potensi nilai tambah yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Cagar Biosfer didefinisikan sebagai kawasan ekosistem darat atau pesisir yang diakui oleh Program Manusia dan Biosfer UNESCO (MAB-UNESCO) yang mendukung keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. Cagar biosfer mempunyai tiga fungsi, yaitu (1) untuk mendorong konservasi bentang alam, ekosistem, spesies dan plasma nutfah, (2) untuk mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan secara ekologi dan budaya, dan (3) untuk mendorong penelitian terkait konservasi, pemantauan, dan pendidikan lokal. dan pelatihan. dan isu-isu pembangunan berkelanjutan di tingkat regional, nasional dan global. Sebagai hasil KTT Bumi tahun 1992, berbagai fungsi cagar biosfer dan Jaringan Cagar Biosfer Dunia ditetapkan dan dijelaskan dalam “Kerangka Strategis dan Hukum Jaringan Dunia Sevilla” (LIPI, 2004). [7] Diarsipkan 18-07-2022 di Mesin Wayback.

Konvensi Warisan Dunia untuk Perlindungan Warisan Budaya dan Alam diadopsi pada Konferensi Umum UNESCO ke-17 di Paris pada tanggal 16 November 1972 dan mulai berlaku pada tanggal 17 Desember 1975. Pada bulan Maret 2005, lebih banyak negara yang meratifikasi Konvensi Warisan Dunia. Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 1989 Nomor 29 telah diadopsi oleh lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia. Warisan Dunia mengacu pada warisan yang: (1) terdiri dari warisan alam dan budaya, (2) melestarikan warisan yang tak tergantikan dan warisan penting sejarah.

Suaka margasatwa pulau rambut, suaka margasatwa baluran, nama suaka margasatwa, suaka margasatwa gunung leuser, suaka margasatwa adalah, manfaat suaka margasatwa, suaka margasatwa diindonesia, suaka margasatwa muara angke, macam macam suaka margasatwa, suaka margasatwa bawean, suaka margasatwa pulau komodo, suaka margasatwa

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment