Upacara Keagamaan Hindu Budha

admin 2

0 Comment

Link

Upacara Keagamaan Hindu Budha – Proses masuknya agama Hindu-Buddha ke Nusantara didukung oleh beberapa teori. Ada beberapa teori yang mendukung berakhirnya perdagangan ke Kepulauan, sementara teori lain menyebutkan asal mula peperangan di India sebagai kekuatan pendorongnya. Bagaimana teori penetrasi Hindu-Buddha ke Nusantara? nusantara /tag/nusantara

Orang-orang India telah melakukan pekerjaan perintisan dengan negara-negara lain di Asia sejak sebelum Masehi. Perdagangan kemudian dilakukan melalui jurang sempit antara pegunungan Himalaya yang disebut Kaibar Pass. Kaibar Pass juga digunakan oleh para pedagang dari luar India untuk masuk dan keluar wilayah tersebut.

Upacara Keagamaan Hindu Budha

Perdagangan ini diyakini membawa berkembangnya peradaban Hindu-Buddha di India, seperti Sungai Indus, Sungai Brahmaputra dan juga Kepulauan Indonesia.

Agama Di Indonesia Dan Tempat Ibadahnya, Simak Juga Wisata Religi Tentang Toleransi

Teori Brahmana menyatakan bahwa masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha ke Nusantara dibawa oleh para Brahmana yang diundang oleh penguasa Nusantara. Teori Brahman ini dikemukakan oleh J.C. Dari Leur.

Teori ini kembali menegaskan bahwa penyebaran agama Hindu di Indonesia dibawa oleh kelompok Brahmana. Hal ini didukung oleh beberapa teks di Indonesia yang menggunakan bahasa Sansekerta.

Bahasa kitab suci Weda dan ritual keagamaan adalah bahasa yang dikuasai oleh kelompok Brahmana. Kelompok suci Brahmana juga memahami ajaran agama Hindu. Di sisi lain, teori Brahman tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan penguasa Nusantara dan India terjadi karena hubungan dagang.

Teori Ksatria menyebutkan masuknya agama dan budaya Hindu-Buddha di Indonesia dibawa oleh orang India dari kasta Ksatria. Teori yang dikembangkan oleh Prof. Dr. J. L. Moens menegaskan bahwa sekitar abad ke 4 sampai ke 6 Masehi. sering terjadi pertempuran dan kelompok Ksatria, yang terdiri dari bangsawan dan tentara, dikalahkan.

Ka.kanwil Komang Sri Marheni Tegaskan Praktek Keagamaan Siswa Hindu Sejak Dini

Kekalahan sebagian kasta Ksatria dalam peperangan, menurut teori Ksatria, mendorong para Ksatria untuk mengungsi dan mencari wilayah baru di seluruh Nusantara.

Teori Waisya menyatakan bahwa kelompok Waisya mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha. Prof Oosterling. Dr. N.J. Krom, pendukung teori Waisya, berpendapat bahwa kelompok pedagang, petani, dan pemilik tanah sudah terbiasa dengan agama Hindu-Budha.

Kedatangan kelompok Vaisya di Indonesia, menurut Krom, memperkenalkan agama dan budaya Hindu-Buddha kepada masyarakat Indonesia selain perdagangan. Kelompok ini nampaknya hidup sementara dan tak jarang menetap secara permanen di Nusantara, kemudian kawin campur dengan warga setempat.

Teori refluks dikemukakan oleh peneliti iF.D.K. Bosch. Teori ini mengemukakan bahwa para Brahmana menyebar ke seluruh dunia melalui jalur yang digunakan oleh para pedagang. Di berbagai tempat, kelompok Brahmana berusaha menjalin hubungan dengan penduduk setempat dan memperkenalkan ajarannya.

BACA JUGA  Cerita Sedih Bahasa Jawa

Apa Nama Upacara Keagamaan Katolik,protestant,islam,hindu,budha,dan Kong Hu Chu

Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat nusantara datang ke India untuk mempelajari agama Hindu dan Budha. Masyarakat nusantara ini kemudian kembali ke tanah air untuk menyebarkan ajaran agama dan budaya Hindu-Buddha.Bali memiliki kekayaan budaya yang perlahan berkembang sesuai dengan perkembangan Bali sejak zaman dahulu. Pitana (dalam Dharma Putra (ed.), 2004: 7) mengatakan Bali merupakan perpaduan berbagai unsur kebudayaan, seperti kebudayaan megalitik, animisme, dinamisme, totemisme, Tionghoa, India, Jawa, dan barat (modern). Proses kontak budaya terjadi secara akulturatif, yaitu unsur asing diolah menjadi budaya lokal tanpa menghilangkan ciri-ciri dasar masyarakat (Geriya, 2000). Makna budaya Bali yang diwariskan saat ini merupakan perpaduan antara kepercayaan dan tradisi asli Bali dengan unsur budaya lain yang telah berinteraksi sepanjang sejarah.

