Tradisi Mepasah

syarief

0 Comment

Link

Tradisi Mepasah – Desa Trunyan terletak di kawasan Kintamani Kabupaten Bangli, Bali. Desa ini mempunyai tradisi penguburan yang unik dimana orang yang meninggal tidak dikuburkan disana.

The Wonderful Indonesia memberitakan bahwa orang yang meninggal di Tranian tidak boleh dikuburkan atau dikremasi, melainkan hanya ditaruh di bawah pohon Taro Manian yang dapat menghilangkan bau jenazah.

Tradisi Mepasah

Desa Trunian memiliki aturan dan syarat penguburan, salah satunya adalah jumlah jenazah yang berada di bawah pohon keladi manyan tidak boleh melebihi sebelas orang. Kemudian almarhum harus meninggal secara wajar, menikah dan memiliki bagian tubuh yang utuh.

Krisis Lahan Makam Di Jakarta: Konsep Makam Jannatul Ma’la Dan Capsula Mundi Jadi Alternatif Solusi? Halaman All

Orang yang meninggal karena kondisi ini dimakamkan di mpasah atau ditempatkan di bawah pohon taru manyan. Pemakaman di sana disebut Sema Via.

Bagaimana dengan mereka yang tidak memenuhi syarat? Desa Trunian memiliki dua area lain untuk prosesi pemakaman. Pertama, Sema Muda diperuntukkan bagi anak kecil atau dewasa lajang. Kedua, Sema Bantas bagi mereka yang meninggal secara tidak wajar atau kehilangan anggota tubuh karena suatu penyakit.

Sementara seperti dilansir situs disparda.baliprov.go.id, jenazah warga Desa Trunian dibaringkan hanya dengan kain berwarna putih. Namun jenazah tidak berbau busuk dan tidak dihinggapi serangga. Fenomena tersebut disebabkan oleh keberadaan pohon Taru Manyan yang mampu mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau tak sedap.

Nama Desa Trunian berasal dari kata taru yang berarti kayu dan menya yang berarti harum. Pohon ini hanya tumbuh di Desa Trunyan, kemudian Taru Menyam dikenal dengan nama Trunyan.Bangli, Baliterkini.com – Tempat ini disebut Desa Trunyan. Terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Trunian merupakan desa terpencil di tepi Danau Batur, sehingga wisatawan yang ingin memasuki Desa Trunian harus melintasi Danau Batur dengan menggunakan sampan.

Tradisi Unik Di Bali Yang Tidak Ditemukan Di Tempat Lain

Desa Trunian merupakan salah satu daerah yang dihuni oleh suku Bali Aga atau Bali Mula yang masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya. Suku Aga Bali atau Mula Bali merupakan suku bangsa yang pertama kali mendiami Pulau Bali. Hingga saat ini Suku Aga Bali dan segala keunikannya dapat ditemukan di Desa Trunian.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Bali pada umumnya menganut agama “Hindu”. Apabila ada kerabat yang meninggal, kremasi atau penguburan jenazah biasanya dilakukan sesuai ajaran Hindu. Di Desa Trunian, jenazah tidak dikuburkan atau dikremasi seperti biasanya di daerah lain, masyarakat Desa Trunian membaringkan jenazah kerabatnya yang telah meninggal di atas tanah, ditutupi dengan kain dan bambu yang disusun berbentuk prisma.

BACA JUGA  Bendera Bulat

Masyarakat Desa Trunian menyebut upacara pemakamannya dengan Mepasah. Seperti disebutkan di atas, di Mepsah jenazah cukup dibaringkan di tanah setelah upacara penyucian mandi air hujan.

Pada jenazah dibuat lubang berukuran sekitar 10-20 cm, agar posisi jenazah tidak berubah akibat kontur lokasi kuburan yang tidak rata. Wajahnya kemudian dibalut kain putih di atas mayat tersebut. Sebagai penanda, badannya ditutup dengan bambu yang membentuk prisma yang disebut pemujaan Aka. Uniknya, meski jenazah dibaringkan di tanah, namun tidak tercium bau jenazah.

Tidak Jelas Ini Soalnya No 32 Di Desa Turnyan Yang Jenazah Orang Meninggal Hanya Diletakkan Di Tanah

Diduga aroma kemenyan dari sarang inilah yang mampu menetralkan udara sekitar. Pohon yang menghasilkan aroma khas yang kuat ini hanya dapat tumbuh di kawasan ini, meskipun ada upaya untuk menanamnya di tempat lain. Keunikan pohon ini rupanya yang memunculkan nama desa Trunian.