Peninggalan arkeologis masa pra-Hindu di Bali menunjukkan bahwa sebelum masuknya pengaruh Hindu, Bali mempunyai status yang tinggi. Oleh karena itu, kehadiran unsur-unsur Hindu, baik langsung dari India maupun pengaruh kerajaan Hindu di Jawa, hendaknya dilihat sebagai pupuk bagi Bali untuk terus menunjukkan keunikan dan individualitasnya (Utama, 2003). Namun tidak dapat dipungkiri bahwa budaya Bali dan agama Hindu menunjukkan perpaduan yang menarik perhatian karena berhasil membangun fondasi Bali yang berkarakter sosial dan religius. Faktanya, ketika keberadaan agama Hindu mulai menghilang di nusantara seiring menyebarnya pengaruh Islam, masyarakat Bali masih memegang teguh tradisi keagamaan yang mencerminkan identitas Hindu mereka.

Bali adalah satu pulau Hindu yang dikelilingi lautan umat Islam, sebuah fakta yang terbantahkan dalam konstruksi identitas Bali (Picard, 1997: 186). Kuatnya hubungan antara agama Hindu dan agama Bali seringkali memunculkan anggapan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali (Wesnawa, 2004: 12). Berkaitan dengan hal tersebut, Mantra (1996: 2) menegaskan bahwa Bali dengan ciri khas dan khasnya tumbuh dari semangat agama Hindu yang tidak dapat dipisahkan dari seni dalam masyarakat yang berbeda dengan masyarakat yang beragama. Bagi masyarakat Bali, seni merupakan simbol identitas, sekaligus sarana berekspresi, acuan peradaban, menciptakan persembahan, dan mengumpulkan tambahan pendapatan ekonomi. Bali mempunyai hubungan yang kuat dengan agama, sosial, ekonomi, lingkungan hidup, bahkan politik (Geriya dalam Ashrama (Ed.), 2004:42).

Keterkaitan ini menunjukkan pentingnya melihat Bali secara komprehensif. Cara ini bergantung pada perputaran sambungan antar bagian (

Ritual Upacara Adat Di Bali Yang Menarik

) fenomena budaya. Thornton (1988: 285-303) menggunakan pendekatan ini sebagai upaya untuk mengidentifikasi hal-hal unik dan istimewa dalam suatu perusahaan, serta bagaimana membangun keseluruhan keunikan dan keunikan tersebut. Salah satunya terlihat dari perpaduan budaya Bali dengan agama Hindu sehingga terciptalah tampilan Bali dengan tatanan sosial dan keagamaannya. Bali sebenarnya merupakan simbol yang penuh dengan kepentingan agama, sosial dan budaya. Wiana (2003: 4), meskipun ia berpendapat bahwa Bali adalah kristal dan integrasi gagasan filosofis Hindu.

BACA JUGA  Rumus Volume Kubus Jika Diketahui Luas Alas

Salah satu kekayaan budaya Bali yang berkaitan dengan agama Hindu adalah adanya warisan budaya yang tersebar di seluruh wilayah Bali. Warisan budaya adalah warisan budaya takbenda (

) yang mempunyai arti penting dalam sejarah, ilmu pengetahuan, agama dan/atau nasional. Warisan budaya Bali sebagian besar merupakan peninggalan peradaban Hindu dan Buddha, seperti

Dan hal-hal suci lainnya. Warisan budaya ini umumnya masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu, sebagai monumen hidup (

Ribuan Umat Hindu Ikuti Upacara Tawur Agung Kesanga Di Candi Prambanan

Dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Bali, Kabupaten Gianyar merupakan salah satu daerah yang memiliki warisan budaya terbanyak. Berdasarkan rangkuman data cagar budaya/cagar budaya Provinsi Bali per Desember 2019, terlihat di Provinsi Gianyar terdapat 3.872 situs cagar budaya, 27 bangunan cagar budaya, 302 peninggalan budaya, 7 peninggalan, dan 7 peninggalan. Kawasan Cagar Budaya 1 (Daftar Penyimpanan Budaya BPCB Bali Tahun 2019). Kawasan cagar budaya di Provinsi Gianyar yang dimaksud adalah Kali Pakerisan (DAS). Kawasan cagar budaya ini telah menarik perhatian beberapa sejarawan dan arkeolog, seperti W.F. Sutterheim dan Bennet Kempers yang meneliti kawasan ini dari tahun 1920-an hingga 1960-an.

Sutterheim dan Kempers (dalam Artanegara, 2016) membenarkan bahwa Cagar Budaya DAS Pakerisan mempunyai banyak peninggalan purbakala antara lain: Situs Candi Pagulingan, Candi Tirta Empul, Candi Mangening, Candi Tebing Gunung Kawi, Candi Tebing Kerobokan, Candi Pengu-ukuran. . , dan Tebing Candi Tegalliggah. Tak hanya itu, pada pertemuan UNESCO di Pittsburgh, Rusia, pada 29 Juni 2012, Kali Pakerisan (DAS) di Istana Gianyar bersama (1) Catur. Subak Jagad Angga Batukaru di Kecamatan Penebel Provinsi Tabanan dan di Kabupaten Sukasada Provinsi Buleleng; (2) Pura Taman Ayun, Kabupaten Badung; dan (3) Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur, di Kabupaten Kintamani, Provinsi Bangli (Artanegara, 2016).

Yang ditetapkan dan dilindungi sebagai Warisan Budaya Dunia (WCD) di Daerah Aliran Sungai Pakerisan, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, yaitu (1) Pura Tirta Empul, (2) Pura Mangening; (3) Pura Pegulingan; dan (4) Candi Gunung Kawi (Mahastuti, 2018:9). Selain menjadi warisan budaya dunia, empat kali

Warisan budaya global yang ada di DAS Pakerisan juga berkaitan dengan aspek lain, yakni menjaga warisan budaya tersebut. Dalam UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Pasal 1 Ayat 22, menjelaskan:

Proses Masuknya Hindu Buddha Di Indonesia

“Perlindungan warisan budaya adalah upaya aktif untuk melestarikan warisan budaya dan nilainya dalam perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan.”

BACA JUGA  Apa Arti Puguh

Artinya, undang-undang ini memberikan kesempatan kepada pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya untuk menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya, termasuk wilayah perairan Pakerisan. Dalam hal ini peluang terbuka

Yang terletak di kawasan cagar budaya DAS Pakerisan tidak hanya digunakan sebagai tempat suci umat Hindu tetapi juga untuk keperluan lain termasuk wisata budaya.

Agama Hindu dan melestarikan warisan budaya di kawasan Pekerisan, Tampaksiring, Gianyar (Candi Tirta Empul, Pura Mangening, Pura Pegulingan dan Pura Gunung Kawi) sebagaimana dijelaskan pada pembahasan – pendapat.

Jawab Pertanyaan Di Atas Ya Kak☺️​

) dilakukan dalam penelitian ini di situs cagar budaya di DAS Pakerisan, Tampaksiring. Di situs ini, bangunan dan benda cagar budaya menjadi bagian dari sistem upacara dan ritual sehingga berkaitan dengan perlindungan warisan budaya. Konsep perlindungan warisan budaya berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010 Pasal 1 ayat 22 merupakan upaya aktif untuk menjaga keberadaan warisan budaya dan nilainya melalui perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Dengan demikian, pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya termasuk dalam bidang konservasi. Di ketiga bidang ini, kami menjalin hubungan yang sama

Agama Hindu dan pelestarian warisan budaya di Pakerisan, Tampaksiring, Gianyar dapat dianalisis dan dijelaskan secara detail seperti di bawah ini.

Menurut undang-undang no. 11 Tahun 2010, Pasal 1 ayat 23, perlindungan warisan budaya adalah upaya untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan, kehancuran atau kerusakan melalui penyelamatan, perlindungan, zonasi, pemeliharaan, dan pemulihan warisan budaya. Artinya tujuan utama pelestarian warisan budaya adalah untuk mencegah agar warisan budaya tidak rusak, musnah atau musnah. Pada saat yang sama, metode yang mungkin dilakukan adalah penyelamatan, perlindungan, zonasi, pemeliharaan dan pemulihan. Tujuan dan cara tersebut merupakan bagian dari sistem ritual dan upacara adat di cagar budaya kawasan perairan Pakerisan Tampaksiring.

Jika ditilik, seluruh situs cagar budaya yang ada di cekungan Pakerisan (dan khususnya Pura Pegulingan yang juga digunakan oleh sebagian umat Buddha) merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Artinya, situs cagar budaya ini merupakan bagian penting dari sistem keagamaan Hindu yang mencakup struktur dan alat untuk ritual dan upacara. Menjadi platform untuk komunikasi

Proses Masuk Dan Berkembangnya Agama Hin

Agama Hindu

Upacara keagamaan budha, upacara keagamaan buddha, nama upacara keagamaan konghucu, upacara keagamaan kristen, upacara keagamaan, nama upacara keagamaan katolik, upacara keagamaan agama budha, nama upacara keagamaan buddha, upacara keagamaan di indonesia, upacara keagamaan konghucu, perkembangan hindu budha di india, sejarah hindu budha di india

Tags:

Share:

Related Post

Leave a Comment