Maksimal sebelas jenazah dapat ditaruh di bawah pohon menjan satu keranjang. Hal ini diatur oleh adat istiadat setempat. Namun ada pula yang mengatakan bahwa satu pohon kopmenjan hanya mampu menetralisir sebelas mayat, sehingga jika lebih banyak maka mayat tersebut mulai mengeluarkan bau busuk.

Ketika jenazah baru tiba, jenazah tertua dipindahkan ke ruang terbuka, yang tidak ditutup dengan penjepit makanan, tetapi ditempatkan bersama jenazah lain di bawah struktur batu atau pohon.

Oleh karena itu tidak heran jika tulang belulang dan barang bingkisan seperti sepatu, sendok, piring, baju dan lain sebagainya bertebaran di area pemakaman di tempat ini, hal ini sengaja dilakukan agar tidak ada barang yang bisa dikeluarkan dari area pemakaman.

Open Trip Di Bali

Hanya dalam kondisi tertentu orang yang meninggal dapat dikuburkan dengan cara seperti itu. Syarat-syarat jenazah yang boleh dikuburkan dengan cara ini adalah mereka yang sudah menikah pada saat kematian, belum menikah dan mempunyai anak yang masih kecil, mereka yang telah kehilangan gigi susunya, orang yang meninggal dalam keadaan wajar dan tidak ada luka yang belum hilang. belum sembuh, dan mempunyai bagian tubuh yang sehat. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, jenazah dikuburkan dengan cara dikuburkan.

Desa Trunian telah mengatur tata cara penguburan masyarakat. Ada tiga jenis sema (makam) di Desa Trunian dan dibedakan berdasarkan usia almarhum, keutuhan bagian tubuh, dan cara penguburan.

Tempat pemakaman yang pertama disebut Sema Way, tempat pemakaman yang dianggap paling baik dan tersuci, yaitu jika jenazah bisa dikuburkan dengan cara yang paling sederhana. Cara penguburan lainnya adalah sema muda, di tempat ini jenazah dikuburkan dengan cara dikuburkan, diperuntukkan bagi anak-anak atau bayi yang gigi susunya belum tanggal.

BACA JUGA  Langkah Yang Tidak Tepat Untuk Mencari Bug Dengan Google Adalah

Tipe yang ketiga adalah sema bantas, sama halnya dengan semas muda, jenazahnya dikuburkan dengan cara dikuburkan, namun bagi orang yang telah melakukan perbuatan jalan dan jalan yang salah yaitu pada saat meninggal masih terdapat luka dan Penyebab kematian yang tidak wajar, seperti kecelakaan, hilangnya nyawa akibat perbuatan. Orang lain sengaja kehilangan nyawanya dan memiliki bagian tubuh yang tidak sehat. [Informasi Btcom / Facebook tentang Bali].ID – Desa Trunian yang terletak di kawasan Kintamani Kabupaten Bangli Bali memiliki tradisi pemakaman yang sangat unik.

Desa Wisata Trunyan: Sejarah, Lokasi Dan Daya Tariknya

Wonderful Indonesia melaporkan bahwa di desa ini jenazah orang meninggal tidak dikuburkan atau dikremasi seperti di kebanyakan tempat lainnya.

Pemakaman Desa Trunian memiliki aturan dan persyaratan yang ketat. Salah satunya adalah jumlah jenazah yang ditaruh di bawah pohon Teru-menin tidak boleh lebih dari sebelas orang.

Selain itu, orang yang meninggal harus meninggal secara wajar, sudah menikah dan memiliki bagian tubuh yang utuh.

Orang yang memenuhi syarat dimakamkan di mpasah atau diletakkan di bawah pohon taru manyan. Pemakaman ini dikenal dengan nama Sema Wiah.

Ritual Pemakaman Unik Di Bali Menarik Wisatawan

Namun bagaimana dengan mereka yang tidak lolos? Desa Trunian masih memiliki dua kuburan untuk prosesi pemakaman.

Pertama, lumpur sema digunakan untuk anak kecil dan orang dewasa lajang. Kedua, Sema Banta diperuntukkan bagi mereka yang meninggal dunia secara tidak wajar atau kehilangan anggota tubuh karena suatu penyakit.

Fenomena unik lainnya yang terjadi di Desa Trunian adalah jenazah hanya ditutupi kain putih saja, namun tidak mengeluarkan bau busuk dan tidak dihinggapi serangga.

Hal ini terjadi karena adanya pohon tru-menin yang hanya tumbuh di Desa Trunian. Pohon ini mampu memberikan aroma yang kuat dan menetralisir bau tak sedap.

Kisi Kisi Tema 1

Nama Desa Trunian berasal dari kata “taru” yang berarti kayu dan “menian” yang berarti harum.

Nama tersebut mengacu pada pohon khas Taru Menian yang hanya tumbuh di desa Trunian. Seiring berjalannya waktu, pohon ini dikenal dengan nama “trunian”.

Desa Trunyan Bali melestarikan tradisi unik ini sebagai warisan budaya yang sangat istimewa dan menjadi daya tarik wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan tradisi budaya Bali yang unik dan eksotik. * Indonesia memiliki ribuan suku dan budaya dengan ciri khasnya masing-masing. Tak heran pula jika di suatu pulau atau provinsi terdapat wilayah yang memiliki budaya yang sama sekali berbeda dengan wilayah sekitarnya. Salah satu tempat wisata di Bali yang mempunyai daya tarik budaya adalah Desa Trunyan, desa yang hanya bisa dicapai dengan perahu dari Dermaga Kedisan. Desa Trunyan terkenal dengan budaya pemakaman yang unik dan terbilang seram yang menggugah selera wisatawan yaitu Mepasah. Saking uniknya, banyak pengunjung yang mencari tempat wisata di Bali rela melakukan perjalanan jauh ke Desa Trunian. Penasaran sebenarnya apa yang sederhana?

BACA JUGA  Sebutkan 3 Kegelapan Yang Dialami Oleh Nabi Yunus As

Mepasah merupakan tradisi pemakaman yang sudah berlangsung berabad-abad di Desa Trunian. Ketika salah satu warga Desa Trunian meninggal dunia, maka jenazah warga tersebut tidak dikremasi seperti yang biasa dilakukan pada jenazah orang yang meninggal di Bali. Namun jenazah warganya dibaringkan di samping pohon talas-menin yang sudah berdiri ribuan tahun dan mengeluarkan bau harum. Aroma pohon menjadi penyebab mengapa jenazah tidak berbau busuk, meski dibiarkan begitu saja.

Terunyan Bukan Hanya Punya Mayat Berbau Wangi

Namun, bukan berarti jenazah langsung ditaruh di bawah pohon lho, kasihan pengunjung! Sebelum jenazah ditempatkan, terlebih dahulu dilakukan upacara penyucian. Jenazah kemudian dimandikan dengan air hujan. Barulah jenazah dimasukkan ke dalam lubang sedalam 10-20 cm agar jenazah tidak bergeser mengikuti kontur bumi. Setelah jenazah ditempatkan, sebuah penghalang pelindung yang disebut dengan acari serve juga dipasang untuk mencegah jenazah dimakan oleh hewan liar.

Menurut kepercayaan tradisional setempat, satu pohon taru menian hanya mampu menampung 11 jenazah. Jika ada jenazah baru yang perlu ditempatkan, maka jenazah yang tertua akan dipindahkan. Selain itu, jenazah hanya dapat dipindahkan jika membusuk secara alami. Di dekat gerbang makam tergeletak tulang belulang, tangan dan kaki singa, sedangkan benda tajam tergeletak berjajar di atas fondasi batu.

Namun tidak semua jenazah warga Desa Trunian dimakamkan di Mepasah. Pemakaman Mepassah hanya dilakukan jika seseorang meninggal secara wajar dan bagian tubuhnya masih utuh. Namun jika seseorang meninggal secara tidak wajar, misalnya karena kecelakaan atau bunuh diri, maka jenazahnya akan dikuburkan dengan cara dikuburkan. Jenazah anak-anak juga ada di pemakaman.

Mengunjungi Makam Desa Trunyan mungkin terkesan menakutkan bagi sebagian orang. Namun, bagi Anda yang ingin mencoba mempelajari budaya baru sekaligus memacu adrenalin di Pulau Dewata, Desa Trunyan menjadi salah satu destinasi wisata yang patut masuk dalam bucket list Anda. Bagaimana, apakah kalian tertarik untuk singgah di Aladiners Halo sobat apa kabar?

Hiii, Bertemu Mayat Hingga Ber Selfie Di Tengah Kuburan

Pakaian tradisi, tradisi indonesia, tradisi villas, tradisi, makanan tradisi, tradisi syiah, tradisi amed, tradisi bali, batik tradisi, tradisi budaya, tradisi jerman, artikel tradisi

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment